
Arlan berjalan memasuki mansion keluarga nya, ia menatap sekeliling yang tampak sunyi seperti biasa. Ia melihat salah satu bodyguard berjalan mendekat, bodyguard itu menunduk hormat pada tuan nya.
"Malam, tuan"
Arlan mengangguk saja, ia menatap sekeliling, kemudian pandangan nya terangkat ke atas, dimana lantai tiga berada, kamar pribadi yang sengaja ia siapkan untuk yaya.
"Dimana gadisku?" Tanya Arlan
"Nona, berada di meja makan. Tuan"
Arlan mengangguk sekali, ia berjalan menuju tempat yang di maksud oleh anak buah nya tadi, Senyum Arlan tersungging kala matanya mendapati objek yang ia mau. Tampak di meja makan yaya duduk sendirian dengan berbagai hidangan lezat mengelilingi piring gadis itu.
Arlan mengernyit samar saat menatap gadis nya yang tampak sedih, ada apa dengan gadisnya? Apa makanan nya tidak enak? Atau ada yang berani mengganggu gadisnya?
Arlan berjalan semakin mendekati gadis itu, ia mengambil tempat duduk tepat berada di sebelah gadis nya. "Kau tidak berselera makan?" tanya Arlan datar.
Yaya menoleh, ia sedikit terkejut saat mendapati Arlan di sebelahnya. Sangking sedih nya yaya, gadis itu sampai tak sadar kalau Arlan sudah duduk di dekat nya, lengkap dengan wajah datar andalan pria itu. Aneh, biasanya Arlan memang tak berekspresi seperti itu, namun bila di dekat yaya, biasanya Arlan bebas melepaskan ekspresi muka nya di hadapan sang gadis.
Yaya menghela napas pelan, ah ia baru ingat, tadi pagi kan ia sempat bertengkar hebat dengan Arlan, mungkin saja Arlan tersinggung atau mungkin sakit hati pada ucapan yaya saat ia menolak perasaan pria itu.
"apa kau tuli?"
Yaya terbelalak mendengar penuturan Arlan barusan, entah mengapa hatinya serasa dicubit saat pria itu tidak semanis biasanya.
"Aku sudah kenyang" ucap yaya ketus, ia beranjak pergi meninggalkan Arlan sendirian di meja makan.
"Ada apa dengan nya?" ucap Arlan menatap punggung mungil itu yang semakin menjauh darinya.
...****************...
Brak!
Yaya menutup pintu kamar nya dengan keras, ia menghempaskan tubuhnya diatas kasur, mata nya menatap kosong ke langit-langit kamar itu. Yaya bingung pada dirinya sendiri saat ini, ia membenci Arlan tapi ia tak suka saat Arlan tidak semanis biasanya.
"Padahal aku selalu merasa jijik jika pria itu mengeluarkan suara lembut nya, tapi... Kenapa sekarang aku malah sedih saat dia sudah bersikap biasa saja"
Yaya memejamkan mata nya, ia mencoba me-rileks kan diri.
Tok! Tok!
"Yaya, apa kau disana?"
Yaya membuka matanya lagi, ia beranjak turun dari kasur saat Arlan menyapa dari seberang pintu kamarnya yang tertutup.
ceklek....
"Kenapa?"
Arlan mendengus samar, jujur ia merasa kesal ketika yaya menatapnya tanpa ekspresi seperti itu. Ah, Arlan sangat rindu melihat tingkah menggemaskan yaya, yaya yang lucu, dan suka menangis.
"Boleh aku masuk?" tanya Arlan
Yaya mengernyit, ia sempat ingin menolak namun urung kala gadis itu di dorong Arlan hingga kini keduanya telah berada di dalam kamar.
Arlan mengunci pintu tersebut, kemudian ia menarik yaya menuju sofa di kamar itu. Arlan menghembuskan napas kasar saat yaya beringsut menjauhi nya "aku rindu padamu, yaya" ucap Arlan seraya mengelus kepala gadis itu lembut.
