
Arlan baru saja tiba di mansion nya, dengan langkah lebar pria itu menuju kamar sang gadis. Para pekerja yang melihatnya hanya mampu mengulum senyum. Semoga semua baik-baik saja.
"Baby... Aku pulang" sapa Arlan saat masuk, ia tersenyum menatap gadisnya yang sedang duduk membaca Novel di atas kasur.
Yaya melirik sekilas, kemudian ia kembali fokus membaca novel di tangan nya. Arlan mengernyit tak suka, kenapa gadisnya terlihat cuek?
"Baby... Kamu tidak mendengar ku?" tegur Arlan berusaha tetap lembut, ia melepas jas juga dasi nya. Kemudian ia melompat berbaring di sebelah gadis itu.
Dengan santai Arlan merampas Novel yang sedang dibaca gadis nya, lalu pria itu melemparnya asal hingga jatuh naas di lantai. "Baby... Jangan baca itu lagi! Aku tak suka kamu lebih perhatian dengan benda itu!"
Yaya diam, kening gadis itu mengernyit tak suka.
"Kenapa wajah nya begitu? Marah?" tanya Arlan panik, pria itu bergegas duduk menghadap gadisnya.
"Baby? Why? Aku ada salah?"
Hening, masih saja Arlan di abaikan oleh gadis itu. Yaya melirik nakas, ia tersenyum tipis menatap jam beker yabg menunjukan waktu saat ini, ia dapat ide baru.
"Baby? Aku serius... Sini lihat aku!" Arlan menagkup wajah gadisnya, mengunci tatapan gadis itu agar hanya tertuju ke arahnya "katakan. Kenapa kamu jadi diami aku begini? bukankah semua sudah kita bahas tadi siang? Apa lagi yang mengganggu mu? Hm?"
Yaya menggeleng, ia menarik kedua tangan itu agar terlepas dari pipi nya "Hubby tidak menepati janji, aku hanya kesal. Itu saja"
Arlan menghela napas nya. Ia paham akhirnya, "aku minta maaf, baby... Aku harus menyelesaikan beberapa berkas penting di kantor"
"Lalu, yaya tidak penting untuk hubby?" sela gadis itu dengan tatapan nanar nya.
Arlan mendelik "hei... Kenapa bilang begitu? Sini.." ia menepuk paha nya. mengisyaratkan gadis itu agar duduk di pangkuan nya. Posisi favorit Arlan saat berbincang dengan gadis itu.
"No!" tolak yaya, gadis itu meraih guling lalu memeluknya erat "mulai sekarang yaya tak mau duduk di pangku lagi!" ujarnya membuat rahang tegas Arlan mengeras seketika "yaya mau peluk guling aja, hubby tidak boleh peluk yaya! Itu hukuman untuk hubby yang sudah ingkar janji!"
"Hei! Kenapa jadi begitu?! Tidak! Aku tak mau, kamu boleh marah, memukulku, atau apapun, tapi tidak dengan semua omong kosong itu! Aku akan memeluk mu!"
Kemudian dalam sekejap tubuh yaya sudah berada di pangkuan Arlan, bahkan guling yang sempat dipeluk gadis itu telah hilang entah kemana akibat ulah singa jantan ini.
"Lepaskan yaya" tekan gadis itu memerintah, membuat Arlan mendelik tak suka "tidak akan!"
"Oke! Yaya marah! Yaya tak mau balas peluk hubby, yaya tak akan mau bicara lagi dengan hubby!"
"Baby... Come on, aku hanya terlambat satu jam, kenapa malah begini?!" bujuk pria itu memeluk erat pinggang ramping gadis nya.
"No! Yaya marah. TITIK" Tekan nya dengan wajah judes, membuat Arlan jadi kelimpungan sendiri.
Ah, Arlan tidak mau di diami, ia tidak bisa! Mau membujuk? Rasanya tak akan mempan, melihat kekesalan gadis itu, pastinya sulit mendapat maaf dari nya.
"By... Peluk, aku merindukan mu, aku mau tidur dengan nyenyak, jangan begini" bujuk Arlan sekali lagi, namun kali ini dengan sedikit memohon, membuat yaya nyaris goyah.
"I hate you!" bisik gadis itu membuat Arlan langsung memerah, merasa kesal, marah juga sedih dalam waktu bersamaan.
"No! You, love me!" seloroh pria itu dengan tatapan tajam nya.
Yaya diam, ia berpaling menatap Arah lain, asal tidak menatap wajah pria itu. Jujur saja saat ini yaya sudah deg degan setengah mati, takut juga merasa bersalah. Tidak pernah sebelumnya ia mengerjai orang seperti ini.
"Baby... Mau cuddle" Pinta Arlan dengan mata memerah, ia lelah juga marah tapi tak bisa berbuat apa-apa. Arlan takhluk jika berhadapan dengan gadis ini.
Yaya diam, ia tak mau merespon apa pun. Membuat Arlan semakin gusar. Pria itu membanting tubuhnya berbaring, hingga kini gadis itu ikut terbaring di atas tubuhnya, menimpa nya.
"Peluk... Maaf, aku ingkar janji. Aku sudah sebisa mungkin pulang tepat waktu, baby... Kumohon maafkan aku"
Hati yaya serasa di cubit melihat pria itu memohon sampai sebegini nya. Ia tak tega, tapi tak mau rencana nya gagal, dengan berat hati yaya harus tega kali ini.
"I hate you. Semua perkataan mu hanyalah bullshit"
Arlan menggeleng ribut, pria berbadan kekar itu langsung membalikkan posisi hingga kini dirinya lah yang menindih tubuh mungil gadisnya, ia menempelkan wajahnya di ceruk leher gadis itu "No, you love me! You always love me! Jangan bicara begitu lagi, hatiku sakit mendengarnya baby" ujarnya serak, yaya tertegun saat merasakan lehernya basah, apa Arlan menangis? Secepat itu?! Woahhh!!!
