Good Romance With My Bad Mafia

Good Romance With My Bad Mafia
CHAPTER 21



Ani tersenyum tipis menatap wajah berseru yang sedari tadi terpatri di wajah jelita majikan nya. Ia paham betul bagaiman rasanya dikurung, ia juga kasihan pada majikan muda nya itu, namun bagaimana lagi? Ia tak bisa berbuat apapun, sekarang ia hanya mampu bekerja sebaik mungkin agar Nona nya itu tak merasa sedih lagi ketika berada di rumah ini.


"Kenapa tangga nya banyak sekali!?" decak yaya menatap puluhan undakan tangga yang akan ia turuni nanti.


Nila terkekeh "kamar nona berada di lantai tiga. Nona.. Jadi wajar saja bila tangga nya sebanyak itu"


Yaya mengangguk paham, ah ia baru tahu kalau kamar yang beberapa waktu ini ia tempati berada dilantai ke tiga di rumah megah milik Arlan ini.


"Apa Nona mau naik lift saja?" tawar Ani yang langsung disetujui oleh Yaya "Boleh, aku tak mau berlama-lama di tangga"


"Mari, lewat arah sini nona" Nila membungkuk menunjuk arah di kiri nya.


Yaya mengangguk, gadis itu berjalan beriringan dengan dua pembantu nya itu menuju lift. Selama di dalam kotak penghubung bangunan tinggi itu, yaya dan dua pembantu nya sangat asyik bertukar cerita tentang pengalaman Ani dan Nila yang pernah tersesat saat pertama kali bekerja di rumah ini.


Ting!


"Mari, nona" Ani dan Nila mempersilakan yaya untuk melangkah keluar terlebih dahulu, setelahnya mereka pun mengekori langkah yaya.


"Sekarang kita berada di lantai utama. Disini ada dapur..." Nila sibuk memperkenalkan segala seluk beluk ruangan di lantai pertama rumah itu.


Yaya tersenyum menatap piring saji berisi pie blueberry yang baru saja matang. "Hm! Sangat wangi, apa boleh kumakan ini?" tanya yaya menunjuk sepiring pie di meja makan.


Ani dan Nila langsung mengangguk "tentu nona, silahkan dinikmati"


Yaya langsung saja menggigit pie blueberry berukuran besar itu, melahap nya hingga habis tak tersisa. Sang koki yang ikut menyaksikan jadi senang karena masakan nya disukai sang majikan baru nya.


"Hm! Pak koki! Ini sangat lezat! Terimakasih untuk pie nya!" yaya berucap dengan semangat, sungguh bahagia dirinya bisa mencicipi makanan lezat itu. Andai jika ia berada di toko roti, pasti ia harus merogoh saku cukup dalam agar bisa dapat merasakan makanan selezat itu.


"Terimakasih pujian nya Nona, saya tersanjung. Apa nona ingin makanan lain nya?" ujar si kepala koki tersenyum ramah pada Yaya


Gadis itu mengangguk "Aku ingin makanan lezat lain nya! Yang ada varian cokelat dan... Tolong aku ingin minum susu banana.. Apa ada?"


Kepala koki itu mengangguk, ia mendekat memberikan sekotak tissue baru pada yaya "Tentu ada nona, nanti saya siapkan. Maaf di sudut mulut anda, ada selai blueberry, nona"


Yaya mengangguk, ia jadi malu sendiri. Gadis itu meraih tissue pemberian koki tadi, ia segera membersihkan noda selai di pinggiran mulutnya.


"Mari nona, kita lanjut ke bagus lain"


"Nah, untuk yang ini, nona... Ini ruang kerja Tuan bos"


Yaya mengangguk, gadis itu menatap pintu nuansa cokelat gelap yang menjulang tinggi di hadapan nya.


"Kita tidak bisa masuk, Nona... Karena ruangan ini cukup privasi bagi tuan bos"


Yaya melirik Ani yang baru saja berucap "Wajarlah. itu ruangan kerja nya, pasti sangat privasi" ujar yaya.


Ani mengangguk "hanya ada dua pekerja khusus yang boleh masuk ke dalam sana, mereka yang ditugaskan khusus untuk merawat kebersihan ruangan kerja tuan bos"


"Wah... Sepertinya Arlan ini punya banyak pasukan di rumah besarnya in, ya?" tanya yaya


Nila terkikik "hanya Dua belas, Nona"


Yaya menganga tak bersuara, hanya? Apa katanya tadi? HANYA? Bagi yaya yang notabene nya anak gadis sederhana yang hidup sebatang kara, jumlah itu sangat luar biasa dalam ukuran pembantu. Bahkan restoran tempat ia bekerja saja hanya mampu mempekerjakan tujuh orang.


"Apa itu sudah termasuk koki dan yang lain nya?" tanya yaya


"Tentu tidak non, Koki ada tiga, bodyguard pribadi tuan bos ada lebih dari sepuluh, saya pun kurang tahu jelasnya, dan security ada empat, dua berjaga di depan, dan dua lagi di belakang"


"Betul itu nona! Belum lagi, tuan bos memiliki anjing ganas lima ekor, mereka diletakkan di setiap sudut area rumah"


Decakan kagum lolos dari bibir ranum yaya "apa mereka di ikat?" tanya nya lagi


Ani mengangguk "anjing itu di ikat dengan rantai besi yang panjang, nona. Jika ada maling yang berani masuk ke pekarangan rumah ini, sudah pasti mereka..."


"Ah, sudah... Sudah, tak perlu dilanjutkan" yaya mengibas ngibaskan tangan nya tak mau melanjutkan percakapan mereka itu.


Ani mengangguk "mari nona, kita ke depan"


Yaya tersenyum menatap halaman depan rumah itu, sangat luas ditumbuhi beberapa pohon cemara, ditambah lagi ada kolam beserta air mancur yang amat indah dipandang. "Ini sangat indah!" yaya berlari menuju air mancur itu.


Nila tersenyum "senang jika nona tersenyum lebar begitu"


Ani mengangguk "ini pertama kalinya nona ceria sejak saat pertama kali ia dibawa kemari"