
Yaya menghampiri Arlan, ia duduk di kusri yang telah di sediakan di samping ranjang pria itu. Yaya menunduk, tanpa sadar matanya mulai berkaca-kaca, ia menyentuh tangan kekar itu, panas sekali. Yaya jadi semakin khawatir pada Arlan.
Yaya mengelus rambut Arlan yang sudah memanjang lebat, ia tampak semakin kurus tak ter urus, namun kadar ketampanan nya justru tak berkurang. Yaya terkesiap saat mata pria itu perlahan terbuka, Arlan menoleh dan menatap dalam dirinya.
Semenit tak ada suara, Arlan diam menatap wajah jelita sang pujaan hati "pasti aku bermimpi lagi" gumam Arlan lalu ia menatap langit-langit kamarnya dengan tatapan hampa "Mommy... Yaya masih marah, aku ditinggal oleh nya" adu Arlan entah pada siapa
Yaya mengernyit tak suka, apa pria ini berhalusinasi? Dirinya ini nyata! Perlahan tangan lentik nya mengelus lengan berotot pria itu "Kau tidak bermimpi, aku di sini"
Arlan sontak melotot, ia menatap gadisnya dengan mata berbinar, "peluk... Peluk aku!" Arlan membuka tangan nya lebar, mengisyaratkan ayasya tuk memeluknya.
Yaya jadi tak enak hati, lihatlah wajah pucat itu. Ia menahan Arlan saat pria itu hendak bangkit dari tidurnya. "jangan bergerak!" perintahnya garang, Arlan sontak mematung dengan wajah lesu.
Yaya menghela napas nya, ia melepaskan sling bag yang ia kenakan, juga sepatu nya, perlahan ia naik ke kasur king size itu, lalu memeluk Arlan dengan lembut.
Seketika Arlan tersenyum, ia memeluk erat gadisnya, mencari posisi ternyaman yang selama ini sudah ia rindukan "i miss you, baby.." seru Arlan dengan isakan halus, wah! Singa jantan ini menangis.
Yaya mengernyit, seumur hidup, ini pertama kalinya Arlan menangis pilu seperti ini, selama ia menjadi tunangan Arlan, tidak pernah sekalipun Arlan menunjukkan sisi rapuh nya pada gadis itu. Apa ini karena besok bertepatan dengan peringatan kematian ibunya? Ah, yaya jadi ikut sedih.
Ingin rasanya yaya menenangkan pria itu dengan kalimat-kalimat lembut seperti biasanya, namun ia enggan sebab ia masih marah dengan pria itu.
Merasa lelah, Arlan akhirnya menghentikan tangisnya. Bagi mafia kejam seperti dirinya menangis lebih merepotkan dari pada membunuh seseorang, gila memang psikopat satu ini.
"Yaya... Look at me" Pinta Arlan dengan suara serak nya.
Menurut, gadis itu menatap wajah Arlan dalam hening "aku tidak berselingkuh, dia bukan siapa-siapa ku. Aku tidak bermain api di belakang kamu, sungguh" Arlan kembali meneteskan air mata nya. Saat si gadis hanya diam tak berucap apapun
Ditambah lagi, Arlan jadi mengingat kalau kini dirinya sudah tidak perjaka lagi, ia tiba-tiba memeluk erat gadisnya dengan tangis semakin pilu. Dapat yaya rasakan badan besar itu bergetar hebat, Arlan menggelengkan kepalanya seperti orang kerasukan "tidak, aku tidak melakukan nya. Aku terkena obat"
Yaya jadi bingung, apa maksud ucapan itu? "Aapa maksudnya itu?" tanya yaya akhirnya bersuara.
Arlan semakin tidak tenang, ia ingin bercerita jujur tapi ia takut gadisnya akan semakin kecewa lalu meninggalkan nya lagi. Tidak, Arlan tak mau itu sampai terjadi!
"katakan! Ada apa?"
Arlan melepaskan pelukan itu, ia menatap lekat gadisnya "aku..." ia menggenggam erat tangan gadisnya "berjanjilah, setelah ku cerita kan, kamu tidak meninggal kan aku lagi"
Yaya tak menjawab iya ataupun tidak, membuat Arlan jadi takut sendiri "berjanjilah, kumohon" Arlan kembali memeluk gadisnya.
"Baiklah, cepat katakan yang sebenarnya terjadi!"
Arlan mengangguk patuh, ia menatap takut-takut gadisnya, tangan nya memainkan jemari lentik milik yaya "Wanita itu, namanya sisi. Dia anak dari rekan kerja ku, dua juga salah satu pebisnis yang bekerja sama dengan perusahaan textile milik ku..."
"... aku sudah lama tahu kalau dia ternyata suka padaku, aku tak menganggap itu serius sungguh!" ujar Arlan meyakinkan "Dia benar-benar gila! Dia menjebak aku, ku kira saat itu dia benar akan mati di teror, nyata nya itu hanya rencana busuk yang ia buat, aku berhasil mendapatkan 50% harta yang ia janjikan, setelah tanda tangan, aku meminum kopi buatan nya, hanya seteguk, itu pun sedikit... Tapi..., tapi.."
Yaya mengernyit "tapi apa?"