Yaya berdecak "kau hampir setiap jam melihatku. Aku selalu berada di rumah mu, mengapa kau rindu?"
"entah lah" Arlan merebahkan diri, ia menjadikan paha gadis itu sebagai bantalan nya "sebentar saja, kumohon" ucap Arlan saat yaya bergerak ingin menjauh.
yaya diam, gadis itu menatap wajah Arlan yang tampak damai, mata pria itu terpejam dengan deru napas kasar, sepertinya Arlan sedang memiliki masalah, kali ini. Dan ia butuh yaya tuk menenangkan diri.
Tangan yaya terangkat, gadis itu mengelus rambut Arlan hingga sang empu sontak membuka matanya kembali. Yaya refleks melepaskan elusan itu "m-maaf, ku kira.." ucapan yaya terhenti kala tangan kekar Arlan kembali mengarahkan tangan lentik nya mengelus kepala pria itu.
"Lagi" pinta Arlan.
Yaya mengangguk, ia kembali mengelusi rambut Arlan dengan sayang, gadis itu terdiam dengan hati yang gelisah. Ia tak mau berlama-lama seperti ini, tapi ia tak bisa lari.
"Kau cari apa?" tanya yaya kala tangan Arlan merabai sofa di belakang atas kepalanya, seolah mencari sesuatu.
Arlan menatap yaya "tangan mu satu lagi" ucapnya.
"Ini?" yaya mengangkat tangan nya yang menganggur, dengan cepat Arlan menangkap tangan itu, diciumi nya jemari yaya sambil memejamkan matanya.
Yaya diam, ia tak mau mengganggu aktivitas si pemaksa ini, biarlah Arlan berpuas diri selama satu bulan ke depan, setelah nya. Jangan harap ia bisa bertemu yaya lagi.
"Hey!" tegur yaya saat Arlan mengemut jempolnya seperti sedang melahap permen.
Arlan membuka matanya kembali, ia menatap lamat wajah galak yaya "please... Aku suka jari mu"
Yaya tercengo melihat tingkah Arlan kali ini, ia persis seperti anak kecil yang haus belaian. "No! Jorok Arlan" yaya hendak menarik paksa tangan nya namun tak bisa sebab Arlan menggenggam nya dengan erat.
Arlan menggeleng "aku ingin bermanja dengan mwu! Jangan membantah!"
Ah rasanya yaya ingin menjambak pria itu sekarang juga "Arlan, kau... Tangan ku belum tentu bersih, kenapa kau sembarangan melahapnya?! Lepas!"
"Lepas!"
Arlan sedikit ciut saat yaya menatapnya garang begitu, ini kali pertama yaya menunjukan sisi otoriter nya pada si pria "No" cicit Arlan masih kekeh ingin mengenyot jempol yaya.
Si gadis menghela napas "Baiklah, kau boleh mengemut nya, tapi lepaskan dulu, biar ku cuci tangan ku hingga bersih" putusnya
Arlan menggeleng
Yaya berdecak, kenapa manusia satu itu sangat menyebalkan dan keras kepala!?
"Arlan..." yaya mengelus sayang kening pria itu, menatapnya lembut, berusaha membujuk Arlan. Bukan nya apa, yaya tak mau Arlan asal menghisap jari nya, siapa yang tau kalau jari itu sedang kotor dan mengandung kuman? Kasihan Arlan ia bisa sakit.
"Lepas kan, dulu... Okay?" ucap yaya lembut, mendayu indah di telinga Arlan, seolah terhipnotis, Arlan menuruti perkataan gadis itu. Sial telinga Arlan pasti sudah memerah saat ini.
Yaya tersenyum, ia mencabut pelan jempol nya dari mulut pria itu "Di cuci dulu, okay?"
Arlan mengangguk, yaya tersenyum puas, ia menjawil gemas pipi Arlan yang sudah merah seperti tomat.
