Good Romance With My Bad Mafia

Good Romance With My Bad Mafia
CHAPTER 69




EYYOW! SAY HELLO TO BABY YAYA GUYS 😁😁😁 Nuna dapet titipan pesan dari mas Arlan, katanya jangan lupa tinggalin jejak ya cintaku... Happy reading!!!


...****************...


Yaya menatap layar televisi full screen yang menayangkan film doraemon, Kini keduanya menghabiskan waktu bersama untuk menonton tv, Arlan yang minta.


Yaya diam saja sedari tadi menatap layar itu, matanya memang menatap.kesana, tapi pikiran gadis itu sedari tadi berkelana entah kemana. Jujur saja sebagai seorang gadis virgin yaya sangat anti terhadap hal berbau *** di luar ikatan pernikahan. Ia sangat benci hubungan bebas, kini ia menggeleng, entah kenapa kejadian di mobil juga saat di kamar kembali berputar di kepala.


Mengerikan! Yaya benci saat mengingat hal itu.


"Baby... Ingin sesuatu? Aku akan ke dapur mencari cemilan"


Yaya tersentak, ia sebisa mungkin mengontrol diri "tidak, terimakasih" jawabnya


Arlan diam sejenak, ia menatap wajah gadis itu dalam. Ia tahu, pasti ada sesuatu yabg disembunyikan yaya darinya, tapi... Apa itu?


"Okay, tunggu sebentar ya" Arlan menyempatkan diri mengecup pipi gadis itu sebelum pergi ke dapur.


...****************...


Arlan menatap seluruh koki yang sedang mengadon di atas meja, mereka menunduk hormat sejenak, menyapa dengan ramah sebelum akhirnya kembali melanjutkan pekerjaan mereka.


Arlan melirik sekitar nya, ia menatap seorang wanita yang sibuk melipat kain lap di ujung ruangan. Ani, wanita itu sedang sibuk melipat segala kain yang baru saja ia angkat dari belakang.


"Kau, kemari!" Titah Arlan tiba-tiba membuat seluruh nyawa terkejut menatapnya.


"Saya, tuan bos?" tanya salah satu art bertubuh gempal dengan bibir merah cerah seperti cabai.


"Dia" Arlan menunjuk Ani yang langsung berlari kecil menghampiri.


"Ada apa, tuan bos?" tanya Ani dengan sopan.


Arlan tak menjawab, pria itu melirik sekeliling dengan gerakan mata, menelisik dengan gaya cool seperti biasanya "di mana teman mu itu?"


Ani menunjuk ke belakang dengan ibu jari nya "sedang di toilet, tuan"


"Kalian tau apa saja cemilan yang sering di makan gadisku?"


Ani diam, untuk sejenak ia berpikir. "Nona suka cokelat, tuan. Dan snack manis juga. Mau saya ambilkan, tuan?"


Arlan mengangguk "sediakan, minuman nya juga"


"Baik tuan, segera saya antar ke kamar nona"


Arlan menyela "tidak, buat saja. Biar aku yang bawa"


meskipun bingung, Ani tetap mengangguk "baik tuan. Permisi"


Beberapa menit kemudian Arlan menatap nampan berisi beberapa jenis cemilan di atas meja "ini saja?" tanya nya


Ani mengangguk "biasanya ini yang nona suka, tuan"


"Bagus. Terimakasih"


"Sudah tugas saya tuan"


Arlan mengangguk sekali sebagai bentuk respon, lalu pria itu beranjak menuju kamar nya.


"Apa aku harus satu kamar dengan nya?" Arlan terkekeh setelah mengucapkan itu.


Langkahnya melebar, ia pun sampai. Yaya menatap pria itu dengan senyuman tipis, tidak seceria biasanya, Arlan jadi merasa ikut sedih melihat itu. Semua butuh proses, dan Arlan akan mencoba dari hal kecil agar gadisnya tak terkejut seperti sebelumnya.


"Ini, untuk mu, baby" Arlan meletakkan nampan tersebut di pangkuan gadisnya.


"Kenapa bawa untuk ku?" tanya gadis itu "aku sedang tidak mau makan cemilan, Arlan" Cicitnya pelan


Arlan menggeleng, ia memeluk pinggang ramping gadis itu "kamu suka ini semua 'kan? Jadi... Ayo, makanlah semua di hadapan ku"


"Tapi aku tidak nafsu makan" Tolak gadis itu pelan.


Dapat yaya dengar rahang pria itu bergemelatuk, sangat menyeramkan "jangan begitu... Setidaknya kamu harus mengerti keadaan ku sekarang" ucapnya lagi mencoba membela diri.


Arlan menangkap pipi gadisnya, ia mencium bibir itu berkali-kali, lalu ia tatap wajah cantik gadisnya "kenapa? apa kamu marah padaku?" tanya pria itu


"Lalu? Kenapa menolak? Bukankah gadisku ini sangat imut dan penurut? Dimana yaya-ku? Hm?" Arlan mengecup pipi gadisnya sebanyak mungkin, merasa gemas dengan wajah cemberut itu.


"Eumm...." yaya merengek minta dilepas, tapi Arlan justru semakin menghujani wajahnya dengan kecupan basah pria itu.


"i love you baby girl" ucap arlan serak tepat di depan bibir gadis itu.


Yaya mencubit perut berotot itu, sialnya Arlan tak merespon apapun "wajahku jadi basah!" omelnya.


