Good Romance With My Bad Mafia

Good Romance With My Bad Mafia
CHAPTER 56



Arlan tersenyum saat gadisnya memanggil ia ke meja makan, pria itu menatap penuh minat pada makanan di atas meja, ada begitu banyak masakan lezat yang tersedia. Begitu menggugah selera makan nya.


"Duduklah, kau ingin lauk apa?" tanya yaya yang sedang menyiapkan nasi diatas piring.


"Aku ingin ikan yang itu" tunjuk Arlan pada ikan tumis jahe yang tampak lezat


Yaya mengangguk, ia mengambil lauk itu lalu ia menambahkan sayur di dalam piring Arlan "ini, dihabiskan"


Arlan mengangguk "terimakasih, angel"


Yaya mendelik geli, sudah cukup lama ia tak mendengar julukan itu, Arlan hanya tersenyum kala yaya menatapnya begitu.


Mereka mulai makan saat Arlan selesai memimpin doa, yaya tersenyum melihat Arlan yang sangat lahap memakan ikan buatan nya "pelan-pelan, awas tersedak"


Arlan mengangguk "ini enak, aku suka! Boleh buat kan aku makan malam seperti ini?" tanya Arlan di sela kunyahan nya.


"Tentu, kau harus rajin makan agar cepat sembuh"


Arlan tersenyum, namun dalam hati ia menolak, enak saja ia disuruh rajin makan! Bisa-bisa badan berotot nya ini menjelma jadi badan berlemak, tidak! Arlan tak mau.


Dua puluh menit lamanya mereka makan bersama, makan siang yang sangat berkesan bagi Arlan. Pria itu padahal sedang sakit, tapi karena dimasaki oleh gadisnya, ia jadi lahap makan seperti orang sehat pada umumnya.


Yaya memanglah obat ter ampuh bagi Arlan.


"jangan, biarkan bawahanku yang mencuci semua itu" cegah Arlan kala gadisnya berjalan membawa piring kotor bekas makan mereka ke wastafel.


"Tidak usah, aku saja" ucap yaya


Arlan mendelik "aku ingin bobo denganmu" ucap Arlan sedikit ketus


Yaya menghela napas nya, singa jantan ini sepertinya sedang ingin dimanja. "Baiklah, suruh mereka" ucap yaya seusai mencuci tangan nya.


Arlan mengangguk, ia menelpon Lan memerintah kan asisten nya itu masuk.


"Cuci kan piring itu semua, sampai bersih!" titah Arlan dengan tegas


Lan mengangguk "siap tuan!"


Lan langsung tersenyum cerah "kebetulan sekali, terimakasih banyak Nona" ucap Lan.


Arlan mengangguk saja, ia tahu kalau asisten nya itu pasti belum makan siang, mengingat kerjaan mereka sangatlah tidak mudah, harus berjaga dan siap siaga setiap saat, jika ingin makan siang, semuanya harus bergiliran. Tidak bisa makan siang dengan leluasa seperti orang lain.


"nanti kau bawa saja ke unit kalian, jangan makan di sini. Aku tak mau diganggu!"


Yaya menatap Arlan penuh peringatan, kebiasaan sekali pria itu berucap seenaknya. Biarpun Lan itu bawahan nya tapi tidak begitu juga, kan kasihan semua orang bisa kena mental bila di judesin begitu oleh bos mereka sendiri.


***


Arlan mendelik tajam menatap gadisnya sedari tadi sibuk dengan handphone, ia jadi terabaikan "kenapa sih! Siapa yang kamu chat?!" Tanya Arlan marah, ia menatap gadis itu dengan wajah memerah marah.


Yaya menatap Arlan, ia menaruh handphone nya di atas nakas, lalu kembali fokus pada tunangan tampan nya itu "Ella nanyain kabar" ucap yaya memberi tahu, Arlan berdecih "aku lagi sakit, kenapa malah fokus sama yang lain?"


Ah, yaya seharusnya menambah stok sabar dalam dirinya, lihatlah singa jantan ini, semenjak sakit, ia jadi semakin manja dan menyebalkan!


"Baiklah, sini peluk lagi"


Arlan diam, ia menatap gadisnya datar. Entah mengapa ia jadi rindu melihat yaya saat sedang menangis, apa ia jahili saja gadis ini?


"Arlan? Tidak mau di peluk?" tanya gadis itu


Arlan tetap diam, ia menatap gadisnya tanpa ekspresi sama sekali, membuat yaya bingung sekaligus khawatir "ada yang sakit?" tanya yaya lembut, tangan gadis itu mulai mengelusi punggung lebar Arlan.


Arlan hanya diam, perlahan ia membalikkan badan, memunggungi gadis itu. Ia diam saja, ingin melihat bagaimana reaksi yaya setelah ini.


"Arlan? Kenapa malah begini?"


Arlan tak menjawab, jantungnya bertalu kegirangan saat gadis itu memeluknya dari belakang, bahkan tangan gadis itu kini telah mengelusi perut kotak-kotak nya dengan lembut "Ada yang sakit? Hm?" Tanya yaya kesekian kali nya


Arlan masih bungkam, ia diam-diam tersenyum jahil melihat gadis itu yang mulai panik memberi perhatian untuk nya "Butuh sesuatu?"


Gadis itu menghela napas panjang, ia lelah, sungguh! Entah mengapa pria satu ini jadi semakin banyak tingkah, seperti anak kecil saja! Kalau bukan karena besok itu tanggal kematian ibunya, yaya mungkin sudah pergi meninggalkan pria itu sendirian di sini.


Tapi yaya itu gadis baik, hati nya sangat tulus, mana bisa ia meninggalkan Arlan sendirian di saat-saat terpuruknya?