
Selepas dari kolam, mereka lanjut berkeliling melihat area halaman belakang. Disana yaya tak juga berhenti kagum, pasalnya disana terdapat kebun bunga yang sangat indah, ada pula jejeran pohon mangga yang ditanam oleh penjaga kebun, katanya agar halaman belakang itu tak terlalu kosong.
Yaya senang ternyata rumah ini tak se membosankan perkiraan nya. Banyak bagian rumah ini yang bisa ia jadikan sebagai penghantar mood bagus, ada perpustakaan, ada kolam renang, kebun bunga di taman belakang, dan jangan lupakan dapu yang selalu disediakan makanan lezat buatan koki rumah ini.
"Sepertinya seminggu kedepan aku tak akan kenapa-napa" gumam nya lirih menatap pintu masuk rumah itu. Selepas berkeliling Ani dan Nila kembali mengajak yaya masuk, karena itu memang sudah peraturan nya. Dilarang berlama-lama diluar rumah.
"Nona, apa ada yang pegal?" tanya Ani menatap yaya yang Berjalan di depan nya.
Yaya menggeleng tanpa menoleh, entah mengapa tiba-tiba mood nya jelek, padahal keinginan nya sudah tergapai, apa yang membuat yaya seperti ini? Ah, menyebalkan sekali.
"Ani, Nila kalian tahu kenapa Arlan suka keluar rumah seperti sekarang?" tanya yaya sembari merebahkan diri di sofa ruang keluarga itu.
Kedua pembantu itu menggeleng "tidak nona, perkiraan kami... Tuan bos pasti bekerja" jawab Nila jujur. Dirinya bekerja di rumah ini baru hitungan tiga tahun, mana mungkin ia bisa tahu segala hal tentang bos nya, ditambah lagi, dirimu hanyalah pembantu.
"Ah, kalau kau Ani? Apa kau tahu sesuatu tentang Arlan?" tanya nya lagi menunjuk ke arah Ani yang berdiri di sebelah Nila.
Ani menggaruk siku nya merasa gugup, haruskah ia menceritakan kisah bos mengerikan nya itu? Ani terlahir dari rahim pembantu di rumah ini, semasa kecilnya Ani sudah tinggal dan membantu ibu nya bekerja di belakang sebagai tukang kebun. Bisa dibilang Ani itu lebih tua tujuh tahun dari Arlan, ia juga pernah mengenal kedua orang tua mafia kejam yang sialnya adalah bos nya sendiri.
"Ani?, kau mendengar ku kan?"
Ani mengangguk "e-entahlah nona, sepertinya tuan keluar rumah untuk bekerja, dan..." Wanita itu sengaja menggantung ucapan nya
Yaya duduk dengan posisi tegap, menatap penuh ke ingin tahuan dari kalimat itu "Dan?.... Dan apa Ani?"
Ani menunduk "mungkin, tuan ingin bersenang-senang. Maksud s-saya, klubing, makan diluar atau semacam nya nona"
Yaya mengangguk, sejenak ia berpikir apa pria itu sangat kebosanan di rumah ini? Tapi, hey! Sekarang sudah ada dirinya yang dipaksa tinggal di rumah mewah Arlan, apakah pria itu tak benar-benar memiliki rasa untuk nya? Apa Segal kebaikan Arlan, dan pujian pria itu hanya sebatas obsesi semata?
"sudahlah, tak mengapa. Lagi pula setelah seminggu ini kau akan bebas darinya bukan? Tenang Yaya, kau pasti bisa" batin yaya menatap langit-langit rumah itu.
"Apa nona ingin sesuatu?"
Yaya mengangguk, "tolong buatkan aku teh, Nila"
Nila mengangguk "baik nona!"
Yaya beralih menatap Ani, entah mengapa instingnya Mengatakan jika Ani lebih tahu tentang bos nya dibanding dengan Nila. Hingga yaya pun jadi gencar ingin menanyakan banyak hal pada wanita itu.
"Ani, apa... Kau sudah menikah?" tanya yaya pelan
Ani menggeleng "belum nona" senyum kecut ia berikan.
Yaya mengangguk "kenapa belum? Apa kau tak ingin berkeluarga?"
"Aku, tak bisa nona... Jika aku menikah, bagaimana pekerjaan ku? Lagi pula, utangku pada tuan bos sangatlah banyak"
Yaya menepuk tempat duduk di sebelah nya mengisyaratkan Ani untuk duduk "kau punya hutang? T-tapi... Untuk apa kau berutang?"
Ani menolak duduk.di sebelah yaya "saya di bawah saja, Nona" ia mulai duduk di lantai berseberangan dengan Yaya "S-saya harus mengganti uang pengobatan kedua orang tua saya dulu, nona. Dulu, ayah dan ibuku sakit, dan Tuan bos lah yang membayar uang pengobatan nya"
Yaya mengangguk paham "jadi itu alasan mu terjebak di rumah ini?"
Ani mengangguk "begitulah non, dan saya pun harus giat bekerja supaya bisa mengirim sedikit dari gaji saya ke pada orang tuaku di kampung"
Yaya tersenyum "kau anak yang baik, Ani. Aku salut denganmu!"
Ani menggaruk tengkuknya yang tak gatal, merasa senang sekaligus malu sendiri, dipuji begitu oleh majikan cantiknya.
"Nona, apa boleh saya balik bertanya?"
