
Yaya menatap Lan dalam diam, ia paham bagaimana rasanya merindukan seseorang. Lan tampak menunduk, pria bermata sipit itu menatap kosong ke bawah, entah kemana Yaya pun tak tahu, namun yang pasti saat ini Lan pasti sedang memikirkan sesuatu.
"Kau tidak ada niatan menyusulnya ke korea, Lan?" tanya gadis itu tiba-tiba, membuyarkan lamunan Lan pada sang kekasih.
"Belum saat nya, Nona. Lagi pula, kami sering bertukar pesan setiap malam" jawab Lan degan senyuman tipis andalan pria itu.
Yaya mengangguk "Semangat, asisten Lan. Suatu hari, kau pasti akan mendapatkan hadiah dari boss mu, jika kau bekerja keras... Aku yakin Arlan akan memberikan segala yang kau butuh kan"
"Ya, Nona. Terimakasih"
Lan mengangguk, memang Arlan adalah boss terbaik yang ia kawal sejauh ini, Seburuk-buruknya Arlan, ia tak pernah sekalipun mengancam para pekerja nya, bahkan Arlan rela membantu jika di minta, Bos terbaik. Dan setelah memikirkan dan mengingat segala kebaikan Arlan terhadapnya, Lan telah berjanji pada dirinya kalau ia akan selalu mengabdikan diri sepenuhnya pada MR.Roverald itu.
...****************...
Ani melambaikan tangan nya pada Nila yang sedari tadi sibuk membaca majalah terbaru yang berhasil ia beli dengan uang nya sendiri. Majalah keluaran terbaru yang sudah jarang diminati di jaman modern begini. Kebanyakan orang pasti beralih pada majalah online yang dapat mereka akses lewat handphone. Namun tidak dengan Nila, wanita yang nyaris menginjak kepala tiga itu lebih senang membaca majalah asli, lembar per lembar yang bisa ia tatap, bolak-balik, dan dia hirup aromanya. Bagi Nila membaca majalah asli lebih berkesan dari pada majalah online.
"Kau masih membeli majalah?"
Nila mengangguk "ya, tentu saja. Lihat, ada banyak parfum bermerk yang baru saja launching" Nila menunjukkan halaman berisi gambar parfum keluaran negara Prancis yang baru saja ia lihat "Aku bahkan bisa mencium bagaimana aroma nya, tanpa harus ku beli" kemudian Nila menempelkan wajahnya pada majalah tersebut, menghirup dalam aroma yang memang menguar dari lembaran tersebut.
Ani geleng kepala menatap kelakuan teman nya itu "ya, terkadang miskin memang membuatmu kurang waras" celetuknya tiba-tiba.
Nila terkikik geli "bukan gila, lebih ke norak saja, aku mana bisa membeli cairan mahal itu, bisa ngutang tujuh turunan yang ada"
"Maka dari itu, beli parfum yang murah saja. Di minimarket banyak, tiga puluh ribu, dan kau bisa wangi tanpa harus terlilit hutang"
Kemudian keduanya tertawa bersama, begitulah dua asisten pribadi Ayashya ini, sangat sederhana juga kocak. Biar begitu, mereka sangat profesional bila sedang bekerja. makanya bisa bertahan sampai saat ini.
"Nila, Ayo kita ke kamar Nona"
Nila bergegas meletakkan majalah nya di atas meja yang tak jauh dari tempat ia duduk "mau ngapain?" Tanya nya.
"Hanya sekedar mampir, kita sudah jarang bersama Nona. Jujur saja aku sedikit rindu berbincang dengan Nona"
Nila mengangguk "Aku juga. Kalau begitu, ayo!"
...****************...
Tok! Tok! Tok!
Pemilik kamar yang sedang merapihkan meja rias itu melirik pintu. "Siapa?!" tanya nya sedikit memekik agar terdengar sampai ke luar sana.
"Ini kami, Nona. Ani dan Nila"
"Masuklah"
Ani dan Nila tersenyum, keduanya membungkuk hormat "Apa kabar, Nona?. Apa kami mengganggu waktu anda?" sapa Nila terlebih dulu.
Yaya tersenyum mania, ia menggeleng "tidak sama sekali, Ada apa? Apa ada pesan dari Arlan?"
Ani mengibaskan tangan ke kanan-kiri "tidak nona, Kami kemari hanya karena... Ingin berjumpa dengan Nona" jawabnya jujur.
"Benarkah?, kalau begitu.. Ayo duduk"
Yaya terkekeh, "baik lah.."
"Nona, apa anda ingin sesuatu?" tanya Ani
Yaya menggeleng "aku sedang tidak menginginkan apa pun, Ani"
"Nona, boleh saya bertanya?"
Yaya beralih menatap Nila, kemudian ia mengangguk menyetujui.
"Apa benar, Tuan dan Nona akan menikah bulan ini?" tanya Nila dengan sedikit berhati-hati.
Bukan hanya yaya, tapi Ani pun sama terkejut nya. Dari mana Nila bisa mendapat berita itu?! Ck, dasar lambe turah.
"Kau dapat berita dari mana, Nila? Jangan asal berucap" tegur Ani.
Nila mengangkat kedua tangan nya "aku dengar saat tuan Bos berbincang di ruang komputer bersama asisten Lan, sungguh aku tidak bohong"
Yaya mengedip beberapa kali, "ya... Begitulah" jawabnya pada akhirnya.
Ani menganga lebar "sungguh, Non? Wah, saya turut bahagia mendengar nya. Semoga lancar ya Non"
"terimakasih, aku mau... Disaat pesta pernikahan ku, kalian berdua harus tampil cantik, itu hari bahagia ku, dan aku mau semua orang juga bahagia"
Nila mengangguk antusias "tentu, Nona. Saya pandai mematut diri, jika diijinkan... Saya pasti akan berdandan secantik mungkin"
"Saya juga" timpal Ani.
Yaya terkekeh-kekeh menatap ke antusiasan dua pembantu nya itu. Ia jadi ikut bahagia melihat mereka berdua bersemangat seperti sekarang ini.
"Oh iya! Nona.. Apa nona tahu? Besok adalah hari ulang tahun Tuan bos?"
Yaya mengangguk "tentu aku tahu, aku pernah membaca biodata nya di ruang kerja. Memang kenapa?"
Ani menggaruk tengkuk nya "apa nona tidak mau membuat surprise? selama ini tuan bos tak pernah merayakan ulang tahun nya, dia sibuk, dan selalu sibuk"
"Benar nona... Bahkan sejak dulu, para mantan kekasih tuan bos pun tak ada yang membuat kejutan"
"Hush! Kau itu, jangan bahas yang lain, itu kelewatan!" tegur Ani, Spontan Nila menunduk "Maafkan saya Nona, maaf telah lancang. Tolong jangan lapor pada Tuan bos, bisa mati saya"
"Sudahlah, tak apa. Aku juga tak berpikiran membuat kejutan, karena setauku Arlan tak suka pesta"
Ani menggeleng "tuan suka pesta, pasti suka bila anda yang membuat nya, Nona"
"Sungguh?"
"Ya, kita bisa membuat pesta jika nona bersedia"
"Benar, Nona. Kita bisa membuat pesta ulang tahun untuk tuan bos, Nona yang kendalikan kejutan ini"
Yaya mengernyit "maksudnya? Aku harus lakukan apa?"