Good Romance With My Bad Mafia

Good Romance With My Bad Mafia
CHAPTER 8



"Masukkan semua belanjaan ini ke dalam mobilku. Cepat!" Arlan berlari keluar, ia mencoba mengejar yaya yang sudah hilang dari pandangan nya.


Arlan kira yaya pergi ke rak lain untuk memilih belanjaan baru, namun ternyata gadis itu tak kunjung menampakkan batang hidung nya. Ah, Arlan seketika paham, pasti gadis itu marah karena ia telah mencium pipi gadis itu tadi.


"Kenapa wanita sangat menyebalkan?" gerutu Arlan menyapu pandangan, dan gotcha! Di ujung sana, tampak yaya sedang berjalan dengan langkah lebar menjauhi area toserba ini.


Tunggu dulu, mau kemana gadis itu!? Apa dia meninggalkan Arlan? Hey. Arlan berlari mengejar, tak sulit baginya untuk menangkap lengan kecil itu dalam genggaman nya "mau kemana?"


Yaya tak menjawab, gadis itu menepis kasar tangan Arlan hingga genggaman nya terlepas. Yaya mendongak menatap pria jangkung itu, matanya mulai memerah, tapi ia tahan untuk tidak menangis. Ia tak mau dianggap lemah oleh pria itu!


"Hei..." Arlan tertegun menatap mata itu, ia hendak mengelus pipi yaya namun gadis itu langsung mundur menjauh dari jangkauan Arlan.


"Kenapa? Apa kau marah karena aku mencium mu tadi?"


Yaya tak menjawab, ia menutup rapat mulutnya. Gadis itu kembali berjalan meninggalkan Arlan yang setia mengekori nya seperti anak ayam.


Arlan merutuki dirinya sendiri dalam hati, ia benci saat yaya seperti ini. Ia tak suka diabaikan! Apalagi oleh orang yang ia sukai.


Ya, semenjak kejadian malam itu, Arlan sudahemantapkan hati untuk menjadikan yaya ratu di hati nya. Yaya si gadis tulus, tipikal Arlan sekali.


"Kau masih marah?"


"Hei, berbicara lah!"


Arlan geram, ia nyaris melepaskan emosi yang sedari tadi ia tahan, ia menarik paksa lengan gadis itu hingga yaya menubruk dada bidang nya "Berbicaralah atau aku akan memotong gaji mu!" ancam Arlan dengan tegas.


Yaya menganggukkan kepalanya, ia berdecih menatap wajah pria itu. Yaya sudah muak dengan segala sikap pemaksa Arlan, ia menyesal telah bertemu dan mengenali pria itu.


"Katakan, kau masih marah? Kau mau aku bagaimana agar kau tak merajuk lagi"


Senyum Arlan mendadak lenyap. Ia kira yaya tak akan se sensitif ini, apa ia harus benar-benar memotong gaji gadis itu agar yaya tak lagi bersikap acuh begini?


"Ada apa dengan mu? Kenapa kau makin menyebalkan"


Yaya diam, ia menatap lekat wajah Arlan yang rupawan itu. Sebenarnya masalah ciuman di pipinya bukanlah perkara besar, hanya saja yaya terlalu muak untuk terus menghadapi pria gila.di hadapan nya itu. Entah sadar atau tidak Arlan sudah berperilaku tak normal, seolah berobsesi pada yaya.


"Baiklah, maafkan aku. Salahkan dirimu yang sangat menggemaskan tadi"


"Pergilah" ucap yaya, kali ini sedikit melembutkan suaranya, harap-harap dengan begitu Arlan mau mendengarkan permintaan nya.


Arlan termanggu. ia menatap mata yaya yang masih memerah menahan tangis, apa yaya semarah itu hanya karena ciuman di pipinya?


"Aku antarkan kau pulang, lalu aku pergi" Putusnya membuat yaya menggeleng jengah.


Gadis itu kembali melanjutkan langkah nya menuju kost, mengabaikan Arlan yang setia mengekornya di belakang.


Arlan diam seribu bahasa, mata tajam nya tak berhenti mengawasi tiap pergerakan yaya. Ia berjalan dengan tenang di belakang bak pengawal yang setia mengikuti langkah yaya.


Mereka pun sampai di kost tempat yaya tinggal. Gadis itu berbalik menatap Arlan yang sedari tadi mengawasi nya. Rasanya yaya ingin berterima kasih pada pria itu yang mau repot-repot berjalan kaki mengawal nya pulang, namun karena amarah nya belum juga surut yaya hanya menatap Arlan dalam hening.


"Masuk lah. Kau harus beristirahat" titah Arlan dengan tegas seperti biasanya.


Yaya memutus pandangan mereka, ia berlalu masuk kedalam kost nya tanpa berucap apapun pada Arlan. Biarlah begini, yaya juga butuh jarak, ia tak mau terlalu menanggapi Arlan lagi. Sudah cukup.


"apa dia sungguh marah padaku?"