"Sekarang, minggir, aku akan mencuci tangan"
Merasa Arlan sudah duduk dengan tegap, dengan segera yaya berlari menuju toilet guna mencuci bersih tangan nya, tak lupa ia juga mengeringkan seluruh bagian menggunakan handuk bersih. Yaya kembali menuju sofa dima Arlan tengah menatap penuh binar pada nya.
"Kemari" ucap Arlan merentangkan tangan nya.
Yaya mengernyit, ia tak menurut, justru gadis itu duduk di sebelah Arlan, mengabaikan tangan pria itu yang telah merentang minta di peluk.
"Sini, bukan nya tadi, kau mau tidur? hm?" yaya menurunkan tangan pria itu, membawa leher Arlan turun
Arlan menatap sinis sang gadis, ia merebahkan dirinya dengan mata terpejam, tangan nya meraih jemari lentik yaya, menciumi nya satu persatu, setelahnya ia jilat seluruh permukaan telapak tangan gadis itu.
"Eh?" yaya hendak menjauhkan tangan nya namun ditahan Arlan "No No No!" larang Arlan seperti bocah pada umumnya.
Yaya tertegun, ia membiarkan tangan nya dimainkan oleh pria itu, di kecup, di jilat, hingga di kenyot oleh Arlan seperti sedang mengemut permen.
"Jangan terlalu kuat, nanti lidah mu lecet, Arlan" tegur yaya sembari mengelus kepala pria itu dengan tangan nya yang lain.
Arlan tak mendengarkan, pria itu masih asyik mengemut jari yaya, mulai saat ini jari yaya akan menjadi mainan favorit nya "Arlan... Kuku ku sudah memanjang, nanti mulutmu luka"
Arlan mengangguk saja, pria itu menatap lekat wajah si gadis dari bawah "mommy"
Yaya tersentak kaget, ia menatap horor wajah pria itu "astaga apa kau kerasukan?!"
Arlan memutar bola matanya jengah "akwu swekahang bia mwehasakan mommy" ucapnya, ia mengernyit tak suka saat yaya tertawa mengejek.
Arlan melepaskan jari gadis itu, agar ucapan nya bisa terdengar dengan jelas "dulu mommy ku tak pernah mau memanjakan ku, ia sibuk bersama daddy ku bekerja keluar kota. Aku di asuh oleh baby siter selama aku kecil" adu nya pada yaya.
Yaya berdecak kagum, baru kali ini ada manusia berbadan kekar yang berperilaku layaknya anak kecil, lihatlah Arlan berucap dengan polos menggunakan suara deep nya itu.
"Benarkah? Lalu, dimana mereka sekarang?" tanya yaya
Arlan menggeleng "masih sibuk" ia kembali memasukkan jari yaya ke dalam mulut nya.
Yaya tersentak, masih belum terbiasa saat jemarinya bersentuhan langsung dengan lidah lembut nan basah pria itu.
"Apa dulu, kau suka menggunakan dot?" tanya yaya
Arlan menggeleng, ia memang tidak suka dot sedari kecil ia sudah dibiasakan menggunakan gelas.
Yaya mengangguk, gadis itu tersenyum menatap wajah damai Arlan, ia mengelus kerutan samar di kening pria itu "apa kau sedang ada masalah?" tanya nya "maksud ku, di kantor mu.. Mungkin?"
Arlan mengangguk, ini kesempatan baik! Kapan lagi yaya mau menaruh perduli seperti ini padanya?
"Apa itu masalah yang besar?"
Arlan kembali mengangguk, ia menatap lamat wajah khawatir gadis itu "jangan terlalu dipikir kan... Kau pasti bisa mengatasi nya, bukan?"
Arlan mengangguk "hm"
Yaya tersenyum tipis "kau sudah makan malam?"
Arlan menggeleng.
Yaya berdecak "kenapa? Padahal tadi kau menemui ku di meja makan"
Arlan melepaskan jari yaya dari mulutnya "kau meninggalkan ku" ujarnya ketus.
Yaya berdecih "apa hubungan nya!?"
...****************...
**Halo! jangan lupa komen kalau ada typo ya
ayo ngaku siapa yang baper sama cerita ini? hehehe**