
Yaya tediam mendengar kalimat pria itu, sungguh Arlan ini patut untuk dicurigai, Ia sangat sulit ditebak! Dan untuk apa ia meminta pelukan dari yaya? Apa ia ingin mencari kesempatan?
"Sebentar saja, aku janji" pinta Arlan sedikit memohon.
Yaya tertegun menatap mata Arlan yang memancarkan sesuatu, tampak ada gurat sendu di iris gelap itu, membuat nya tak tega tuk menolak "hm" yaya mendekat sambil merentangkan tangan nya.
Tanpa berlama-lama Arlan langsung masuk ke pelukan gadis itu, ia menenggelamkan wajahnya di pundak mungil milik yaya. Yaya kebingungan menghadapi sikap pria di dekapan nya ini, entah apa yang terjadi pada Arlan hingga ia bersikap berbeda kali ini.
Arlan memper erat pelukan nya saat yaya mengusap lembut punggung lebar nya, tanpa sadar ia menarik yaya duduk diatas pangkuan nya hingga gadis itu menegang "Arlan!" tegur yaya namun tak diindahkan sang empunya nama.
Arlan menggeleng, ia memeluk erat pinggang gadis itu. Wajah nya ia sembunyikan di ceruk leher yaya. Yaya yang awalnya memberontak minta dilepas kini terhentak saat merasakan lehernya basah, apa Arlan menangis?
"Arlan"
Arlan menggeleng, ia semakin mengeratkan pelukan nya "tunggu sebentar, biar begini dulu" pinta nya dengan suara serak.
Yaya mengangguk paham. ia semakin yakin kalau pria itu tengah menangis di pelukan nya. Karena pada dasarnya yaya adalah gadis yang baik hati, ia pun membiarkan saja Arlan memeluk puas tubuh nya. Tangan lentik itu dengan lembut mengusap pundak juga kepala Arlan yang bertengger di leher nya.
"It's okay... Menangislah, jangan ditahan" bisik yaya lembut, seketika tangis Arlan pecah, memang suaranya tak keras, namun yaya bisa mendengar pria itu sesenggukan memeluknya, baju nya pun ia rasa sudah banyak bagian yang basah terkena air mata pria itu
"Keluarkan saja, tak apa-apa..."
Lima menit lamanya Arlan menangis pecah di pelukan yaya hingga..
"Yaya"
"Hm?" yaya berdehem. tangan nya masih setia mengelusi Arlan mencoba menenangkan pria itu.
"Apa kau mau bercerita?" tanya yaya
Arlan diam, napasnya masih tak beraturan, entah mengapa di pelukan yaya ia jadi secengeng itu.
Yaya maklum saja, ia menarik wajah Arlan, mencoba menatap wajah pria itu, namun Arlan menolak, ia semakin menyorok pada leher yaya. Gadis itu menghela napas "apa kau sedang ada masalah?"
Arlan mengangguk kecil.
"Arlan.. Sini, coba ku lihat" Yaya mencoba melepas rengkuhan erat pria kekar itu, namun lagi-lagi gagal sebab Arlan tak mau melepaskan nya.
"Arlan, lepaskan. Aku pegal" Alibi gadis itu agar Arlan mau melepaskan nya.
Yaya berdecak karena Arlan sama sekali tak menghiraukannya "Arlan!" pekik yaya mulai emosi, namun ia tahan sebab ia sadar kalau Arlan sedang bersedih sekarang ini
"Arlan, sini tatap aku"
"No"
"Lepaskan, atau aku tak akan mau berbicara lagi dengan mu"
Dan benar saja, usai mengancam hal.itu Arlan langsung mendongak menatap nya. Yaya dalam hati berteriak gemas menatap wajah serta hidung memerah pria itu. Perlahan yaya mengusap sisa air mata pria itu, Arlan memejamkan mata menikmati elusan halus di wajah nya. Sungguh nyaman berada di dekat gadis ini.
"Kenapa kau menangis?" tanya gadis itu.
"Banyak masalah menimpaku belakangan ini" jawab Arlan pelan, nyaris seperti bisikan.
Yaya mengangguk paham, ia tersenyum maklum. Ia melirik pinggangnya sendiri yang masih dilingkari lengan kekar Arlan "Kurasa sudah cukup. Kau berjanji hanya sebentar"
Arlan tak menjawab, pria itu menatap lekat wajah yaya dari dekat.
"Arlan, ayo lepaskan tangan mu!"
"Jadilah kekasihku"
Yaya mematung sesaat, ia menatap mata Arlan dalam hening, apa Arlan sudah gila sungguhan? "Jangan bercanda, dan lepaskan aku!" Decak yaya kesal
"No, aku bersungguh-sungguh. Jadilah kekasihku"
"Tidak maaaf aku tak berminat" Tolak gadis itu tak berperasaan.
"Kenapa" tanya Arlan ketus, seketika atmosfer terasa lebih mengerikan dari sebelum nya.
"K-karena, aku tak mau! Lagi pula, kau gila? Kita baru bertemu belum lama ini, dan kau meminta ku jadi kekasih mu? Oh, yang benar saja"
Alis Arlan menukik tak suka mendengar perkataan yaya barusan seolah meragukan cinta nya "apa yang salah? Aku sungguh menyukai mu"
"Turunkan aku dulu, Arlan. Aku tak nyaman begini"
Arlan berdecak marah, namun tak ayal ia menuruti gadis itu, ia kembalikan yaya duduk di samping nya. "Kau harus mau!" tekan Arlan dengan tegas
"No, tak bisa begitu. Kau tak bisa paksakan cinta, Arlan"
Arlan menatap tajam wajah gadis itu "jadi kau masih menolak?"
Yaya menggeleng ribut saat Arlan mengambil borgol dari kantung belakang kursi yang ia duduki "Arlan! Tidak tidak!"
Arlan terkekeh sinis menatap yaya yang tampak ketakutan saat ini, sangat berbanding terbalik dengan sikap nya beberapa detik lalu.
"Tampak nya kau suka jika aku kasar padamu, sayang"
"NO! JANGAN..." yaya bergetar saat Arlan semakin mendekatkan borgol itu pada nya.
"Kau terlalu nakal untuk aku yang benci pembangkang, *my angel*"