
Di dalam mobil, Lan tak henti-hentinya tersenyum, bagaimana tidak? Kini ia mengendarai mobil dengan Ayashya yang berhasil ia bawa kembali pada tuan bos garang nya itu.
Lan duduk di depan sebagai supir dan Yaya duduk di jok belakang dengan nyaman, ini mobil pribadi milik Arlan yang sengaja ikut dibawa ke negeri ini, kata Arlan agar dirinya bisa nyaman berkendara kemana saja.
"Nona, apa nona ingin sesuatu?" tanya Lan sedikit melirik Nona nya dari spion, sedari tadi yaya menatap keluar jendela dengan raut tak tenang. Kenapa?
Yaya mengangguk "bawa aku ke toserba, aku ingin beli buah dan yang lain nya untuk Arlan"
Lan tersenyum, baik sekali nona nya itu "Baiklah, nona, saya akan putar balik"
***
Lan berdiri tegap di belakang yaya yang sedari tadi sibuk memilih buah untuk dibawa nya. Lan dengan sepenuh hati menjaga Nona nya itu, tak jarang ada pembeli asing yang mencoba berkenalan dengan Yaya namun dengan cepat Lan menjauhi orang-orang genit itu dari yaya.
"Nona sedang memilih buah, tuan" lapor Lan sedikit berbisik, ia melakukan perbicaraan dengan Arlan menggunakan earphone tanpa kabel yang terpasang di telinga nya. Sejak baru saja tiba di Toserba, Lan langsung menghubungi Arlan dan memberi tahu segalanya, ia juga memberikan arahan agar Arlan bisa diajak bekerja sama nanti.
Arlan senang bukan kepalang, ia menuruti segala perkataan asisten nya itu, sesekali Arlan menanyakan kegiatan Yaya pada asisten nya.
"Lan, apa kalian menginap di hotel?" tanya yaya
Lan mengangguk, "hotel bintang sepuluh. nona"
Yaya tergelak mendengarnya "kau lucu, Lan" ujar yaya sembari geleng-geleng kepala.
Lan tersenyum "hotel kami milik keluarga tuan Roverald, disana sangat mewah dan luas, bahkan di tempat tuan, ia memiliki dapur besar nona, keren sekali bukan? Di negara kelahiran ku, mana ada yang begitu"
Yaya mengangguk saja "Apa Arlan selalu masak? Atau delivery?"
Lan diam sejenak, "tuan selalu menyuruh saya membeli makanan cepat saji, Nona"
"Disana, alat masak nya lengkap?" tanya yaya
"Lengkap nona"
Yaya mengangguk mengerti, ia mulai mengambil sembako yang kiranya bisa ia gunakan memasak nanti di hotel tempat Arlan menginap. Setidaknya untuk beberapa hari ini, yaya akan memasak makanan sehat tuk dikonsumsi Arlan.
...****************...
"Kita sampai Nona" Lan menoleh ke belakang, menatap yaya yang hendak keluar dari mobil.
Ia bergegas keluar lebih dulu, lalu membuka kan pintu untuk yaya, setelahnya ia membawa gadis itu menuju kamar Arlan.
"Lan, kau bilang ini hotel?"
Lan mengangguk, kini mereka berada di dalam lift dengan dua bodyguard yang menjaga "ini apartemen, Lan.. Astaga kau ini" sanggah yaya menggeleng heran.
Lan mengangguk kaku "benarkah?" ia menggaruk kening nya yang mulus "saya tidak tahu, Nona" Ujarnya malu
Yaya terkekeh geli, Lan itu seorang bodyguard terlatih, ia selalu menginap di asrama sebelumnya, dan kebetulan Lan belum pernah memiliki bos yang suka ke apartemen.
"Lewat sini, nona"
Yaya mengangguk, ia mengikuti instruksi Lan hingga kini mereka sudah berada di dalam kamar Arlan. Yaya terdiam di tempatnya, ia menatap Arlan yang terbaring pucat dengan selang infus yang terpasang di tangan pria itu. Separah ini?
Yaya jadi ingat saat beberapa hari lalu Arlan tertidur di halaman rumah seperti gembel hanya karena dirinya, ah yaya jadi merasa jahat sekarang.
"saya permisi, nona. Jika butuh sesuatu, saya di depan"