
Arlan berdecak saat para rekan bisnis nya tak berhenti membawa gadis pemuas nafsu ke dalam ruangan kerja pria itu. Seperti sekarang ini, Angga masuk ke ruangan nya dengan membawa tiga wanita masuk ke dalam, Mereka semua sekarang sudah berdiri dengan pose sexy andalan masing-masing. Arlan berdecih jijik saat menatap tiga wanita yang hanya mengenakan handuk yang dililit di badan semok mereka.
"Lihat, bro! Mereka sangat menggairahkan, kau mau mencoba nya?" tawar Angga—salah satu rekan kerja terkaya Arlan.
Arlan berdecak kesal, Angga itu selalu saja bersemangat mengajak wanita bayaran ke ruangan nya semenjak Arlan galau ditinggalkan oleh gadisnya.
"Keluar! Aku sibuk" cerca Arlan tak mau dibantah.
Angga berdecih, "kita lihat, sesibuk apa kau" ia menjentikkan jari lalu setelah nya ketiga gadis berbalut handuk itu menanggalkan kain terakhir di tubuh mereka. Hingga kini ketiganya telah polos di hadapan Arlan.
Arlan sempat terkesiap, ia kaget melihat wanita-wanita haram itu dengan semangat mengangkang lebar sembari berjoget gila-gilaan memamerkan aset yang mereka punya.
"Angga! Keluar kau, dan bawa peliharaan mu itu!" Titah Arlan murka.
Angga seketika menciut, tak biasanya Arlan sensitif begini, ia langsung pergi bersama tiga wanita yang sibuk menutupi tubuh polos mereka kembali dengan handuk.
"Yaya... aku merindukan mu, sayang"
****
Brak!
Arlan membanting pintu kamar nya, ia memukuli semua barang yang ada di sekitaran pria itu. Bahkan tembok tak bersalah pun turut menjadi sasaran amukan nya. Ia nyaris gila, selama seminggu lebih tak melihat gadis nya.
Semua tempat telah ia cari, banyaj negara yang sudah ia selidiki, namun Arlan masih belum bisa menemukan gadis nya. Dua hari yang lalu Arlan telah menghabisi nyawa Luis hanya karena curiga kalau pria itu lagi yang membawa yaya pergi.
Bahkan kini Roma dan mei mei sudah di sekap di dalam ruang bawah tanah, mereka di rantai dan dicambuki setiap hari nya. Hanya karena Arlan mau mereka memberi tahu dimana keberadaan gadis nya.
Ingat, Arlan itu bukan manusia biasa, dia memiliki sifat gila yang haus akan darah, dan utu bisa kambuh kapan saja. Hanya gadisnya yabg mampu mengendalikan pria itu, hanya yaya.
Malam itu Arlan benar-benar telah di jebak oleh Sisi— rekan kerja Arlan yang sangat haus akan belaian, wanita gila itu sudah lama menaruh hati pada Arlan dan selalu di tolak.
Arlan tak habis pikir, saat sisi melapor ke rumahnya kalau perusahaan ayah sisi yang sudah lama bekerja sama dengan perusahaan Arlan diserang orang tak dikenal. Sisi melampirkan berbagai macam bukti palsu, bukti yang benar adanya namun hanya setting an belaka yang dilakukan sisi agar Arlan masuk dalam jebakan nya.
[Flashback]
"Ar, lihat... Ini bukti nya kalau perusahaan ayahku memang benar-benar di serang"
Sisi menyodorkan layar handphone nya yang menanyangkan video kebakaran hebat, melahap habis bangunan perusahaan milik ayah sisi.
Arlan berdecak "bodoh! Kemana ayah mu?!"
Sisi menggeleng ribut, air matanya sudah banjir menetes "Ayah sedang keluar negeri, aku sendirian... Lihat, banyak sekali luka Sisi menyingkap lengan kaos panjang yang ia kenakan, memperlihatkan banyaknya luka lebam juga sayatan pada kulit lengan nya.
