
Yaya duduk di lantai, gadis itu memeluk kedua lutut nya dengan raut cemas, ia merasa bersalah sekali pada Arlan, pasti perkataan nya tadi telah membuat Arlan marah dan sakit hati.
Ia sempat ingin menghampiri pria itu, tapi tak bisa. Pintunya terkunci dari dalam, akhirnya yaya pun duduk di lantai menunggu Arlan keluar.
Tok! Tok!
Yaya melirik ke pintu, ia pun berdiri dan lekas membuka nya "Lan?"
Lan tertegun menatap wajah sembab Nona nya, "S-saya di perintahkan mengantar anda kembali, Nona" Lapor pria itu merasa tak enak. Ia yakin kali ini pasti ada masalah lagi.
"Arlan yang menyuruh mu?" tanya gadis itu, dan Lan menjawab dengan anggukan "tadi tuan menelpon saya" ucapnya kemudian.
Yaya menggeleng "tak usah, aku tak ingin pergi"
Lan tersenyum tipis, ia mengangguk patuh "baik kalau begitu, apa anda perlu sesuatu nona?"
"Tidak, terimakasih"
"Baik, kalau begitu... Saya permisi"
Yaya kembali menutup pintu, ia berjalan mendekati kamar Arlan yang terkunci itu, ia mengetok nya beberapa kali, namun tak ada sahutan dari dalam sana.
"Arlan..."
Tok! Tok! Tok!
Masih tak ada sahutan. Yaya menyerah, gadis itu kembali duduk di sofa, ia merenung dalam hening.
"Arlan pasti sakit hati"
Tak terasa detik berganti menit, Yaya Menguap, ia kembali menatap pintu kamar yang di tutup rapat itu. Merasa lelah, akhirnya yaya pun terlelap di sofa tersebut.
Keesokan harinya, Yaya terbangun dari tidurnya saat mendengar decitan pintu yang terbuka, Ia menatap sekeliling, ah... Tak terasa ia terlalu lama tertidur, ini sudah pagi.
Yaya berdiri saat melihat Arlan keluar dari kamar nya, pria itu tampak berjalan lesu dengan tangan yang sibuk mengeringkan kepala.
"Arlan..."
Yang dipanggil langsung terhenti di tempat, ia berbalik menatap gadis nya, ia tampak terkejut. Sejak kapan yaya di sini? Bukankah ia telah menyuruh Lan mengantarkan gadis itu kembali?
"Kenapa..." yaya menatap tubuh kekar itu, Arlan memang tak memakai atasan, ia hanya mengenakan celana pendek selutut. Menampilkan segala jenis luka yang berada di tubuh nya.
Arlan menjauh saat gadis itu berupaya mendekatinya. Ia tak mau gadis itu menyentuh bekas self harm yang ia lakukan semalaman.
Biarpun Arlan itu kejam, dia juga masih punya perasaan, ia bisa merasa sedih, kecewa, dan lainnya sebagaimana manusia normal pada umum nya. Ia sangat sedih dan marah saat gadis itu mengungkit hal yang paling ia benci.... Ia akui memang saat itu dia terlalu bodoh!
Mau berbaik hati menolong gadis gila hasrat seperti Sisi, namun bagaimana lagi? Arlan saat itu merasa ada keuntungan yang bisa ia dapat, dan benar ia berhasil mendapatkan keuntungan yang ia mau, tapi... Ia juga terpaksa menerima kerugian teramat besar yang akan lelaki itu sesali seumur hidupnya.
Ia juga tak mau direnggut keperjakaan nya oleh gadis liar, ia ingin menjadi pertama bagi gadis yang dicinta, bercinta dengan penuh suka dari hati ke hati, andai yaya tahu... Arlan juga sebenarnya marah besar pada dirinya sendiri, ia terkadang merasa jijik saat mandi menatap miliknya yang ia jaga, ia rawat dan dia latih selama ini. Perkasa tapi tak perjaka lagi.
Yaya berusaha mendekati tunangan nya itu,
"Tak perlu" sanggah pria itu kembali masuk ke dalam kamar nya, namun kali ini Arlan tak lagi menutup pintunya seperti tadi malam.