Arlan tertawa "kau cantik sekali, baby... Semua ekspresi mu, aku suka"


"Tidak jelas" dengus gadis itu menepis tangan Arlan dari lehernya.


Arlan menganga "Kamu mencampakkan aku?" ucapnya dramatis menatap hampa tangan kirinya yang menggantung di udara.


Yaya terkekeh melihat ekspresi berlebihan pria itu, jika begini Arlan tampak lebih muda juga tampan berkali lipat.


"Kenapa tertawa? Hei... Kamu membuatku patah hati sayang, lihat tangan ini..." ia mengangkat tangan nya di hadapan gadis itu "dia baru saja ditepis oleh gadis tercinta ku, oh... Sayang" Arlan mengusap tangan nya itu dengan pipi seperti kucing yang sedang mandi.


Yaya tertawa, kenapa Arlan jadi absurd begini? "jangan berlebihan" ucapnya


Arlan menggeleng "haruskah aku menangis? Supaya kamu tahu betapa sakitnya hatiku?"


Akhirnya tawa gadis itu pecah, membuat Arlan merasa lebih lega "stop, kamu aneh!" Ujar gadis itu di sela tawa nya


Arlan tersenyum lima jari "nah... Begini," ia mengelus pipi gadis itu "kamu lebih cantik saat tersenyum, aku suka itu"


Yaya ikut mengusap pipi Arlan "kamu semakin tampan, apa rahasia nya?" celetuk gadis itu membuat Arlan tertawa "aku ini bibit unggul, sayang... Baru sadar kalau aku tampan, hm?" Arlan menggesekkan hidung keduanya.


"ayo lanjut nonton" seru gadis itu mematahkan harapan Arlan yang sudah bersiap ingin ******* bibir gadis nya.


"Baiklah" Arlan dengan santai mengangkat gadis itu duduk berpindah jadi di atas pangkuan nya, yaya menggeliat minta di lepas tapi Arlan menolak "begini saja, aku rindu memangku gadis mungil ini" ucapnya sembari mengelus rambut gadis itu.


Yaya memutar bola mata nya "ck, baiklah tapi tanganmu tidak boleh nakal, okay?"


Arlan berdehem seadanya "kalau ingat" timpalnya sembari memeluk erat pinggang gadis itu.


***


Lima belas menut aman terkendali, namun setelahnya sudah tidak aman, ada saja kelakuan tangan kekar itu yang membuat yaya menggeliat kesal. Entah sengaja atau tidak, Arlan dengan santai nya menyingkap baju gadis itu, tangan nya pun bermain di perut rata nya, sesekali bahkan jari Arlan masuk menggelitik pusar gadisnya.


"awh... A-arlan! Tangan nya" tegur gadis itu


Arlan tersenyum, "kenapa baby... Hm?" ucapnya serak tepat di telinga gadis itu membuat yaya jantungan mendengar suara deep khas nya yang amat se..xy


"T-tangan mu, lepaskan atau aku marah?!" ancam gadis itu blak-blakan.


"Marah?" tanya Arlan, pria itu menggesekkan hidung nya di tengkuk sang gadis membuat yaya merinding seketika.


"Arlan..." yaya mulai takut sekarang, lihatlah betapa intimnya posisi mereka, ditambah lagi Arlan sepertinya sudah turn on, siaga satu!


"Yes, baby.." sahut pria itu, sesekali ia mengecup basah leher gadisnya yang selalu menjadi candu bagi dirinya.


"Arlan, jangan begini, kamu membuatku takut" cicit gadis itu memilin jemarinya sendiri dengan kepala tertunduk.


Arlan menarik tangan nya keluar dari baju gadis itu, ia membalik badan sang gadis agar menghadap padanya. "Lihat aku" pintanya


Arlan mengelus pipi gadis itu penuh sayang, lalu turun ke bibir. Perlahan wajah Arlan mendekat, hingga kedua bibir itu menyatu dan saling beradu. Arlan tersenyum saat yaya berhasil mengimbangi gerakan bibirnya, gadis itu sudah tidak kaku lagi. Ia mengelus pinggang gadisnya sensual, membiarkan yaya yang mengambil kendali atas ciuman itu.


Yaya menarik napas panjang saat bibir mereka terlepas, ia menatap Arlan yang tersenyum manis padanya "you so sweet, baby" bisik Arlan tepat di depan wajah gadis itu.


Yaya menghindar saat Arlan hendak menyososr kembali bibirnya "napas dulu, sayang... Huhh" yaya berucap lembut agar pria itu menurut, dan benar saja, Arlan tak banyak protes, pria itu tersenyum menatap lamat wajahnya, dengan satu tangan naik mengusap bibir basah yaya dengan ibu jari nya "sudah?..." tanya Arlan


Yaya mengangguk, sedetik kemudian pergulatan bibir kembali terjadi. Lebih intens, lebih dalam, dan lebih menuntut sebab Arlan yang memegang kendali. Yaya melotot saat lidah pria itu masuk menggelitik seisi mulutnya. Ini kali pertama yaya melakukan hal tersebut. Karena biasanya hanya *******-******* kecil saja yang mampu ia lakukan.


Yaya memukul dada pria itu, Arlan melepas tautan keduanya, ia tersenyum lagi dan kali ini sangat manis, membuat yaya terpesona setengah mati. Damn! Arlan sangat tampan kali ini, entah mengapa kadar ketampanan nya meningkat drastis saat ini.


"Baby..." ucap Arlan serak


Yaya mengangguk "hm?" yaya mengelus rahang kokoh pria itu dengan lembut.


"I want you"