Good Romance With My Bad Mafia

Good Romance With My Bad Mafia
CHAPTER 3



yaya menghela napas lega, Sekarang sudah jam pulang kerja, artinya ia bisa berehat sejenak di rumah sebelum nanti kala petang ia melanjutkan pekerjaan kedua nya di pabrik tas.


"Pulang dulu, Bos" pamit yaya dan para pekerja lainnya serentak pada Bobi yang sedang menghitung pendapatan hari ini.


"Ya, Berhati-hati lah"


Yaya tersenyum tipis menatap teriknya cuaca, gadis itu melirik sekilas para rekan kerja nya yang sudah bersiap menaiki kendaraan mereka masing-masing. Enak sekali mereka, tinggal duduk, mengendarai bisa sampai dengan cepat tanpa harus berpenat berjalan kaki seperti yaya.


"Yak, kau pulang jalan lagi?"


Yaya berhenti seketika, ia menatap Yona dan beberapa pekerja lain yang sedang menatapi wajahnya "iya" jawabnya.


"Mau sekalian kuantarkan?"


Bukan Yona yang menawarkan barusan, tetapi gadis lain bernama sisi. Yaya hanya menggeleng tersenyum ramah menatap sisi yang selalu menawari nya pulang bersama "tak usah, kita beda arah"


"Tak apa apa, ayo. Cuaca panas sekali hari ini"


Lagi, yaya menggeleng "terimakasih sisi, aku jalan saja. Kalian berhati-hati lah, sampai jumpa besok" ucap yaya sembari melangkah meninggalkan tempat itu.


"Sudah ku bilang, kan? Dia itu sombong sekali. Untuk apa kau repot menawari tumpangan?" Celetuk Yona saat yaya sudah tak lagi berada di dekat mereka


"Apa salahnya? Kau ini selalu berpikiran buruk pada yaya. Kasihan dia itu orang baik" Sahut Sisi dengan sedikit rasa kesal.


"Ya, ya, ya terserah! Ayo pulang"


\*\*\*\*\*


Tin!


Yaya terjengkit kaget, ia melirik ke samping, dimana sudah ada sebuah mobil berhenti dengan kaca depan yang terbuka "masuk"


Yaya menghela napas jengah, ia kembali berjalan tanpa mau memperdulikan orang di dalam mobil itu.


"Diam disana!"



yaya menghela napas lelah, haruskah ia berurusan lagi dengan pria itu? Sungguh yaya sangat lelah sepanjang hari ini tak berhenti bekerja, dan sekarang ia harus kembali mengurusi orang itu? Ah, agaknya Arlan tak memperdulikan permintaan nya saat Di restoran beberapa saat lalu.



Sedangkan di belakang sana Arlan mengeratkan rahang menatap yaya. Gadis itu tak mau menuruti perkataan nya, gadis pembangkang pertama yang ia jumpai di bumi. Sebelumnya tak ada yang berani membantah perkataan nya.


"Berhenti atau, aku akan memborgol mu"


Arlan tersenyum saat detik berikutnya gadis itu mematung di tempat. Pria itu berjalan mendekati si gadis dengan raut datar seperti biasanya "apa kau suka di ancam?"



Yaya tak berkutik, gadis itu bahkan enggan menatap pria yang kini sudah berdiri di samping nya.


"Apa susahnya menurut? Kau ini... Nakal sekali"


Yaya mendelik mendengar penuturan yang ia anggap seperti ejekan di telinga nya "jangan banyak bicara, tuan. Kita bukanlah apa-apa. Kau ada perlu apa dengan ku?" Tanya gadis itu dengan ketus membuat Arlan terkekeh tipis, sungguh menarik.


"Masuklah, aku antar kau pulang"


"Tidak, terimakasih"


Arlan menggeram rendah, setelahnya pria itu langsung menarik yaya dalam gendongan nya seperti membawa sekarang beras. Yaya yang mendapatkan perlakuan abnormal seperti itu sontak berteriak, ia turut memukuli punggung lebar Arlan, sialnya pria itu hanya diam, seolah tak merasa kesakitan sama sekali.