Yaya berjalan masuk, ia mengikuti pria itu. Tangan lentiknya membuka lemari pakaian Arlan, dan..... gotcha! Benda yang ia cari ada di sana. Kotak p3k.
Yaya duduk bersebelahan dengan Arlan di pinggiran ranjang. Tampak pria itu tak protes, yaya maklum saja akan keterdiaman pria itu, Arlan pasti sakit hati karena ucapan nya beberapa waktu lalu, ia butuh waktu menenangkan diri.
Arlan menyibukkan diri nya dengan ponsel, ia membuka room chat nya dengan Lan, ia memerintahkan asisten nya tuk membawa sarapan. Setelahnya ia membalas pesan dari sekretaris nya di kantor, pria itu terus sibuk mengetik sampai tak sadar saat ini yaya sedang mengobati luka di lengan nya.
"Sshh!" Arlan terjengkit saat merasakan perih, ia menatap tangan yaya yang sedang memegang kapas beroleskan obat merah, pantas saja perih.
"Kenapa bisa luka?" tanya gadis itu pelan, ia menatap luka-luka itu dengan tatapan sedih, sebenarnya ingin menangis, tapi dia tahan, tangan nya dengan telaten mengobati semua luka itu, mulai dari tangan, kaki, leher, bahu, juga dada Arlan. Beruntung pria itu tak protes, jadi proses nya tak butuh waktu yang lama.
Yaya menutup kotak obat itu, ia menatap lekat wajah Arlan yang sedari tadi tak mau menatapnya.
"Arlan..."
Hening, Arlan masih saja abai, pria itu masih asyik membaca sesuatu di handphone nya.
"Lihat sini" pinta gadis itu, namun Arlan tak memperdulikan nya.
Sakit sekali rasanya diabaikan oleh Arlan seperti ini, biasanya Arlan akan menyahut dengan tatapan manis, namun kali ini sangat berbeda.
"hnngg....!" gadis itu mulai merengek, jujur saja ia tak suka diabaikan oleh pria itu, rasanya sesak di dada. Gadis itu menatap sendu pada Arlan yang masih tak menghiraukan dirinya.
"Sayang..." yaya menggoyangkan paha Arlan, namun sang empu justru bergeser menjauh.
Yaya terbelalak, Arlan menjauhinya lagi. Gadis itu tak putus semangat, ia kembali mendekat, dengan sisa keberanian yang ia punya, gadis itu merebut paksa hp Arlan. Berhasil! Arlan akhirnya menatap dirinya.
Mata gadis itu memerah, nyali nya terasa menciut menatap tatapan bengis yang di la yang kan Arlan untuknya "mau ngomong... Jangan marah!" gadis itu kembali merengek dengan bibir bergetar juga mata berkaca-kaca, sungguh reflek tubuh yaya sangat mengemaskan di mata Arlan.
Gadis itu menarik tangan Arlan, pria itu tak menolak, ia memainkan jemari besar tersebut "Perkataan ku semalam... Kelewatan, aku sadar..." ia menatap kedua bola mata legam milik Arlan "maaf, yaya jahat mengatai mu semalam"
Hening sejenak, Arlan mengangguk "kamu tidak salah, aku memang kotor, murahan, terlalu bebas... Ya, aku akui itu" Ucapnya lirih, ia enggan menatap lagi gadisnya.
**********
[Cuap - Cuap author]
HALLO! APA KABAR? SEMOGA KITA SEMUA SEHAT SELALU YA~
Author masih mau ngingatin nih... Jangan lupa like, komen, dan Vote cerita ini ya! :)
Biar bagaimana pun, semua lapak pasti butuh dukungan, jadi ayo dong tinggalin jejak kalian... Jangan jd silent reader
Kalian bisa manggil author dengan sebutan Nuna aja ya :)
Nuna juga berterimakasih buat semua yang udah mau mampir, terutama bagi kalian yang sudah berbaik hati mau nge-like, komen, dan voting cerita ini...
DI TUNGGU VOTE NYA YA~ TERIMAKASIH!!!