
Acara pertunangan telah selesai diselenggarakan, tiga hari mereka kedatangan banyak tamu yang mampir ke rumah untuk memberikan ucapan selamat juga berbagai macam kado.
Yaya merasa senang, akhirnya ia bisa dilirik baik oleh orang-orang, tidak lagi di pandang buruk seperti biasanya yang ia dapat.
"Yaya, aku mengantuk" bisik Arlan mengadu.
Yaya tersenyum manis, gadis itu menganggukkan kepalanya, ia menarik Arlan menuju kamar pria itu. Semerbak aroma maskulin menyeruak kala pi tu berhasil dibuka, yaya menatap kamar nuansa putih itu yang tampak sangat rapih dan bersih.
"Tidur lah, aku akan ke—" ucapan yaya terhenti kala Arlan memegang erat tangan nya sambil menggeleng "temani aku!" pinta nya memaksa.
Yaya menghela nafasnya, semenjak resmi bertunangan pria ini jadi sangat manja terhadap nya "masih ada tamu, Arlan... Tak enak jika—"
"Biarkan saja, aku tak mau tidur kalau kau tetap pergi ke bawah" tekan pria itu enggan dibantah.
Yaya mengangguk pasrah, gadis itu naik ke kasur, ia ikut bergabung di sebelah Arlan, pria itu tersenyum lebar saat yaya tak menolak ia peluk. "Aku mencintai mu, yaya"
"I know"
"Jawab!" tekan Arlan, ia sudah bosan selalu menyatakan cinta sendirian, sedangkan yaya tak membalas menyatakan cinta padanya.
"Aku masih ragu, Arlan... Aku belum mencintai mu, bersabar lah, okay?" ucap yaya sembari mengelus kepala Arlan yang menyeruk ke leher nya.
"Cintai aku, jangan tinggalkan aku, yaya. Atau dunia mu akan hancur di tangan ku"
...****************...
Para koki tersenyum ramah saat Nona mereka mampir kembali kedapus setelah sekian lama nya yaya tak diperbolehkan masuk kesana karena Arlan.
"Nona? Ada yang ingin nona pesan?" tanya Kepala koki dengan senyum merekah.
Yaya mengangguk "aku ingin brownies coklat"
"Baik nona!"
Yaya duduk di meja makan, ia menatap buah-buahan segar yang telah ditata rapih dalam keranjang saji.
Gadis itu melirik sekeliling nya. Ia jadi mengingat saat dimana ia kali pertama memasuki tempat ini, tempat dimana yaya merasa sangat bahagia karena bisa memakan segala yang ia Mau.
Yaya melirik ke samping, ia memdengar suara pelayan kebersihan berlari tergopoh-gopoh menghampiri nya "Nona! Tuan nona, tuan... Mengamuk di kamar nya! Banyak suara pecahan terdengar" Lapor pelayan itu
Yaya mengangguk, ia bergegas berlari menuju kamar Arlan, tempat terakhir ia melihat pria itu.
BRUGH!
Yaya terjengkit kaget saat mendengar keributan dari dalam sana, perlahan ia membuka pintu kamar itu, ia menemukan banyak sekali barang berserakan di lantai, kasur Arlan sudah acak-acakan tanpa adanya pria itu disana.
"Arlan..." ia menyapu pandangan nya, dan betapa terkejutnya ia menatap Arlan yang sudah shirtles berlari ke arah nya, mengabaikan pecahan vas yang ia pijaki.
Arlan memeluk erat tubuh gadis nya, ia menenggelamkan wajah nya dalam ceruk leher jenjang yaya, gadis itu dapat mendengar geraman rendah pria itu, ia juga dapat merasakan tubuh Arlan yang sedikit gemetaran memeluk nya erat.
"Hey... It's okay, aku disini... Tenang, Arlan... Tenang lah" yaya mengusap punggung lebar tunangan nya, ia juga mengelus tengkuk Arlan agar pria itu merasa nyaman.
"Ke kamarku, okay? Disini banyak beling" ucap yaya lembut berbisik tepat di telinga pria itu.
Arlan mengangguk saja, setelahnya ia langsung menggendong yaya ala koala dengan erat, membawa gadis itu ke kamar nya yang berada tepat di sebelah kamar Arlan.
BRAK!
Arlan menutup pintu dengan menggunakan kaki nya, ia kembali berjalan menuju kasur nuansa pink bergambar bunga milik gadis nya. Ia duduk di pinggiran ranjang masih dengan yaya yang ia peluk erat dalam pangkuan pria itu.
Yaya hanya diam membiarkan Arlan mengecup basah leher nya, biarlah pria itu berbuat demikian, asalkan ia bisa lebih tenang, "kenapa marah seperti itu? Hm?, apa kau bermimpi buruk?" tanya yaya diselingi tebakan.
Arlan mengangguk, ia memeluk yaya semakin erat "aku, mimpi kau pergi, meninggalkan ku" Arlan berucap serak, ia menatap yaya lekat dengan wajah sendu nya "di mimpi itu, kau menikah dengan pria lain, kau mencampakkan ku" Adu nya jujur.
Yaya mengangguk paham, ia Mengusap mata berair Arlan, entah sejak kapan pria itu menangis "itu hanya mimpi, Arlan... Aku disini, masih bersama mu" ucap yaya, ia mengangkat tangan kanan nya, menunjukkan cincin pertunangan mereka yang terpasang indah di jari manisnya "lihat? Aku masih tuangan, mu"
Arlan mengangguk "jangan pernah berpikiran pergi meninggalkan ku, ya?"
"Iya" yaya kembali memeluk pria itu "tenang saja, aku bersama mu"
Arlan mengangguk, ia kembali mengecupi leher yaya, sesekali menjilat nya, Arlan sangat mencintai gadis ini.
"Jangan buat tanda apa pun disana, paham?" Ucap yaya dengan tegas melarang Arlan agar tidak memberikan kissmark di lehernya.
"Iya, sayang"
Arlan diam, ia kembali menjilati leher putih gadis itu, sangat terasa candu baginya. Sedangkan yaya sendiri sudah mati-matian menahan mulutnya agar tidak mengeluarkan suara aneh akibat jilatan di lehernya itu.
"I love you, yaya..."
Cup!