Good Romance With My Bad Mafia

Good Romance With My Bad Mafia
CHAPTER 6



Yaya ikut berbaris bersama rekan kerja nya yang lain, gadis itu berdiri di barisan paling belakang sebab ia mengalah pada teman-teman nya yang heboh ingin berdiri paling depan.


"Mulai sekarang, pabrik ini akan lebih berkembang! Saya harap kalian semua bisa bekerja lebih keras lagi" Bos mereka berucap dengan tegas nan lantang menggema di seluruh ruangan. "Banyak target baru yang akan kita capai, dan saat ini puji Tuhan kita dapat donatur hebat, tuan Roverald bersedia menjadi bos besar di pabrik ini"


Seketika suasana yang awalnya hening berubah sedikit mendengung saat sosok pria berjas hitam maju selangkah, seolah mempersilahkan semua mata menatap dirinya. Jantung yaya bertalu ribuan kali lebih cepat dari biasa. Ia menganga menatap sosok itu, tampak di depan sana Arlan tengah tersenyum tipis menatap dirinya "dia... Benar-benar pria gila"


...****************...


"Berapa barang yang sudah kau siapkan?"


Yaya menghentikan langkah nya, gadis itu meletakkan puluhan tas yang sudah ia setrika dengan rapih di atas meja packing "Empat puluh lima buah"


Pria itu mengangguk, dirinya mulai mencatat kemudian merogoh laci yang berisikan uang. Yaya menunggu dengan girang, menatap lembaran uang itu membuat mood nya bagus "ini upah mu" Ujar si pria itu memberikan uang lembaran merah dan pecahan lain nya pada yaya.


"Terimakasih" Yaya menyimpan uang itu ke dalam tas, ia pun berlalu meninggalkan tempat itu.


21.20 WIB, Yaya menghela napas lelah, ia menatap jam tangan murah yang ia pakai saat ini. Itu barang pertama yang ia beli saat gajian beberapa bulan yang lalu, memang tampak buruk dan tak berkelas, tapi yaya tak masalah, toh ia hanya butuh kegunaan benda itu, bukan gaya nya.


"Lelah, angel?"


Yaya terpenjat kaget, sungguh diluar dugaan nya. Arlan tengah berdiri di samping nya dengan tangan memegang kunci mobil, menatap yaya dengan wajah ramah, ingin sekali yaya menendang wajah itu namun ia tak berani. Mengingat kini Arlan sangat berkuasa di pabrik tempat dirinya mengais rezeki.



"Kenapa kau disini?" tanya yaya berbisik, gadis itu melirik sekitar nya yang sepi, untunglah jadi yaya tak perlu repot bersembunyi dari tatapan para rekan kerja nya.



Arlan diam, wajahnya kembali ke mode flat "apa salah aku berada di pabrik milik ku sendiri?" tanya Arlan ketus membuat yaya menggeleng frustasi.


"Ah, terserah... Sudahlah, aku ingin pulang. Permisi Bos Arlan yang terhormat"


Yaya mendengus kesal "berhenti mengganggu ku! Dan ku ingat kan NAMAKU BUKAN ANGEL!"


Arlan terkekeh tipis melihat wajah memerah yaya, ingin sekali ia meremas wajah itu sangking gemas nya. Yaya mengernyit tak suka saat Arlan melepas genggaman nya dan langsung meremas jas nya sendiri di bagian dada "ah, aku sakit hati. Bisa-bisanya karyawan ku memaki bos nya sendiri?" ujarnya dengan raut jumawa, hendak menjahili yaya.


"Dasar gila" Celetuk yaya spontan.


"Terimakasih" sahut Arlan dengan wajah tengil nya.


"Kau ini kenapa?! Minggir, aku ingin pulang" yaya mendorong bahu Arlan agar menjauh dari nya, namun gagal, pria itu tak bergerak sama sekali dari tempatnya.


"Pulang denganku"


"Tidak trimakasih"


"Aku antar kau pulang, yaya" tekan Arlan kembali menggenggam lengan gadis itu.


Yaya berdecak kesal "lepas! Aku bisa pulang sendiri!"


"Mau ku pecat?"


Pergerakan yaya sontak berhenti, ia menatap pias wajah itu, tak percaya akan kalimat yang baru saja dikatakan Arlan, ralat—ancaman. pria itu baru saja mengancam nya!


"Kau mengancam ku?" lirih gadis itu tak habis pikir.


Dengan mantap Arlan mengangguk "pilih, pulang bersamaku atau..."


"Aku pulang dengan mu!" seloroh gadis itu cepat, membuat Arlan menerbitkan senyum kepuasan.