
"Berbicara lah, sayang. Aku ingin mendengar suara indah mu itu" ucap Arlan serak.
Kini keduanya berada di ruang keluarga, dengan yaya yang duduk lesehan diatas karpet tebal bulu-bulu, dan Arlan yang sedari tadi mengelendot manja di badan nya.
"Arlan... No, jangan begitu!" larang yaya dengan tegas saat Arlan mensuselkan wajah nya di belahan dada nya.
Arlan seketika terdiam, ia mengangguk patuh dengan bibir mengerucut. Yaya terkekeh pelan, ia menepuk lembut bibir pria itu "kau sangat tidak cocok berekspresi begitu, malu pada otot mu, Arlan"
Arlan mendelik kesal, niat hati ingin dimanja justru malah dihina seperti ini. "Aku mengambek!" ujar nya seperti anak kecil, ia bahkan bergeser menjauhi yaya.
Jujur saja jantung Arlan berdegup kencang, takut jika yaya tak perduli, dan tak mau membujuk seperti yang ia mau. Ingat! Arlan itu sangat suka mencari perhatian yaya, ia bahkan rela mengambil cuti sebulan dengan alasan acara pertunangan mereka, padahal pertunangan hanya diselenggarakan tiga hari saja, tapi pria itu tetap ngotot ingin libur sebulan lama nya, membuat yaya geleng-geleng kepala.
"Arlan... Berhentilah, kau membuatku geli"
Benar kan! Yaya tidak mau membujuk nya. Arlan bergeser semakin menjauh, ia memandangi layar televisi full screen keluaran terbaru yang tengah menyiarankan film korea pilihan gadis nya.
Yaya tersenyum geli melihat keterdiaman Arlan, ada-ada saja tingkah pria itu.
"Arlan..." panggilnya dengan lembut, ia menggeser mendekati Arlan namun si pria justru ikut bergeser menjauh.
Yaya terkikik "sudahlah, sini... Mau di peluk tidak?" Yaya mengelus lengan berotot Arlan namun langsung ditepis sang empu.
Yaya seketika diam, apa Arlan sungguh merajuk? Oh tidak, yaya tak suka saat Arlan kekeh ingin menjauhi nya.
Ide cemerlang muncul di kepala gadis itu. Ia berdiri, tepat di hadapan Arlan, menutupi layar televisi dari pandangan pria itu. Arlan berdecak, ia mendongak menatap gadisnya yang berdiri menjulang di hadapan nya saat ini.
"Mau dibujuk? Iya?" tangan yaya terulur mengusap rambut berantakan Arlan, kali ini sang empu tak menolak, ia membiarkan yaya berbuat semaunya.
Meski ia hanya diam, tanpak cuek Dalam hati sebenarnya ia bersorak bahagia, akhirnya ia bisa merasakan dibujuk oleh pujaan hati nya.
yaya duduk tepat di sebelah Arlan, ia melebarkan tangan nya menarik Arlan masuk dalam dekapan hangat nya "utututu... Baby Arlan sedang merajuk" yaya menepuk-nepuk bahu kekar itu sambil berucap lucu seperti anak kecil.
Yaya tersenyum geli, ia mecuil pipi Arlan dengan telunjuk nya "Arlan nya yaya sedang merajuk, yaya harus bagaimana supaya bayi besar ini tidak marah lagi?" ucapnya
Arlan menahan sudut bibir nya yang hendak mengulas senyuman. Yaya sangat menggemaskan saat ini!
"Maafkan aku, okay?" ucap yaya terdengar begitu tulus di telinga Arlan.
Tangan gadis itu tak hentinya memeluk, mengelus, bahkan mengusap usap sayang pipi Arlan yang sedari tadi menyembunyikan wajah di dada sekal yaya.
Dalam hati yaya merutuki Arlan, bisakah dia tidak mengambil kesempatan dalam kesempitan!? Lihatlah sekarang ia dengan seenak jidat mendusel di dada gadis itu.
"Arlan... Jangan begitu, tidak boleh melewati batas" tegur yaya dengan lembut agar pria itu tak merajuk lagi karena dilarang olehnya.
Arlan diam, pria itu mengangguk lucu membuat yaya terkekeh gemas mencubit pipi Arlan "kenapa jadi manja begini?" tanya nya
Arlan menggeleng "i love you!" seru nya tak nyambung.
Yaya mengangguk saja "kau mengantuk?" tanya gadis itu, Arlan menggeleng.
"Yaya"
"Hm?" gumam gadis itu
"Aku tak sabar ingin memiliki mu seutuh nya, membuat anak bersama mu, membina rumah tangga kita nanti, dan menua bersama" Arlan memeluk erat pinggang gadis itu.
"Jangan terlalu banyak menghayal, Arlan"
Arlan berdecak kesal "itu akan jadi kenyataan! Apapun yang terjadi!" ujarnya tegas