Good Romance With My Bad Mafia

Good Romance With My Bad Mafia
CHAPTER 1



Pagi hari yang indah, yaya bersenandung ria memandang sekitarnya yang terlihat sepi. Saat ini tepat pukul enam pagi waktu Indonesia barat, namun yaya sudah keluar dari kost an dengan seragam kerja nya, gadis itu akan memulai satu hari baru lagi.


"sejuk!" gumam nya tersenyum cerah, gadis itu menghirup napas dalam-dalam, merasa senang karena pagi ini tak seburuk biasanya dimana banyak kendaraan motor lewat, mencemari udara pagi.


entah mengapa setiap hari senin selalu begini, rasa-rasanya banyak orang yang sengaja memperlambat jam berangkat mereka karena malas, mungkin? Namun biar begitu yaya sangat senang, karena dengan begitu dirinya masih bisa menikmati sejuknya embun pagi bersama udara segar alami yang tak tercemari polusi kendaraan.


yaya sendiri selalu pergi dengan berjalan kaki. Alasan nya? tentu karena yaya tak punya uang untuk membeli kendaraan. Pernah sekali gadis itu kepikiran ingin membeli sepeda bekas di pasar, namun urung ia lakukan karena takut sepeda itu tak bisa bertahan lama digunakan olehnya. Terkadang yaya memiliki sifat bar bar, yang bisa keluar kapan saja. entah itu disaat marah, sedih, atau mungkin takut.


yaya ingat dulu ia pernah membuat mesin cuci bos nya saat bekerja paruh waktu di laundry meledak, ia tak sengaja melakukan itu karena sedang kesal. Dan dampak nya sangat fatal, gadis itu disuruh ganti rugi sekaligus dipecat di hari yang sama saat kejadian.



Semenjak saat itu, yaya tak pernah mau membeli barang elektronik sembarangan, bahkan sangkin takut nya membuat kekacauan, gadis itu rela mencuci baju nya dengan tangan, manual. Selalu menolak ketika ditawarkan memakai mesin cuci yang memang di sediakan di gedung kost nya.


"hm... aku lapar, tapi makan apa ya?" gumam yaya sambil menatap ujung sepatu nya yang tak berhenti melangkah maju.


"roti?" ucapnya pelan, kemudian ia menggelengkan kepala "tak, itu terlalu mahal. jaman sekarang roti enak dijual enam ribu per bungkus, kalau beli dua sudah setara dengan satu kilogram beras"



"puding?" ucapnya lagi seraya menimang-nimang "tidak! itu juga mahal, dan tidak membuat perut ku ini kenyang"


Gadis itu masih berpikir keras, menu apa yang bisa ia beli dengan harga murah sekaligus membuat perutnya aman dari rasa lapar.


"sudahlah, sepertinya tak usah sarapan" cicitnya mengepalkan tangan "minum susu saja, iya! susu. yang kotak kecil, harganya murah"


Yaya melebarkan langkah nya agar cepat sampai menuju minimarket yang sempat terlintas dalam ingatan nya. Minimarket yang tak jauh dari restoran tempat dirinya bekerja.


Gadis itu tersenyum kala melihat tulisan open pada pintu minimarket yang baru saja diputar oleh pekerja disana. ia bergegas masuk dan memilih dua kotak susu berukuran kecil, saat sedang asyik memilih rasa, mata gadis itu tak sengaja menatap label bertuliskan [diskon 50%]


"beli lima kotak besar, harganya cuma 30 ribu? wah..." gadis itu meletakkan dua kotak susu kecil yang sempat ia pegang ke tempat semula. ia beralih mengambil lima kotak susu berukuran besar berbagai varian rasa.


Dengan senyum merekah gadis itu berjalan menuju kasir, ia tak sengaja melirik penjaga kasir tengah berbincang dengan sosok pria berjas abu-abu. Yaya acuh saja, toh itu bukan urusan nya.



gadis itu meletakkan susu kotak itu berjejer di kasir kedua "lima kotak ya kak" yaya hanya mengangguk menanggapi ucapan si kasir.


yaya menatap tangan si penjaga kasir yang sedang memasukkan kelima kotak susu itu ke dalam kantong plastik besar berlogo minimarket itu sendiri.


"totalnya tujuh puluh dua ribu rupiah, kak"


yaya *shock* bukan main mendengar itu, mata nya sampai melotot menatap wajah penjaga kasir "t-tuju puluh?"