"Aku juga dikejar-kejar oleh pembunuh bayaran rival ayahku itu! Aku disiksa! beruntung anak buah ku bisa membawa ku pergi"
Arlan berdecak "ayahmu harus membayar mahal untuk bantuan ini" ia berjalan mendahului Sisi keluar dari rumah mewah itu.
Sisi tersenyum ceria menatap punggung Arlan yang sudah berjalan lebih dulu keluar "Aku akan memberikan segalanya, sayang... Segala nya" Sisi menggigit bibir bawah nya dengan senyuman licik yang tercetak jelas. Ia berlari mengejar Arlan, lalu keduanya pun pergi menghilang.
***
Se usai mengecek lokasi kebakaran, Arlan menyuruh beberapa anak buah nya membersihkan area sekitar yang ikut terdampak. Sisi memohon pada Arlan agar mau mengantarkan nya pulang ke apartemen milik sisi.
"Aku takut Arlan... Aku janji, setelah kau antarkan, aku akan memberi tau pada ayahku, semua kebaikan mu padaku kali ini"
Arlan berdecih "saham saja tidak cukup untuk ku, aku mau 50% perusahaan milik keluarga mu jatuh ke tangan ku"
sisi sontak terdiam, 50% bukanlah sedikit! Bisa mati dia jika ketahuan memberikan nya pada Arlan secara diam-diam. Ayahnya pasti akan murka.
"aku tak yakin ayahmu sanggup melepaskan itu"
Sisi tersenyum "bisa! Ayah pasti membalas semua kebaikan orang yang telah membantu putri kesayangan nya, kau pasti mendapatkan itu"
Arlan tersenyum, ia mengangkat handphone nya yang sudah merekam jelas segala perkataan sisi "Kau tak bisa menariknya, sisi. Aku sudah punya bukti. Satu jam, aku memberimu waktu satu jam untuk memberikan 50% segala aset, saham dan apapun itu yang dimiliki perusahaan keluarga mu. Jika tidak... Aku akan mengantarmu ke kuburan"
Sisi menelan Saliva nya susah payah, "b-baik... Kau bisa mengantarkan aku dulu?, kita berbicara di apartemen ku saja, biar sekalian ku panggilkan notaris keluarga ku"
Arlan mengangguk.
***
Arlan menatap setiap kode yang di tekan oleh gadis itu, kini ia sudah hapal. Mereka masuk ke dalam sana, sisi tersenyum dan mempersilakan Arlan duduk dulu, sedangkan ia sendiri pergi ke bilik toilet guna berganti pakaian.
Arlan menatap sekitaran nya, apartemen milik sisi lumayan besar, ada ruang tamu, juga beberapa ruangan lain di belakang sana. Arlan tak mau mengeksplor nya sebab dengan mampir kemari saja sudah melewati batas baginya.
Arlan tahu kalau sisi itu menaruh hati padanya, namun Arlan selalu menolak, ia tak akan mau menerima sisi, apapun yang terjadi. Gadis itu baginya hanyalah anak dari kolega bisnis yang sangat senang ia sapa, pak Moran— ayah sisi merupakan pebisnis obat terlarang juga obat kimia lain yang biasa nya dipakai dalam rumah sakit, Moran itu sangat enak diajak berbisnis. makanya Arlan senang menyapa Moran, bukan karena merasa akrab, hanya saja Arlan suka pada orang yang bisa ia ajak bekerja sama tanpa banyak kaya-kata.
"Arlan.. Ini, aku ada membuatkan kopi, diminum. Jangan sampai kau mengantuk" sisi menyerahkan segelas kopi pada Arlan, namun pria itu baik a, ia membiarkan kopi tersebut menganggur di hadapan nya "Mana notaris mu?! Aku tak punya banyak waktu!" desak Arlan kesal, sudah sepuluh menit ia menunggu di sini.
Sisi tersenyum kecut, ia menatap layar handphone nya "entah, kurasa sebentar lagi, dia sampai" .