Arlan menggenggam erat tangan gadisnya, entah kenapa wajah pria itu semakin pucat saja "Badanku terasa aneh, bergetar... Lemas, dan panas, bahkan milik ku sampai kebas" ia melirik ************ nya membuat yaya shock seketika "Aku pusing, lalu aku ke toilet, aku basuh wajahku... Aku keluar dan dia, wanita gila itu tiba-tiba sudah berpose seperti ****** di lantai"
Yaya memejamkan mata nya, hatinya panas sekali mendengar cerita gila ini "Dia bahkan tak mengenakan baju, yaya... Dia sengaja, dia menaruh obat di minuman ku, lalu dia memancing hasrat ku dengan bertelanjang di lantai... Lalu, mataku buram, aku merasa kalau yang ku lihat itu kamu, aku... Aku salah! Maaf... Dia bahkan memperkosa ku, aku sudah tidak perjaka... Aku bekasan!, maafkan aku" Arlan menangis, wajahnya memerah marah dengan tangis bercampur emosi, air matanya merembes banjir di pipi, ia menggenggam erat tangan gadisnya, ia benar-benar merasa sakit, sakit sekali hatinya
Yaya diam, ia juga sama sakitnya dengan Arlan, ia tak menduga kalau semuanya adalah musibah yang dibawa oleh iblis itu, yaya bingung, ia ingin marah tapi Arlan tak sepenuhnya bersalah, lihat wajah pria itu, sudah memerah bak bom cabai yang siap meledak, Arlan sepertinya berkata jujur.
"Jangan tinggalkan aku, maafkan aku, aku gagal menjadi pria baik, aku bekas—"
"berhenti berucap seperti itu!" sentak yaya marah, ia akui kalau ia benci mendengar kalimat bekasan, Arlan bukan barang!
Arlan menunduk, yaya yang melihat itu jadi tak tega, ia usap bahu bergetar yang terbalut piyama hitam itu, ia mengangkat dagu Arlan dengan jari telunjuk nya "jangan menyalahkan dirimu! Jika memang dijebak, itu semua musibah, kau bukan barang jadi stop berkata kalau dirimu bekasan! Aku tidak pernah berpikiran begitu! Kau tetap Arlan di mataku"
"Sudah, lupakan... Aku telah memaafkan mu" yaya memeluk erat pria itu, tubuh Arlan masih gemetaran, yaya rasa pria itu telah merasa hancur bagaimana tidak? Arlan telah di perkosa oleh wanita murahan, dalam kendali obat yang membuatnya tak bisa menolak atau membela diri.
"Kau menyesal? Maksudku.. Aku tidak perjaka lagi" bisik Arlan serak.
Yaya menggelengkan kepalanya "jangan pikirkan itu! Aku tahu kau itu korban, aku tak mungkin menyalahkan mu terus. Aku kesal, itu sudah pasti. Tapi... Bagaimana lagi? Sudah terjadi" Tutur gadis itu dengan tenang
Arlan mengangguk "maaf, aku malu... Aku tidak bisa—"
"Arlan... Jangan dibahas lagi" tegur yaya
Arlan mengangguk "i love you"
Arlan tersenyum kecut, gadisnya tak lagi membalas ungkapan cinta nya. Biarlah, Arlan tak masalah, sepertinya yaya butuh waktu untuk menerima nya kembali seperti sedia kala.
"Kamu tau? Aku sempat berpikiran untuk memotong milik ku" ucap Arlan tiba-tiba bercerita.
Yaya mendelik ngeri "dipotong?!"
Arlan mengangguk, ia mempef erat pelukan nya "aku ingin mengganti nya dengan yang baru, aku hampir gila, aku takut kamu marah besar kalau tahu aku sudah memakai wanita"
"Tapi kau terpengaruh obat saat itu, bukan?"
Arlan mengangguk membenarkan "rasanya aneh, tubuhku bereaksi lain, aku benci jika ingat itu"
"Maka dari itu, lupakan saja"
Arlan mengangguk lagi, ia membenamkan wajahnya di dada sekal yaya, Arlan sempat merasakan gadis itu menagang, mungkin terkejut karena sudah lama Arlan tak begini. Ia menatap gadisnya "Arlan ingin peluk, seperti biasanya. Boleh?" ucapnya meminta ijin.
Yaya mengangguk, matanya memanas ia jadi sangat merasa bersalah melihat Arlan yang tidak se enjoy biasanya. Pasti pria itu takut kalau yaya merasa risih dengan nya setelah semua yang mereka hadapi.
"Sudah minum obat?" tanya gadis itu, Arlan sudah asyik mendusel di dada nya, dapat ia rasakan pria itu menggeleng.
"Kenapa belum?!" Tanya gadis itu kesal
Arlan mendongak "aku tak suka obat! Aku benci obat!" ucapnya
"Kenapa begitu?" yaya mengelus rambut nya lembut
Arlan hanya menggelengkan kepalanya, enggan menjawab. Yaya menghela napas sejenak "minum obatmu dulu, kau sudah makan?" tanya yaya
Arlan mengangguk "sedikit, aku memakan bubur telur khas orang sini"
Yaya mengangguk, "minum obat dulu, ayo" yaya berupaya menyingkirkan Arlan namun gagal, pria itu sangat erat memeluknya "Arlan... Lepas dulu, kau harus minum obat"
Arlan akhirnya pasrah, ia melepaskan pelukan itu, "obatnya di laci" beritahu Arlan.
ia meminum obat yang disiapkan gadisnya lalu kembali memeluk gadis itu dengan mata terpejam "Jangan pergi, okay? Tetaplah disini, aku ingin bobo dipeluk kamu, jangan pergi sampai aku bangun, ya sayang?" ucap Arlan dengan mata memohon.
Yaya mengangguk "tidurlah, aku tak akan pergi"
Cup!
Gadis itu menciup pipi Arlan membuat sang empu tersenyum cerah "lagi!" pinta nya yang langsung di turuti gadis itu "thank you, mommy yaya" seru Arlan bak anak kecil, membuat perut yaya geli seperti ada kupu-kupu berterbangan disana.