Gadis itu menggigit bibir tak tega, tapi merasa gemas juga akan tingkah Arlan yang seperti ini "i hate you! I hate you! I hate—"
"NO! DONT SAY THAT!... NO!" Arlan memekik keras dengan suara berat nan serak nya, ia sakit hati mendengar kalimat itu, ia akhirnya menangis, masa bodoh dengan wibawa kelam yang selama ini ia bawa, jika dengan gadis nya, Arlan pasti berbeda.
Yaya tersenyum geli "tapi aku membenci mu, aku benci pembohong, Arlan!" tuturnya bagai tusukan tajam di telinga Arlan.
"HUBBY! NOT ARLAN, jangan marah hanya karena aku telat, kamu jahat!"
"I hate you Arlan"
Arlan diam dengan isakan-isakan kecil yang keluar dari bibir pria itu, ia memejamkan mata nya, badan kekar itu bergetar tak karuan seiring dengan napas nya yang sesenggukan. Ia memeluk erat tubuh gadis itu, mengurung nya dengan ketat, enggan melepas meski yaya sudah meronta sejak tadi.
Arlan menggeleng saja, pelukan itu semakin mengerat, bahkan kini kaki Arlan turut menindih kaki gadisnya.
"Arlan..."
"Peluk! Aku minta tolong begini dulu. Tak masalah kamu tak mau memeluk ku, tapi biarkan aku memeluk mu" Cerca Arlan dengan pilu nya. Membuat yaya jadi ikut berkaca-kaca.
"terserah, tapi setelah ini aku tak mau lagi di sentuh oleh pembohong seperti mu!"
"Yaya!"
Gadis itu berdecih samar "Kau tak terima? Apa aku salah?" tanya nya menantang.
Arlan tiba-tiba menyesap leher gadis itu, membuat tanda sebanyak yang ia mau di sana. Ia bak bayi yang sedang kesetanan, mengabaikan segala ucapan juga larangan sang gadis.
Seketika yaya merinding, suara kecipak basah mengalun indah di kamar ini, sang pelaku masih saja bersemangat menyesalpi leher jenjang gadisnya.
"Arlan! Berhenti atau aku lebih marah dari ini!?"
Seketika pria itu berhenti, ia tersenyum menatap hasil karya nya, ia mengecup bekas hisapan nya tadi "maafkan aku. Aku sadar aku salah, tapi jangan hukum aku begini! Aku lelah kerja seharian penuh, dan aku butuh kamu, baby... Kumohon jangan membuat rumit keadaan ku. Aku lelah"
Hening.
"Aku harus apa? Katakan apa yang harus kulakukan untuk menebus kesalahan ku, baby? Hm??"
Masih hening, gadis itu sama sekali tidak menjawab.
"Baby..."
"I hate you Arlan! I hate—"
"MAAF! MAAF! MAAF!" Arlan kembali menangis, namun kali ini ia meraung keras, persis seperti singa galak yang mengaung pada ibu nya.
"Maaf... Aku salah! Aku memang salah, aku menyesal, aku minta maaf"
"tutup mulu mu, pembohong! Aku mau tidur!" Ujar gadis itu ketus, menambah rasa sakit di hati Arlan.
Arlan menggeleng ribut, ia mengangkat wajah nya, menatap gadis itu dengan penuh permohonan. Mata Arlan sudah memerah karena kelamaan menangis, suaranya pun semakin serak, rambutnya juga sudah berantakan dan basah karena keringat dingin juga air matanya yang membasahi wajah dan baju gadisnya.
"Im sorry... Baby, maafkan aku, kumohon maafkan aku... Ayo pukul aku, marahi aku" pria itu menarik tangan gadis nya, lalu mendamparkan tangan lentik itu pada wajahnya sendiri.
"Maaf... Mommy, im sorry... Mommy..."
Deg!
Yaya sudah tak tega lagi, pria itu sampai meraung memanggil mommy padanya. Ah, ia jadi merasa jahat "sudah, berhenti menangis" ketus gadis itu sembari mengusapi wajah Arlan yang sudah basah karena air mata.
Arlan mengangguk, "please... Maaf, mommy... aku janji tidak akan berbohong, aku bukan pembohong, aku minta maaf..."
Yaya mengangguk saja "diam atau aku semakin marah?!" ancam nya agar pria itu menurut, dan benar aja, dalam hitungan detik Arlan langsung menutup rapat mulutnya, napasnya masih sesenggukan dengan wajah tak karuan. Ia menatapi wajah Yaya dengan tatapan memohon. Sangat menyedihkan.
Bagaimana jika para musuhnya melihat kelakuan manja pria ini? Pasti harga diri Arlan akan hancur di hadapan mereka.
"Sekarang diam, dan tidur! Kau besok harus bekerja 'kan?"
"Please call me hubby, not kau" pinta Arlan memohon.
"No! Itu hukuman mu, sekarang tidur! Terserah kau mau memeluk ku, tapi aku tidak mau memeluk mu, malam ini. Jangan memaksa, atau aku akan semakin marah"
Dengan pasrah pria itu mengangguk.
"Sekarang, pergi mandi, bersihkan dirimu dulu, baru tidur"
Lagi, Arlan mengangguk patuh. Ia bangkit dari kasur, lalu berjalan gontai masuk ke dalam toilet.
"Heh! Sana, ke kamar mu, ini kamar ku. Tidak ada perlengkapan mu di dalam sini!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ceilah... kasian banget lu, Arlan :)
jangan lupa like nya qaqa...