
Roma tersenyum lebar, ia berlari memeluk erat teman dekat nya, yaya yang baru saja tiba di kost mereka dengan Arlan yang setia mengawasi di belakang mereka.
"Kenapa kau menghilangkan diri!? Apa kau baik-baik saja?" tanya Roma penasaran seusai melerai pelukan keduanya.
Yaya tersenyum manis, "aku baik-baik saja, Roma. Dimana Ella dan meimei?" tanya nya
"Mereka masih ada kelas" jawabnya singkat, gadis itu mendekat "kau diapakan olehnya?" bisik Roma melirik sekilas sosok Arlan di belakang sana.
Yaya ikut melirik ke arah lelakinya yang sedari tadi diam memperhatikan keduanya. ia terkekeh "tidak apa-apa. Tak perlu khawatir, dia sangat menyayangi ku. Bahkan sekarang kami telah resmi bertunangan" yaya menunjukkan cincin yang ia pakai di hadapan Roma.
"Astaga! Sungguh?!" pekik Roma tak percaya "kenapa kalian tak mengundang ku?!" protes gadis itu agak kesal.
"Maaf, Roma, acara nya mendadak. Jadi, kami tak sempat mampir ke sini"
Roma memutar bola mata nya "kau bisa menghubungi ku lewat handphone mu, yaya" ujarnya jengah.
Yaya mengangguk pasrah "Maaf, aku tidak sempat, sungguh" Ujar nya merasa tak enak hati, pasal nya dari semua teman kost nya, sosok Roma lah, yang paling sering ia repot kan.
Roma mengangguk, ia kembali tersenyum "tak apa, aku akan selalu mendukung mu, kabari aku bila dia menyakiti mu, agar ku bawa kau lari dari nya"
Yaya tertawa menanggapi ucapan itu.
"Aku mendengar mu, nona!" ujar Arlan sirat akan amarah.
Yaya menggeleng kecil menatap Arlan, ia langsung menarik Roma masuk ke dalam kamar kost pribadi nya tuk berbicara lebih lanjut "Roma, aku ke mari untuk mengambil semua barang milik ku" beri tahu nya
Roma mengernyit, ia menatapi yaya yang mulai sibuk memasukkan baju-bajunya ke dalam koper besar "kau akan pindah dari sini?" tanya nya tak percaya
Yaya mengangguk, ia masih sibuk memasukkan semua barang miliknya ke dalam koper "aku... Sepertinya aku akan menikah dengan Arlan, jadi mulai sekarang aku akan terus bersama nya"
Roma mengangguk tak yakin "kau sungguh mencintai nya?"
Yaya terdiam sejenak, kemudian ia menutup rapat koper itu "Kurasa iya, aku juga bingung sebenarnya. Kau tau? Aku suka jengkel dengan nya, tapi... Di satu sisi aku juga sayang pada pria itu"
Roma mengangguk "selamat yaya, untuk kehidupan baru, mu. Semoga kalian bahagia selalu" Ia maju, kembali memeluk erat tubuh yaya.
...****************...
Selama perjalanan pulang, suasana mobil mewah yang ditumpangi keduanya sangat sunyi. Yaya yang sibuk menatap keluar jendela, dan Arlan yang fokus mengendarai mobil nya.
Sesekali Arlan melirik gadisnya, ia tersenyum setiap menatap tubuh itu. Arlan sangat bahagia karena kini yaya akan selalu berada bersama nya, yaya setuju akan permintaan pria itu yang memaksa yaya untuk tetap tinggal di rumah nya.
"Baby... Apa kau ingin mampir ke suatu tempat?" tanya Arlan, sebelah tangan nya meluncur mengelus lembut paha sang gadis.
Yaya menoleh, ia tersenyum lalu mengangguk "aku ingin membeli bakso bakar, dan sate. Apa boleh?"