"iya kak, tujuh puluh dua ribu. Mau bayar cash atau.." si kasir menjeda ucapan nya saat yaya menarik keluar kotak susu itu dari dalam kresek "tidak jadi. bukankah disana dibuat diskon lima puluh persen? kenapa harganya tetap sama?!" dengus yaya menatap kesal penjaga kasir itu.


sontak suara protesnya menarik atensi sekitar, para pengunjung yang baru masuk pun sampai mengernyit, menyempatkan diri untuk berhenti menyaksikan aksi protes yaya.


"oh, itu... maaf kak, itu sudah lama tidak berlaku. lagi pula itu diskon untuk susu kotak ibu hamil, bukan susu ini" sang kasir masih memasang wajah ramah nya, menata lima kotak susu berukuran besar itu di samping komputer nya.


Wajah yaya sontak memucat, gadis itu malu sekali! ia melirik sekitarnya sekilas, banyak yang menonton dirinya saat ini. "yasudah, aku beli satu kotak saja, yang cokelat" ucap gadis itu akhirnya.


"oh, baik kak. jadi harga nya delapan belas ribu"


yaya mengangguk, gadis itu merogoh saku celana nya, ia menatap nanar uang dua puluh ribu yang sudah lecek itu. uang makan siang nya yang sengaja ia sisihkan akagar bisa lebih hemat. "ini"


"dua puluh ribu, kembalian nya dua ribu ya kak"


yaya mengangguk mengambil uang berwarna abu yang disodorkan sang kasir "terimakasih, ditunggu kehadiran nya kembali"


yaya bergegas pergi, ia tak peduli lagi soal keramahan, ia sangat malu saat ini! banyak sekali mata mengejek yang terang-terangan menghunus dirinya.


apa salah jika yaya ingin mendapat diskon? lagi pula ia begini bukan karena pelit atau kemaruk! ia miskin dan butuh berhemat demi hari esok.



"astaga, kenapa bodoh sekali kau yaya?!" ucapnya merutuki diri sendiri. kaki nya melangkah semakin cepat menuju tempat kerja nya.


ia menarik napas panjang dan tersenyum, berusaha melupakan kejadian memalukan hari ini. "Semangat yaya! Tuhan memberkati mu selalu" ucapnya menyemangati diri.


\*\*\*\*\*\*\*


"kenapa tadi?"


kasir itu menunduk dalam, saat ini ia sedang berhadapan langsung pada bos nya, tampak sekali jika kasir itu ketakutan. Bagaimana tidak? bos nya sedari tadi menatap nya tajam seolah hendak melenyapkan nyawa nya detik itu juga!


"ada yang mau mendapat diskon, b-bos"


"jelaskan yang benar!"


Bahu kasir itu gemetar, name tag nya sampai melorot, entah sejak kapan. "Ada seorang wanita ingin membeli susu kotak siap minum, dia salah paham. Dia membaca tulisan diskon lampau yang ditujukan untuk susu ibu hamil yang kebetulan stok nya habis saat ini, bos"


"bungkus susu yang diambilnya tadi, siapkan cepat!"


Kasir itu mengangguk, kemudian berlari menuju tempatnya lagi.


Arlan mengurut pelipisnya sejenak, ia benar-benar pusing. Badan nya masih terdapat banyak luka, pikiran nya berkecamuk, bisnis kecil nya banyak digerayangi tikus jelata hingga hari ini ia terpaksa turun tangan untuk mengecek keadaan. Hingga ia bertemu dengan Yaya, gadis baik hati yang telah menyelamatkan nyawanya kemarin.


Helaan napas terdengar, ia tak menyangka akan bertemu lagi dengan gadis cantik itu. Dan ia semakin pusing karena pertemuan nya tak disadari yaya, karena gadis itu terlalu malu dengan kejadian di kasir pagi ini.



"Semiskin apa kau? sampai berkilat diskon begitu" gumam Arlan menatap langit-langit ruangan nya saat ini.



Tak mau larut lebih lama lagi. Arlan beranjak menuju mobil nya, ia menyempatkan diri mampir sejenak di meja kasir guna mengambil barang yang ia inginkan. Setelahnya pria itu pergi bergegas menancap pedal gas mobil mewah kesayangan nya entah kemana.



|"menurut informasi, itu seragam pekerja di restoran seafood blok sebelah minimarket tuan"


"hm"


Arlan mematikan sambungan sepihak, pria itu fokus mengendarai mobilnya menuju restoran yang dimaksud anak buah nya barusan.