"Kalau tidak sampai dalam lima menit, aku bakar apartemen ini!"
Sisi tersenyum cerah saat bel unitnya berbunyi "itu dia" ia beranjak berlari menuju pintu, membukakan nya dan membawa masuk notaris tersebut.
Hampir dua puluh menit lamanya mereka berbincang, tidak lebih tepatnya hanya Sisi dan si notaris itu yang berbicara, sedangkan Arlan diam saja menunggu hasil.
"Baiklah. tapi Nona... Setelah ini, tuan Moran harus tahu, jika tidak, bisa saya yang dituduh melakukan pelanggaran"
Sisi berdecak "sudah! Buat saja semua yang diwariskan padaku, aku mau 50% dibalik nama kan pada Arlan! Titik!"
Notaris itu mengangguk, ia mulai mengetik di laptop nya, lalu tak lama setelah itu ia mulai mengambil sampel sidik jari Sisi sebagai tanda bukti, ia menatap Arlan "tolong tanda tangani di sini, tuan" ia memberikan benda berbentuk persegi yang bisa ditanda tangani dengan pena besi.
Arlan tersenyum tipis, sangat tipis "lima puluh persen jadi milik ku, bukan?" tanya nya pada notaris itu sebagai memastikan saja.
Notaris itu mengangguk, "besok saya akan antarkan tanda bukti dan segala surat nya pada anda, tuan"
"Inu, kau bisa langsung menghubungi ku, nanti" ia memberikan kartu nama nya pada notaris itu.
"Baik, tuan. Tugas saya sudah selesai, selebihnya akan saya buatkan di rumah, saya permisi Nona, tuan"
Sisi mengangguk, ia membuka kan pintu apartemen nya untuk pria itu, lalu sisi kembali duduk bersama Arlan "Cheers? Setidaknya kau jangan menolak minum kopi denganku bukan?" Sisi mengangkat cangkir kopi nya.
Arlan mendengaus, ia mengangguk.
Ting!
Mereka bertos gelas sekali, lalu Arlan menyesap sedikit kopi nya.
"Arlan, aku ingin bertanya. Sudah lama kah kamu bekerja sama dengan perusahaan ayahku?"
"Hm"
Sisi tak habis akal, gadis itu terus bertanya seputar pekerjaan Moran bersama Arlan, agar pria itu tetap tinggal sampai obat yang ia taruh pada minuman itu bereaksi.
"Ac mu, bisa diperbesar"
Sisi tersenyum kemenangan "tentu" ia bukan nya menyejukkan ruangan justru menambah suhu hingga 43°c Arlan mulai bergerak tak karuan, rasanya panas dan gerah sekali, ia ingin pulang tapi kaki nya bergetar tak karuan.
"Kenapa? apa ada yang bisa ku bantu?"
Arlan menggeleng "dimana toilet?"
Sisi tersenyum menggoda "disana" tunjuknya
Arlan mengangguk, ia mulai berjalan menuju toilet dengan sempoyongan, badan nya terasa gerah sekali, kaki nya gemetaran terasa lemas. Dan miliknya terasa gatal dan kebas.
"Biar ku bantu, kurasa kau kesulitan" Sisi membopong tubuh Arlan berjalan menuju toilet.
Sisi tersenyum lebar menatap Arlan yang sudah masuk kedalam, ia mulai melepas semua pakaian nya hingga ia full naked saat ini.
Sisi mengambil ikat rambut, ia mengikat asal rambutnya keatas hingga leher jenjang nya terlihat jelas. Gadis itu meremasi kedua gunukan miliknya hingga memerah, lalu tak lama setelah itu Arlan keluar.
Mata Arlan menggelap mantap pay*dara sisi yang diremas sendiri oleh gadis itu "Emh... Ah...ah" sisi menjatuhkan diri di lantai, ia mengang kang lebar memperlihatkan lubang miliknya pada Arlan yang sudah dipengaruhi obat perangsang yang gadis itu berikan.