Yaya tersenyum manis, gadis itu menangkap tangan Arlan yang mulai nakal menuju paha atas nya "No, tidak boleh melewati batas. Tunggu sudah menikah, okay?" peringat gadis itu lembut namun juga tersirat ketegasan dalam ucapan nya. Itu adalah cara terbaik agar Arlan mau mendengarkan nya.
Selama berada di dekat Arlan kini yaya tahu apa saja yang disukai dan yang tidak disukai tunangan nya itu, Arlan memang pria yang kejam, dan sedikit otoriter, namun pria itu sangat tidak suka saat yaya membentak nya. Arlan bisa ngambek seharian bila itu terjadi.
"Disana, Arlan" ujar yaya menunjuk pada pinggiran jalan depan yang merupakan wilayah perjualan kaki lima terkenal di daerah sini.
"Tidak, kita cari di restoran saja. Disitu kotor" tolak Arlan dengan cepat saat mengikuti arah telunjuk gadis nya.
"Hnggg!" yaya merengek marah, ia membuang pandangan nya jauh dari Arlan "Tidak jadi! Pulang saja!" bentak nya marah
Arlan yang dibentak seperti itu jadi takut sendiri, ia paling tak suka saat yaya sudah merajuk padanya, bisa-bisa gadis itu akan mogok bicara! Arlan tak mau di diami oleh gadis tercinta nya
"Baik lah, kita beli!" putusnya melajukan mobil nya menuju penjual kaki lima yang sempat di tunjuk oleh yaya.
Yaya seketika tersenyum, ia menatap Arlan dengan binar bahagia "thank you!" seru nya girang.
Arlan mengangguk, pria itu memarkir kan mobil nya di tempat aman, kemudian ia melepas sabuk seraya menatap lekat gadis nya "aku saja yang turun, kamu tunggu disini"
Baru saja yaya hendak protes namun ia urungkan sebab Arlan sudah menatapnya tajam "Tunggu di sini, sayang. Kalau kau menolak, kita pulang saja" ancam pria itu menatap gadis nya dalam
" Iya! Baiklah aku diam di mobil" ucap yaya sedikit tak terima.
Arlan mengangguk, pria itu menyempatkan diri tuk mencium pipi yaya sebelum pergi membeli makanan yang diinginkan gadisnya.
Yaya tersenyum menatap tubuh kekar Arlan yang menyelip diantara banyak nya pembeli yang mengantri. Merasa bosan menunggu, akhirnya yaya memutuskan untuk bermain dengan handphone milik Arlan, sudah biasa ia menjamahi benda itu, Arlan pun tak masalah.
Yaya membuka galery Arlan, disana tak banyak potret pria itu, hanya ada beberapa foto Arlan bersama rekan kerja nya, dan terakhir ada satu foto anak kecil yang sedang di gendong oleh seorang wanita, tampak seperti anak dan ibu "apa ini Arlan?" tanya yaya bergumam.
Gadis itu menatap lekat wajah pria kecil yang di gendong ibunya itu, yaya memperbesar layar, ia tersenyum yakin kalau di foto itu memang lah wujud Arlan saat masih kecil.
"Dia tampan, dan menggemaskan" puji yaya.
Gadis itu beralih melihat foto-foto lain, dimana ada Arlan bersama rekan-rekan bisnis nya yang berperawakan asing, Yaya mengernyit saat salah satu foto menampakkan Arlan sedang di rangkul mesra oleh gadis lain berpakaian minim, suasana latar belakang nya sangat gelap, dan ramai, bisa yaya tebak kalau itu di sebuah Club malam.
"Apa ini mantan kekasih Arlan?" tunjuknya pada wajah menor gadis itu "ewh... Dada nya besar sekali" komentar yaya mencemooh.
Memang benar, di layar itu tampak si gadis memiliki tubuh yang sexy, montok sekali. Payudara besar, bokong nya juga, semakin terlihat hot dengan baju ketat di badan nya yang hanya menutupi sedikit bagian tubuh nya saja.
"Ternyata benar, tipe Arlan itu seperti itu"
"Seperti apa?"