Good Romance With My Bad Mafia

Good Romance With My Bad Mafia
CHAPTER 33



HALO! 👋 JANGAN LUPA TEKAN LIKE 👍 & KOMEN 💬 DI BAGIAN YANG KALIAN SUKAI YA


HAPPY READING


...****************...


AAAA!!!


Yaya membuka mata nya, ia terkejut bukan main, otaknya sejenak terasa kosong, ia menatap sekeliling nya. Ia kini duduk di sofa single mewah, lebih tepat nya ia duduk di pangkuan Arlan.


Yaya tersentak saat merasakan satu kecupan basah di leher nya, ia melirik si pelaku, Arlan hanya tersenyum manis "kenapa, baby?" ucapnya pelan dengan suara bariton khas nya.


"TOLONG HENTIKAN! AAAA!!!"


Yaya terjengkit kaget, ia melirik sumber suara. Di depan sana, sudah ada tiga wanita cantik yang sedang di siksa oleh beberapa algojo bertubuh kekar dengan cambuk di tangan mereka.


CTASH!


"AAA!!! ARGH!"


Yaya memejamkan matanya erat, tubuh nya bergetar tak kuasa melihat siksaan yang didapat oleh tiga wanita itu. Yaya langsung berbalik, ia memeluk erat leher Arlan, dirinya menggigil mencoba menyembunyikan wajah nya di ceruk leher pria itu.


"Kenapa sayang? Kau takut?" yaya semakin memper erat pelukan nya, ia benar-benar tidak tahan mendengar suara jerit kesakitan wanita yang di siksa itu.


"Habisi mereka!" titah Arlan


Yaya langsung melepas pelukan nya, ia menatap wajah Arlan "No! Jangan Arlan! Jangan bunuh mereka!" Larang nya dengan bibir bergetar


Arlan tersenyum, ia mengangkat sebelah tangan nya mengisyaratkan si algojo untuk menghentikan aksi mereka sejenak. sebelahnya lagi terangkat mengelus sensual bibir bergetar yaya "kenapa sayang? Tidak boleh, hm?" tanya nya tepat di hadapan wajah jelita itu.


Yaya menggeleng "jangan membunuh, i-itu dosa terbesar Arlan, aku tak mau keu jadi seorang pembunuh"


Sebelah alis tebal Arlan menukik "kenapa? Lagi pula bukankah kau marah dan hendak meninggalkan ku karena mulut sialan mereka itu?! Mereka yang telah mengolok mu, mengatai mu yang buruk, kan?"


Yaya terdiam, benar! Merekalah orang nya, pantas saja yaya merasa tak asing dengan wajah ketiga gadis itu, ia melirik ke belakang guna menatap ketiga wanita yang sedang menangis kesakitan, baju mereka sudah compang-camping, banyak luka juga darah berasal dari tubuh mereka yang berceceran di lantai.


Yaya merasa ngeri saat menatap rambut ketiga wanita itu sudah digundul asal hingga botak, bekas potongan rambutnya berserakan di lantai, bercampur dengan darah juga cairan bening, entah air apa itu.


Yaya kembali menatap Arlan kala ia merasakan pria itu mengelus lembut pinggang nya. Bila dipikir-pikir posisi mereka sangat intim kali ini, namun yaya sudah tak perduli, yang ia pikirkan adalah bagaimana caranya agar Arlan batal menghabisi nyawa ketiga wanita itu.


"Aku minta maaf, lepaskan mereka Arlan. A-aku..." yaya menunduk sejenak, kemudian ia kembali menatap wajah Arlan, di elusnya rahang tegas pria itu dengan jemari lentik nya, membuat sang empu merasa senang dan tenang di waktu bersamaan.


"Aku janji tidak akan begitu lagi, aku tidak akan meninggalkan mu" ucap yaya, lalu setelah nya ia mengecup cepat hidung mancung pria itu.


Arlan mematung, jantung nya sudah berdiskoria! Darah nya berdesir hangat membuat bulu kuduk nya berdiri, ia menatap lamat wajah yaya. "Kalau begitu... Menikah lah, dengan ku"


Yaya tersentak, ia bingung harus menjawab bagaimana. ia tak mau menikah muda, apa lagi dengan pria egois seperti Arlan! Namun jika ia menolak langsung, sudah dapat di pastikan ketiga wanita itu akan mati hari ini.


Arlan berdecih "kau tak mau 'kan?" ujarnya kecewa.