"Turunkan aku! Tolong!"


"Tutup mulutmu Yaya"


Yaya semakin gencar memukuli punggung Arlan, berharap lelaki itu membebaskan nya sekarang juga.


plak!


Kedua mata lentik yaya membola, baru saja bokong nya di tampar oleh Arlan!


"BRENGSEK! Lepaskan aku! Tolooong! tol—mmmmppph"


***Brukh***!


Arlan berhasil memasukkan gadis itu ke bangku samping kemudi "Diamlah, aku hanya ingin mengantarmu pulang. Jangan buat aku kasar padamu, my angel" Ujar Arlan dengan tatapan tajam nya, badan pria itu nyaris memeluk yaya yang hendak berontak, dengan cekatan tangan kekar Arlan merogoh dashboard, mengambil dua buah borgol dari sana.


"T-tidak! Tolong jangan, aku tak mau pakai benda itu" yaya bergetar menatap borgol di genggaman Arlan.


Arlan menarik senyuman tipis "kau takut dengan ini?"


Yaya menatap wajah pria itu. ia mengangguk ribut, tanpa dia paksa tangisnya meledak begitu saja di hadapan Arlan "j-jangan.... Hiks, aku tak mau memakai benda itu lagi.."


Arlan tertegun, ia serasa ditampar oleh air mata itu. Dan apa katanya tadi? Memakai benda itu LAGI?! yaya pernah memakai benda ini sebelum nya? Apa yaya mantan narapidana?


"Hentikan tangismu!" Arlan berdecak, setelahnya tangan itu kembali menyimpan dengan kasar borgol tadi ke tempat semula.


Yaya mengangguk, gadis itu dengan cepat menyeka air matanya sendiri hingga pipi nya memerah akibat gesekan tangan nya. Arlan sedikit bingung melihat tingkah yaya yang tampak sangat ketakutan, memilih abai pria itupun bergegas menuju tempat duduk nya setelah menutup pintu untuk yaya.



Yaya tak menjawab, gadis itu dengan cepat memakai sabuk pengaman nya, tak memperdulikan pria disamping nya yang sedari tadi mencuri pandangan terhadap nya.



Selama di perjalanan yaya hanya menatap kosong jalanan dibalik kaca disamping nya. Ia enggan bersuara, namun dalam hati ia merasa lega karena jalan yang mereka lewati ini memang jalan menuju kost nya. Setidaknya pria itu tak berniat menculik dirinya.


"Kau sudah makan siang?" tanya Arlan tiba-tiba


Yaya menoleh, ia menatap Arlan yang sedang menyetir dengan satu tangan, sangat keren di matanya!


"Belum?" tanya Arlan untuk yang kedua kalinya sebab gadis itu sama sekali tak bersuara.


"Sudah" Jawab gadis itu pada akhirnya


Arlan mengangguk, sesekali ia menyempatkan untuk melirik yaya yang kembali menatap ke arah luar, mengabaikan diri nya. Apa jalanan diluar sana lebih menarik dari pada dirinya yang tampan ini?


Yaya tersenyum tipis saat mobil mewah itu sudah terparkir dengan baik di depan kost an nya, ia membuka sabuk pengaman dan menatap.wajah tampan Arlan yang sentah sejak kapan sudah memperhatikan dirinya "Terimakasih tumpangan nya, Arlan"



Arlan tersenyum, ia senang saat gadis itu mau menyebut namanya tanpa embel-embel 'tuan' lagi.


"Tak masalah, oh iya tunggu sebentar.." Arlan beralih pada jok belakang, ia memberikan kantong plastik berisi susu kotak yang tadi pagi tak bisa yaya beli "terimalah"


Yaya menghela nafasnya "aku tak begitu menginginkan ini, bawa kembali. Terimakasih sebelumnya"


Jantung yaya berdegup cepat saat melihat raut kesal di wajah datar Arlan, bahkan rahang pria itu sudah mengerat menampilkan otot wajahnya yang saling menukik, sangat menyeramkan.



