Good Romance With My Bad Mafia

Good Romance With My Bad Mafia
CHAPTER 57



"Sayang... Sini dong, kenapa aku dicuekin begini?" yaya mulai membujuk Arlan dengan lembut agar pria maung itu luluh.


Bibir Arlan berkedut menahan senyumnya, tidak! Tidak boleh luluh, kalau gagal ia tak bisa melihat yaya nya yang lucu saat sedang menangis, ia rindu yaya yang imut, ia rindu saat gadis itu berucap seperti anak kecil, Arlan suka yaya nya yang lugu.


"Aku di cuekin, nih?" tanya yaya mulai gemas, ingin marah, tapi ia masih sadar situasi, tidak bisa!


"Arlan... Aku pulang aja kalau gini" ia mulai bergerak turun dari ranjang. Arlan dengan cepat menarik gadis itu kembali berbaring di sebelahnya "No! Jangan pergi lagi" tolaknya kesal, niat hati ingin menatap yaya menangis lucu malah begini!


Yaya berdecak "kenapa dicuekin? Kalau cuek gitu lebih baik aku pulang saja"


"Jangan lah! Aku masih rindu, kamu gak boleh kemana-mana!" ia memper erat pelukan nya pada gadis itu.


Yaya mengelus rambut Arlan "kenapa tadi sampai merajuk? Lebay sekali!" cibir yaya


Arlan mendelik tak suka "siapa yang tak merajuk di abaikan begitu? Aku sedang sakit, dan kamu fokus sama handphone. Salah aku merajuk?"


Yaya terdiam, ah... Rasanya lelah sekali mengurus pria yang satu ini. Yaya akhirnya mengangguk saja, kali ini ia mengalah lagi "Maaf, tadi aku hanya memberi kabar saja pada.orang rumah"


Arlan mengangguk, "kembali padaku, apa kamu mau?"


Yaya membatu, ia bingung ingin berkata seperti apa. Ingin langsung menerima, tapi ia takut terkesan murahan, ingin menolak tapi... Untuk apa lagi? Toh masalah mereka sudah selesai kan?


"Yaya?... Kembali lah padaku, aku sungguh mencintai kamu"


Yaya tertegun saat Arlan memasang kan kembali cincin pertunangan mereka yang sempat ia lepas sebelum pergi kabur "kau masih menyimpan ini..." gumam yaya menatap jemari nya.


Arlan mengangguk bangga "tentu saja, aku bahkan tak pernah membuka cincin ini dari tangan ku" ia menunjukkan tangan nya sendiri yang juga memakai cincin couple berhias berlian itu.


"Jadi... Kamu mau kan?" tanya Arlan kembali pada maksud awalnya.


Yaya mengangguk "tapi kau harus berjanji... Untuk selalu terbuka akan apapun padaku, jujur! Jangan pernah membohongi ku, jika kau mengingkar janji, aku akan pergi, dan tak akan kembali lagi"


Arlan mendelik "aku bisa mengejarmu kemanapun kau pergi, sayang"


Yaya tersenyum, ia menggelengkan kepalanya "jika aku mati, aku tak yakin kau bisa mengejar ku"


"Jangan berucap seperti itu! Aku tak suka!"


Yaya tersenyum lagi, ia mengelus sayang pipi Arlan "siapa yang bisa melawan kehendak-Nya? Mungkin di dunia ini kamu bisa berkuasa akan segala yang kamu suka, kamu bisa melakukan apapun yang kamu mau.... Karena kamu kaya, kamu punya kekuasaan, kamu punya kendali"


Arlan diam, ia menatap lamat gadisnya. Entah mengapa ia selalu suka saat di nasehati seperti ini oleh gadisnya. Begitu lembut juga terdengar tegas di saat bersamaan. Sosok keibuan yaya begitu terasa, membuat kekosongan yang selama ini tak pernah Arlan rasakan kini berangsur sembuh. Yaya segalanya untuk Arlan!


"Jika Tuhan mengambil ku, kamu bisa apa?"


Arlan menggelengkan kepalanya lemas, seketika ia jadi takut kalau hal itu sungguh terjadi. "Tidak boleh, kamu... aku yang harus pergi lebih dulu, aku tak akan bisa hidup tanpa kamu"


Yaya terkekeh-kekeh "kau sangat berlebihan.. Sebelum bertemu dan mengenal ku, kau sudah hidup, Arlan. itu tandanya hidup mu, tak bergantung pada ku" yaya kembali mengusap rambut Arlan penuh perasaan "Kita ini ciptaan Tuhan, kita ini milik-Nya. Hanya kepada-Nya lah kita bergantung, paham sayang?"


Arlan mengangguk "tapi aku mau, selagi bisa... Tetaplah di sisiku" pinta Arlan dengan tulus, ia mengecup dagu gadisnya sekilas.


Yaya mengangguk "kalau kau tidak mengecewakan aku, aku tetap bersama mu"


***


Arlan terbangun di tengah malam. Ia bermimpi buruk lagi, selalu saja begini! Ia menatap jam di atas nakas, tepat jam dua belas malam. Ia mengusap wajahnya kasar, bayang-bayang kematian ibunya kembali hadir.


Ia terus memikirkan bagaimana sakit nya sang ibu yang saat itu siksa oleh musuh bebuyutan Daddy nya, ia ingin menangis saat mengingat jasad sang ibu yang dengan tega nya di buang ke laut tuk dijadikan mangsa para ikan.


Arlan teringat, ini tepat tanggal itu, tanggal dimana kematian ibunya terkabar. Ia jadi teringat kembali saat dimana Daddy nya pulang dengan wajah sembab berlinangan air mata, tangis Daddy nya kala itu pecah saat mendapati nya sedang bermain di ruang keluarga bersama sang Nenek.


Arlan kecil saat itu tidak paham, jadilah ia hanya tertawa saat Daddy nya memeluk tubuh mungil nya dengan erat. Dan sekarang... Semua tawa itu telah lenyap termakan duka, setiap memperingati kematian ibunya Arlan selalu murung, ia juga sering bermimpi buruk.


Arlan tersentak kala merasakan gadisnya memeluk tubuh kekar itu dari belakang, yaya ikut terbangun rupanya. Dapat Arlan rasakan usapan lembut yang gadis itu beri di dada nya "It's okay... Had a bad dream, hubby?" ucap yaya lembut.


Arlan mengangguk, ia segera berbalik, lalu memeluk erat tubuh mungil gadisnya. sekarang ia tidak sendirian lagi! Ada yaya yang selalu menemani nya, selalu sabar menghadapi nya, kekasih cantik yang amat baik dan tulus hati nya. Kekasih yang bisa ia jadikan sahabat, teman, bahkan orangtua. Arlan bersyukur bisa memiliki gadis ini.


"Mommy..." gumam Arlan dengan mata memejam erat, air matanya menetes tanpa bisa ia cegah.


"Jangan bersedih lagi... Ada aku di sini, okay?"