Yaya gelagapan sendiri, ia lekas menangkup kedua pipi Arlan "beri aku waktu... Aku, tidak pernah berpikiran menikah muda" ucap yaya lembut, mengalun indah di telinga Arlan.


gadis itu menggeleng ribut "aku memang belum siap menikah muda, Arlan... Tolong mengertilah, padaku"


Arlan mengelakkan kepala nya dari tangan yaya "lanjutkan!" perintah nya pada para algojo hingga suara teriakan ketiga wanita itu kembali terdengar menggema di seluruh penjuru ruangan gelap ini.


"Tunangan! Aku mau bertunangan dulu!" jerit yaya gemetaran, seketika tangan Arlan kembali terangkat, para algojo pun berhenti menyiksa para wanita itu.


"Kau bilang apa, baby?" tanya Arlan menatap lekat gadis nya.


"aku mau jika bertunangan dengan mu" ucapnya dengan napas sesak.


Arlan menggeleng "kau terlalu memaksakan diri, hanya demi nyawa para wanita sialan itu!" seru Arlan menatap penuh selidik netra gadis nya.


Bahu yaya merosot, bagaimana lagi ini ya Tuhan? Yaya sangat takut ketiga gadis itu mati di tangan Arlan dan para anak buah nya. Ia tak menyangka jika Arlan ternyata jauh lebih gila dari dugaan nya. Ia psikopat kejam.


Yaya menatap wajah Arlan lekat, meski bergetar ia tetap berusaha berani menghadapi pria mengerikan itu "Aku bersungguh -sungguh Arlan... Ayo kita tuangan" yaya kembali mengelus rahang tegas Arlan, ia memajukan wajah nya semakin dekat...


Cup!


Yaya mengecup sudut bibir Arlan, sudut paling ujung, hanya sedikit bagian bibir pria itu yang terkena ciuman nya. Namun hal itu sangat berefek besar pada Arlan, ia mematung kembali. Tangan nya terangkat meraba sudut bibir nya yang terkena ciuman gadis nya, perut nya bergetar hebat seolah ada kupu-kupu kasat mata bergerayap disana.


Hati nya seketika menghangat, ia tersenyum menatap gadis nya yang hanya diam menatap wajah nya "kau barusan, mencium ku?" gumam Arlan tak percaya.


Yaya meraih tangan Arlan yang merabai sudut bibir pria itu sendiri, ia mengangguk mantap. Biarlah yaya kembali berkorban demi keselamatan nyawa tiga orang yang tersiksa dibelakang nya. Ia akan berusaha menerima Arlan, dan ia bertekat kuat akan mengendalikan pria berbahaya itu dengan kendali cinta yang ia punya.


"Yaya mohon, lepaskan mereka... Biarkan mereka pergi, okay?" bujuk yaya


Seolah tersihir, Arlan langsung mengangguk patuh "Lepaskan mereka!" titah nya pada kedua algojo itu.


Tak lama ketiga wanita itu langsung diseret paksa dibawa keluar oleh dua algojo tadi, kini tinggal lah yaya berdua dengan Arlan yang tak berhenti menatap lekat wajah nya.


"K-kenapa menatapku begitu?" tanya yaya gugup, sedari tadi ditatapi Arlan membuat nya jadi tertekan sendiri.


Arlan tersenyum, ia mengelus sayang pipi gadis nya "Aku senang, gadisku mencium ku tadi" ujarnya kelewat jujur.


Tidak tahukah Arlan kalau ucapan nya barusan seolah mengejek yaya seperti gadis binal? Oh astaga pria itu, ada-ada saja. Agaknya Arlan memang sudah di mabuk cinta.


"kau... Senang?" tanya yaya pelan, sangat pelan, sungguh ia sangat malu sekarang ini!


Arlan menganggukkan kepalanya "tentu saja! Kau tahu, sayang? selama ini aku menantikan itu"


"Kau berlebihan" dengus yaya menepuk dada pria itu kesal. Ia hanya mencium sudut bibir Arlan! Ingat sudut bibir nya saja, bukan langsung bersentukan bibir ke bibir!


Arlan tertawa melihat pipi yaya yang mulai merona cerah "aku mau lagi" pinta nya seenak hati.


Yaya melotot "No! Nanti saja, kalau sudah menikah" cicit yaya diakhir kalimat.


Arlan mengangguk "baiklah, kalau begitu... Ayo kita pulang, Lusa kita akan melangsungkan acara pertunangan!"