Good Romance With My Bad Mafia

Good Romance With My Bad Mafia
CHAPTER 62



Arlan mengerjap pelan, ia sedikit terusik dengan pergerakan di sebelah nya. Yaya, gadisnya itu tampak gurak grusuk mencari posisi ternyaman nya sedari tadi.


Arlan mengernyit bingung, kenapa gadisnya bangun di tengah malam seperti ini? Apa gadis itu bermimpi buruk?. Perlahan Arlan membalik badan gadisnya, yaya sempat terkejut, namun ia kembali rileks menatap Arlan yang tersenyum "kenapa? Apa kamu mendapat mimpi buruk?"


Yaya menggeleng lemas, entah mengapa ia bisa terbangun dari tidurnya tanpa sebab, tidak ada mimpi buruk yang ia dapat, ia pun tak diganggu oleh apapun di sekitar nya. Entah mengapa perasaan yaya jadi tidak enak, ia jadi gelisah tanpa sebab "aku... Kurasa aku over thinking, Arlan" adu yaya dengan gelisah, gadis itu segera memeluk erat tubuh Arlan, menenggelamkan wajah nya di dada bidang pria itu, hangat dan nyaman membuat yaya merasa sedikit lebih tenang berada di sana.


Arlan mengernyit tak suka, ia mengusap rambut gadis itu dengan tangan besar nya "apa yang kamu pikirkan?" tanya nya


"Hm... A-aku tiba-tiba khawatir pada Roma, aku juga memikirkan kak Luis, dan... Ella. Aku ingin pulang ke rumah nenek Ella, please Arlan aku ingin lihat kondisi Ella"


Tentu saja Arlan menolak, tak akan ia biarkan gadis itu kembali pada Ella "Jangan khawatir, Gabriella aman, ada dua anak buahku yang berjaga disana"


"Benarkah? Sejak kapan?" tanya gadis itu penasaran, kantuk dalam dirinya sudah lenyap sepenuh nya.


Arlan mendengus, jujur saja ia malas menjawab, ia mengantuk! "Sejak kamu kemari? Entah aku juga kurang ingat. Tapi yang pasti... Mereka menjaga teman mu itu"


"kamu yang suruh mereka menjaga Ella? Tapi... Sejak kapan kamu perduli?"


"Aku perduli karena dia yang membawamu ke mari, dan kamu sangat sayang pada teman yang sudah membantu mu, kabur dariku itu"


Yaya tersenyum ia senang saat tahu Arlan menaruh sedikit keperdulian pada orang lain, meskipun ada embel-embel dirinya dalam alasan pria itu.


"Apa kabar Ella? Dia baik-baik saja 'kan?"


Arlan berdecak kesal "jangan tanya aku, kamu kira aku ibunya?!"


Yaya tertawa, entah mengapa Arlan sangat kocak saat kesal begini "tapi kan... anak buah mu yang menjaga Ella, coba tanyakan pada mereka bagaimana kondisi Ella saat ini"


"Sayang, aku ingin tidur... Bisa diam?"


Yaya menggeleng "aku tidak mengantuk... Baiklah kamu tidur saja, aku pinjam ipad milik mu, ya? Aku ingin nonton spongebob" ucap gadis itu.


"Tidak! Tidurlah, jangan begadang. Kamu harus istirahat" Tolak pria itu dengan tegas.


"Tapi aku ingin nonton... Aku tidak mengantuk lagi..." cicit gadis itu tetap kekeh pada keinginan nya.


"Tidur, sayang..."


"Huh!, Terserah dasar pelit!, lihat saja besok aku akan membalas mu" batin gadis itu.


***


Lan mengernyit bingung saat Nona nya keluar dari unit apartemen boss nya dengan membanting pintu sangat keras, apa ada huru hara di pagi hari ini?


"Lan! Apa kau punya ipad?" tanya gadis itu tak santai membuat Lan sedikit terkejut diajak bicara dengan nada kencang seperti di hutan.


"S-saya tidak membawa nya, nona.. Ipad saya di rumah"


Yaya mendengus kesal, ia kembali masuk ke dalam unit nya tanpa berucap apapun lagi, meninggalkan lan yang bingung setengah Meti menatapnya dalam diam.


"Itu, ambil lah... Ipad itu milik mu mulai sekarang" Arlan berucap saat melihat gadisnya masuk dengan wajah kusut.


"Jangan berbicara denganku! Aku tak mau berbicara dengan orang pelit!" Sentak yaya dengan kesal nya.


Arlan bukan nya marah, ia justru terkekeh geli menatap ke absuda an gadisnya di pagi hari ini. Tidak mau memasak, tidak mau mandi, dan tidak mau diajak bicara. Wah... Keren sekali gadisnya saat merajuk seperti ini.


"Sayang? Kamu mau makan apa? Biar aku delivery" ucap Arlan sersya mengutak atik aplikasi pesan online di handphone nya.


Hening, gadisnya tak merespon.


"Sayang..."


Hening, yaya masih mogok bicara.


"Baiklah, aku pesan sama denganku saja, ya? Jangan komplain kalau tidak suka"


Arlan mendengus saat gadis itu beranjak pindah dari yang awal nya duduk di pinggir ranjang kini telah berbaring di sofa dengan posisi memunggungi nya.


"Yaya? Kenapa sensi sekali? Bukankah jadwal bulanan mu belum tiba?"


"Jangan berbicara! Dan jangan sok tau tentang ku! Dasar manusia pelit!"