"Ada apa dengan mu!" Runtuh sudah pertahanan Arlan untuk bersabar, ia akhirnya membentak gadis itu dengan tangan mengepal memukul stir.


Yaya menggeleng "aku, aku hanya tak mau merepotkan siapapun"


Arlan menggeram rendah, pria itu menatap lagi wajah yaya yang sudah menunduk takut "karena kita hanya orang asing bagimu? Begitu?!" Tanya nya kesal


Yaya mengangkat wajah nya, ia memaksakan diri menatap Arlan yang tampak marah sekali karena penolakan kesekian yang ia beri "maaf, tapi tolong bersikap se wajar nya aja, jangan merepotkan dirimu begini" yaya meremat kantung plastik di pangkuan nya.


Arlan diam, pria itu menatap intens segala gerak gerik yaya di samping nya. Terjadi keheningan beberapa menit sebelum akhirnya ia kembali bersuara.


"Apa kau salah satu dari kawanan Samuel?"


yaya menatap mata legam milik Arlan, ia menggeleng "aku Ayashya, aku cuma manusia biasa yang bekerja sana sini demi hidupku, bukan apapun seperti yang kau pikirkan"


Arlan menghela napas lega, ia mengelus surai panjang gadis itu lembut "aku hanya merasa senang di dekat penolong ku. Apa aku salah?"


Yaya sejenak terdiam, ia agak pusing mencerna kalimat rancu yang diutarakan Arlan barusan, ingin menjawab tapi ragu, jadi yaya memilih untuk tetap diam.


"Bisakah kita saling mengenal lebih jauh lagi?" Ujar Arlan menatap lamat mata lentik itu.


"Kurasa tak perlu" ucap yaya harap-harap cemas sendiri melihat wajah Arlan yang kembali datar "maksud ku, untuk apa? Kita sangat berbeda Arlan. Aku tak sebanding dengan mu" cicit yaya kemudian menunduk, gadis itu meremat jari-jarinya.


Tanpa ditanya pun yaya pasti sudah tahu kalau pria di sebelahnya ini adalah orang berada, melihat dari setelan baju juga barang-barang yang ia kenakan, belum lagi mobil ini, mobil termahal keluaran terbaru yang amat populer di kalangan atas.


"Berhenti merendah, angel"


Yaya mendelik "namaku yaya, bukan angel" jelas gadis itu menatap kesal wajah tampan Arlan.


"Terserah, bagiku kau malaikat ku"


Yaya berdecih lirih "kau berlebihan"


"Jangan tolak aku"


Yaya diam, mata gadis itu msngerjap bingung "apa?" Tanya nya mencoba bersabar


"Jangan tolak aku" tekan Arlan sekali lagi dengan suara lebih keras dari sebelum nya.


Yaya mencebik "bisa kah kau berbicara yang jelas?! Kenapa setengah-setengah begitu! Aku gagal paham"


Arlan mengulum bibir menatap raut jengkel yaya saat ini, sangat menggemaskan untuknya!


"Biarkan kita saling mengenal lebih jauh lagi, jangan menghindari ku! Dan jangan takut padaku. Aku tulus ingin mendekati mu, bukan mempermainkan atau apapun itu"


Yaya mengangguk paham "terserahmu saja. Aku lelah, masih ada pekerjaan yang harus kulakukan. Ini..." yaya mengangkat kantung besar itu "sungguh untuk ku?"


Arlan mengangguk mantap "itu milikmu"


Yaya tersenyum manis, sangat manis hingga telinga Arlan memerah melihat kaindahan paras gadis itu.


"Terimakasih, Arlan. Kalau uangku sudah terkumpul, akan ku bayar ke minimarket mu"


"tak perlu"


Yaya mengerjap bingung "tak usah? Tapi harga susu ini tidak murah"