Setibanya di parkiran, Arlan tersenyum mendapati sosok gadis yang ia cari. Di depan restoran, tampak yaya sedang berjalan membawa kantong sampah di genggaman nya.


Arlan keluar dari mobil nya, pria itu berjalan memasuki restoran tanpa menyapa yaya yang sedang fokus memasangkan plastik hitam besar itu pada tong besar di depan restoran.


"Selama— astaga. Selamat pagi Tuan Roverald. Ada yang bisa saya bantu?"


Sebelah alis Arlan terangkat, ia menatap sekilas wajah pria paruh baya berkemeja panjang dengan dasi yang rapih itu, bisa ia tebak kalau pria buncit itu adalah pemilik restoran kecil ini.


"Siapkan satu meja di pojok. kosongkan sekitarnya, saya tak mau keramaian" titah Arlan sembari melangkah menuju meja yang ia mau.


Pria buncit itu berlari menuju meja-meja yang untung nya masih kosong, ia mengelap meja itu hingga mengkilap menggunakan dasi nya sendiri, entah ia sadar ataupun tidak, Arlan tak perduli.


Bobi—pria buncit pemilik restoran ini kembali ke meja kasir, ia melirik semua pekerja wanita nya, meneliti dengan seksama mulai dari kerapihan, kebersihan, hingga paras pekerja nya itu.


yaya tersenyum kaget saat ia baru saja masuk tiba-tiba Bobi menyerahkan buku menu ke tangan nya "tapi bos, saya harus cuci tangan dulu. saya baru saja memegang sampah"


Bobi berdecak "cepat sana cuci tanganmu hingga bersih! setelah itu pergi jumpai meja itu, jangan buat malu. Bersikap ramah!"


"siap bos!"


yaya berlari menuju dapur, dirinya bergegas mencuci tangan hingga bersih, setelah nya ia pun memakai apron dan bergegas menjumpai orang yang dimaksud bos nya tadi.


Langkah yaya melambat seiring dengan tatapan matanya yang fokus menatap sosok itu. ia kenal pria ini! pria yang ia tolong kemarin malam, tidak salah lagi, itu Arlan!


Arlan meletakkan handphone nya. mata tajam nya menatap gadis yang berjalan lambat mendekatinya "cepatlah, waktuku tak banyak" ucap Arlan. Santai namun penuh penekanan.


Yaya mengangguk "maaf, mau pesan apa tuan?" tanya gadis itu bersikap profesional, ia tak mau menyapa akrab pria itu. Yaya mengingat segala pesan/ himbauan dari ketiga sahabatnya untuk tidak terlalu ramah pada orang asing seperti Arlan.



Sebelah alis pria itu menukik tajam, Arlan menatap yaya tanpa ekspresi. apa.gadis itu lupa dengan dirinya?


"Tak perlu" tolak Arlan kala tangan Yaya menjulurkan buku menu padanya "bawakan aku menu spesial untuk sarapan. Sepaket lengkap dengan minuman hangat"


yaya mengangguk patuh, gadis itu lekas kembali ke tempat nya tanpa mengucapkan apapun lagi.


"pesan apa?" tanya Bobi penuh binar, jarang sekali ada tamu spesial kalangan atas seperti Arlan sudi memijakkan kaki di restoran kecilnya ini.


"Menu sarapan, sama minuman hangat" jawab yaya se ada nya


"cepat ke belakang, suruh koki buat pesanan itu"


yaya mengangguk saja, kakinya melangkah ke belakang, menuju dapur tuk berbicara pada koki restoran ini.


"Menu sarapan spesial?"


yaya mengangguk "buatkan yang terbaik. itu perintah bos. jangan lupa minuman hangat nya"


Koki itu mengangguk. tangan nya telah ia pasangkan sarung tangan plastik yang biasa ia gunakan saat memasak "minuman apa?"


yaya mengandik acuh "entahlah. aku pun tak tahu, buat saja yang menurutmu nikmat di sesap saat sarapan"


"baiklah, kau tunggu saja di depan. Nanti kalau sudah jadi, aku akan memanggilmu"


Yaya mengangguk, gadis itu kembali menuju meja kasir, berdiri di sebelah Bobi yang senantiasa menatap Arlan dari kejauhan.