"Tentu! Tanyakan saja"
Ani tersenyum, ia senang ternyata yaya sangatlah baik "apa nona berencana menikah dengan tuan bos?"
Yaya mendengus, ia memutar bola mata nya "Tidak, aku tak mau hidup dengan pria pemaksa seperti dia"
Ani mengangguk kaku "Ah, maaf nona saya lancang bertanya hal itu"
Yaya mengangguk "tak masalah. Hm, aku ingin istirahat, ah tidak-tidak... Kurasa aku ingin tidur sampai besok. Jangan ganggu aku, bisa Ani?"
Ani mengangguk entahlah ia juga bingung memikirkan perkataan nona nya tadi.
"Ah, Aku ingin jajan kali lima" ia beranjak pergi
Ani dengan cepat mengejar nona nya itu "Nona, jangan! Tuan bos melarang anda—"
"Aku hanya ingin jajanan kali lima. Apa tak boleh? Cih pelit sekali" seloroh yaya merasa kesal.
Ani menunduk dalam "kalau nona bersikaras ingin pergi, kami bisa dalam bahaya nona"
"Ayolah, Ani, aku hanya ingin membeli beberapa jenis jajanan di sore yang indah, apa tak boleh?"
Ani mengangguk, ia merogoh saku celana nya "t-tapi kita kabari tuan bos dulu" ujarnya gugup
Yaya mengangguk pasrah, sial rencana nya kali ini gagal lagi, ia melirik sekitarnya, ada beberapa bodyguard yang berdiri tegap seperti patung, dan lihat di telinga bodyguard itu ada earphone yang menyala, yaya yakin itu tersambung langsung pada Arlan.
Ah, ternyata ada guna nya juga ia menonton film action laga, jadi sedikit banyaknya ia tahu kegunaan alat-alat sadap yang ada di dekatnya.
"Berikan padaku, aku akan meminta izin langsung padanya" yaya merampas handphone milik Ani dan membawa nya pergi ke taman belakang.
Dering ke empat, masih belum diangkat.. Yaya jadi gugup sendiri, ada apa dengan Arlan? Apa pria itu baik-baik saja diluar sana?
"katakan!"
Ah yaya tersenyum saat Arlan berucap dari seberang sana, meskipun terdengar sangat ketus, tapi yaya memaklumi nya. Ini kan ponsel Ani.
"Arlan, ini yaya"
Diseberang sana Arlan langsung bergegas mencari tempat sunyi agar bisa dengan jelas mendengarkan semua ucapan gadis nya. "Yaya? Itu kau, sayang?"
Yaya memutar bola mata jengah, ah tiba-tiba si singa jantan ini jadi jinak "iya, ini aku. Arlan, apa boleh aku keluar?"
"Tidak! Jangan coba-coba untuk kaburr yaya"
"Aaaa!" yaya merengek seraya menghentak kaki ke tanah seperti anak kecil "yaya bukan ingin kabur! Hiks, kenapa pikiran mu selalu negatif padaku? Hiks" yaya mulai berpura-pura menangis, itu jurus andalan nya.
Dan lihatlah, sekarang Arlan gelagapan di sana, pria itu tak henti nya membujuk yaya agar berhenti terisak "hiks, yaya... Yaya marah! yaya tidak akan mau berbicara lagi padamu!"
"Hey, sayang... Tenanglah, ok katakan, kau ingin apa? Hm? Jangan menangis"
Yaya tersenyum licik, ia melirik sekitarnya, sepi. Aman sekali ia bisa bebas berekspresi "Yaya, hiks..."
"Iya sayang? Yaya mau apa?"
"Mau keluar, beli makanan di pinggir jalan"
"No! Itu tidak higienis sayang, kau bisa sakit"
Yaya kembali merengek marah "yasudah! Yaya marah! yaya mogok makan!"
"Angel..." Arlan berujar dengan suara rendah nya yang penuh akan penekanan
Yaya mengerjab, padahal ia hanya berbicara lewat sambungan telepon, tapi kenapa ia bisa jadi takut begini?
"Yaya? Kau masih disitu?"
Yaya mengangguk meski tak bisa dilihat Arlan "iya" jawabnya pelan sekali membuat Arlan khawatir disana.
"Kau baik-baik saja sayang? hey, jawab aku! Jangan buat aku khawatir padamu"
Yaya berdecak "apa lagi? Bukankah sudah jelas aku tak boleh membeli jajanan itu? Hiks, sudahlah... Aku mat—"
"TIDAK! jangan dimatikan, aku masih ingin mendengarkan suaramu"
"aku lelah, sudah ya? Aku ingin kembali istirahat saja ke kamar"
"Ya sudah, bawa handphone itu dengan mu, biarkan aku men—"
"Aku lelah Arlan! Sudahlah! Aku muak dengan semua kekangan mu ini!"
Tut...
Yaya masuk kembali ke dalam, ia mengembalikan handphone Ani, kemudian berjalan menaiki undakan tangga sambil menangis, cukup ia sudah lelah dipermainkan seperti ini! Ia menangis murni karna kesedihan nya yang sangat lelah terjerat oleh pria itu.
Yaya membuka pintu, masuk kedalam kamar nya Lalau membanting pintu nya dengan keras, kedua pembantu itu terdiam di depan kamar yaya, saling menatap dengan pandangan iba.
"Semoga nona baik-baik saja"