Good Romance With My Bad Mafia

Good Romance With My Bad Mafia
CHAPTER 24



Arlan mengangguk "dia lebih emosional akhir-akhir ini" jawabnya jujur, tangan kekarnya kembali mengelus sayang pipi yaya yang masih terlelap.


"Dugaan saya tepat, nona mengalami stress ringan, jangan paksa nona melakukan sesuatu yang tidak ia sukai, dan juga... Nona pingsan salah satu penyebabnya karena pola makan nya tak imbang, Nona butuh asupan yang cukup, bukan hanya tubuh, jiwanya juga perlu"


Arlan mengangguk paham "siapkan obat nya" titah Arlan.


"Masalah obat, saya rasa itu tak perlu tuan"


Tak!


Dokter itu menutup kotak peralatan medis nya "anda hanya perlu menjadi teman yang baik, mungkin anda bisa menghibur nona? Atau mengajaknya menghabiskan waktu bersama.. Buat nona bahagia, mood wanita memang uring-uringan"


Arlan berdecak "sudahlah, kau bisa pergi!" Arlan tak lagi mau menghiraukan ucapan dokter yang terkesan menasehati nya seperti ibu-ibu.


Dokter itu hanya bisa mengangguk, lantas ia bergegas pergi dari tempat itu.


***


Yaya menatap kosong pada langit-langit kamar nya, ia sudah sadar sejak beberapa menit yang lalu, dan selama itu pula Arlan tak henti memberikan kecupan di tangan nya juga pertanyaan-pertanyaan kecil yang pastinya tidak akan dijawab oleh gadis itu.


Yaya memejamkan matanya sesaat, ia ingin mengadu pada ibunya kalau ia sangat tersiksa selama ini, mulai dari kesepian hidup sebatang kara, ditinggalkan dan di campak kan oleh saudara persepupuan gadis itu, semenjak kedua orang tua nya meninggal, yaya dipaksa untuk tinggal di panti asuhan kecil di pinggiran kota.


Tak ada yang mau merawat yaya, padahal keluarga yaya yang lain tergolong banyak dan juga kaya, entah mengapa mereka tega menolak anak kecil malang seperti yaya kala itu. Belum selesai sampai disana, yaya sering kali merasa kelaparan saat berada di panti tempatnya tinggal, sebab panti itu memang kecil, isinya pun sedikit, pengurus panti bisa dihitu g menggunakan jari, dan hanya sedikit orang yanv mau bersedekah pada panti asuhan itu. Mereka tak mempunyai donatur tetap, maka dari itu kondisi keuangan panti kurang memadai untuk memberi makanan 4 sehat 5 sempurna bagi para anak asuhan mereka.



Kehidupan yaya sangat menyedihkan, gadis itu terbiasa dingin tanpa ekspresi, irit bicara pada orang asing dan enggan berbasa-basi pada orang lain. Hingga pada akhirnya yaya tumbuh menjadi gadis cantik seperti sekarang ini, ia punya paras yang elok, suara indah, juga rambut bergelombang indah.



Saat Yaya lulus dari sekolah asrama panti, ia pun keluar dari panti itu, gadis cantik itu bertekat ingin menjadi gadis yang mandiri, biarlah ia keluar dari panti asuhan yang sangat ia kasihi, tempat ia berbagi suka duka dengan anak-anak lain nya, ia akan berubah, menjadi gadis kuat yang bisa hidup tanpa menyusahkan pihak lain.


Bertahun-tahun yaya luntang-lantung mencari uang tuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Sakit! Sakit sekali menjadi dirinya, tak punya keluarga, tak punya banyak uang, pendidikan nya pun hanya sebatas SMA, ia tidak bisa melanjutkan jenjang yang lebih lagi.


Terkadang yaya menangis diam-diam saat melihat Roma, meimei, dan Ella yang setiap hari di sibuk kan dengan tugas kuliah mereka, yaya ingin merasakan belajar seperti mereka. Yaya rindu bersekolah, ia rindu mendapat nilai beragam setiap hari nya.


Dan kini, kehidupan yaya semakin runyam saat Arlan masuk dan memporak porandakan dunia kecil yaya, si gadis malang.



"Arlan..." yaya mencoba mengatur napasnya yang entah mengapa terasa sesak.


Arlan yang semula sedang asyik mengecup tangan lentik gadis itu langsung berbinar menatap gadisnya yang kembali mau berbicara padanya.


"Yes, my Angel?"