"Menurut mu, mengapa orang kaya sepertinya mau berkunjung ke tempat ini?"


yaya mengernyit bingung mendapati pertanyaan tiba-tiba dari bos nya "mungkin dia kelaparan, butuh makan" jawab gadis itu asal.


Bobi mengangguk "bisa jadi. tapi, banyak restoran besar di daerah sini, kenapa tuan Roverald memilih restoran kecil?" tanya nya lagi membuat yaya dongkol sendiri.


"jangan tanya aku. jika penasaran, tanya saja langsung ke orangnya"


Bobi mendelik sinis "kau kira aku berani?"


yaya menghela napas sejenak "yasudah kalau bos takut padanya, jangan terlalu penasaran tentang orang itu"


Bobi mengangguk "benar, bahaya kalau dia risih, bisa runtuh restoran ini" ucapnya nelangsa menatap seluruh bangunan restoran miliknya.


******


Koki itu tersenyum ramah menatap yaya yang baru saja mengambil nampan berisi pesanan spesial pagi ini.


"semoga yang pesan, suka masakan itu" ucapnya.



yaya meletakkan satu persatu pesanan Arlan di hadapan pria itu "silahkan.... Selamat menikmati Tuan"


Arlan mengerut kesal, kenapa gadis itu berperilaku asing? dan kenapa Arlan tak suka akan perubahan sikap gadis itu?!


"Tunggu!" cegah Arlan, pria itu turut menggenggam lengan yaya yang hendak pergi meninggalkan mejanya.


yaya melirik genggaman itu, secepat kilat ia menepis tangan kekar Arlan hingga tautan nya terlepas "maaf, ada apa tuan?" tanya gadis itu dengan sopan.


Arlan menatap lekat wajah jelita itu "kau tak ingat dengan ku?" tanya nya


yaya dengan yakin mengangguk "tidak, saya ingat anda"


entah sadar atau tidak, Arlan baru saja menghela napas lega "kenapa kau kaku sekali?" ucapnya menatap datar pada yaya yang enggan menatap wajahnya.


"maaf, saya sedang bekerja, dan anda adalah tamu istimewa bagi bos saya" ucapnya diakhiri lirikan kilat menatap Bobi yang sedang memantau nya di ujung sana.


Arlan mengikuti arah tatapan gadis itu hingga Bobi panik, pria buncit itu tersenyum lebar sambil mengangguk seperti orang tak waras di tempat nya.


"Apa dia memaksa mu begini?" tanya Arlan memastikan.


yaya mengangkat bahu acuh "saya bisa dipecat jika sok akrab pada pengunjung spesial di restoran ini"


"berhenti bersikap konyol! kita saling kenal, jangan membuat mood pagi ku hancur yaya" ucapnya dengan lantang membuat Yaya terjengkit kaget, mata gadis itu melotot menatap wajah tampan Arlan, ia melirik sejenak ke arah bos nya yang tengah memelototi dirinya.


Bahaya, bisa-bisa yaya akan diceramahi dan pulang terlambat "tolong, jangan memaksa orang sesuka mu. Lihat! bos ku marah, jika sampai aku dipecatnya, kau akan menjadi musuh pertamaku di dunia ini, Arlan"


Arlan diam, wajah nya tetap datar, santai seperti tak terjadi apapun "kau baru saja menantang ku?" tanya nya pelan, nyaris seperti bisikan.


kening yaya mengerut tipis "apa maksud mu?"


"kau mengajak ku bermusuhan?" Bukan nya menjawab Arlan justru balik melempar tanya.


"bukan begitu, Ck. terserah lah. Apa tujuanmu kemari? mau mengganggu ku?"


Arlan sontak tertawa, Yaya dan seluruh isi bangunan ini terkesiap menyaksikan tawa singkat itu. sangat menawan!



"Duduklah, aku ingin bicara sebentar" titah Arlan yang langsung dituruti yaya. Dapat gadis itu lihat Bobi beserta rekan kerjanya yang lain menganga menatapnya duduk semeja dengan Arlan.


"apa?" desak gadis itu enggan berlama-lama dengan Arlan.


Arlan sendiri hanya terkekeh samar "kau butuh diskonan susu?" tanya nya serius.



Raut wajah yaya sontak muram mendengar pertanyaan gila pria itu "kau tau dari mana?" tanya nya menahan diri untuk tidak emosi pada pelanggan istimewa ini.


Arlan mengandik acuh "aku hanya mendengar keributan kecil di tempatku tadi pagi"


"kau? pemilik minimarket itu?!"