Good Romance With My Bad Mafia

Good Romance With My Bad Mafia
CHAPTER 42



Yaya menatap jengah pada Arlan yang menahan pergerakan nya, pria itu menarik yaya kembali menuju kasur dengan tak santai "Arlan!" yaya memekik kala pria itu menaruh pistol di pangkuan nya.


Arlan duduk di lantai, ia menatap gadis nya dalam "Ayo, tembak! Pilih salah satu diantara kami"


Yaya melotot garang "Kau gila!?" yaya menggelengkan kepalanya tak habis pikir pada pria itu.


"Yes, i am!" Arlan tersenyum lebar, gadis nya harus tahu jika Arlan sudah serius, tidak akan ada yang bisa menghentikan nya.


Yaya beralih menatap kedua pembantu nya, tampak Ani dan Nila sudah gemetaran hebat di pojok ruangan, mereka sangat takut menatap pistol di pangkuan yaya.


"Cepat tembak!"


"NO!" teriak yaya


Arlan tersenyum, "Kau mau aku yang melakukan nya pada mereka?" jari telunjuk nya mengarah pada dua pembantu itu.


Yaya menggelengkan kepalanya "Tidak!"


Arlan memiringkan wajah nya "Lalu?" tanya nya berpura-pura bingung.


Yaya menarik napas dalam, ia menggenggam erat pistol itu dengan tangan nya yang sudah gemetaran "Okay, akan ku lakukan" ucapnya pelan, gadis itu mengarahkan pistol itu ke kepalanya sendiri.


Seketika raut wajah Arlan berubah pucat pasi "Yaya!" Arlan membentak tak terima "turunkan itu!" Arlan beranjak mendekati gadis nya hendak merebut senjata api tersebut namun yaya malah menjauh dari jangkauan nya


Yay menggeleng "Cukup Arlan... Sudah cukup, aku lelah"


Yaya menarik napas dalam, "Terimakasih Untuk semua kebaikan mu, aku senang bisa merasakan itu... Aku—"


"SHUT UP YOUR FUC*ING MOUTH!" Dengan cepat Arlan menarik yaya, ia menghempas pistol dari tangan gadis itu


DOR!


hingga jatuh ke lantai, Beruntung satu tembakan itu lepas ke atap, tidak jadi mengenai gadis nya yang siap untuk menembakkan diri.


Arlan menggeleng ribut "Kau gila yaya!" Arlan tak habis pikir pada gadis nya ini, apa yaya benar-benar tak takut mati?!


Kedua pembantu itu berlari keluar dari ruangan itu, meninggalkan yaya bersama Arlan berduaan. Yaya menangis tanpa suara dalam pelukan erat Arlan, ia merasakan sakit juga nyaman diwaktu bersamaan. Ia sangat merindukan pelukan ini, pelukan hangat yang selalu membuat nya senang, dan nyaman.


Dapat yaya rasakan detak jantung Arlan berdegup tak karuan, yaya memeluk pria itu sangat erat "Huaaa!" ia memecahkan tangis nya di dada bidang itu, Arlan memejamkan mata nya, ia menikmati suara tangis gadis itu.


Yaya memukuli punggung Arlan "Kau! Jahat! Pembunuh! Aku membenci mu!" kemudian ia menggigit dada Arlan, seketika Arlan menjerit tertahan, hey! Gadis itu menggigit tepat di ****** nya! Itu bagian sensitif sekali.


"Auch!" Arlan menahan sakit di dada nya, ia membiarkan yaya berbuat semau gadis itu, biarlah kali ini Arlan mengalah.


Yaya tetap menangis sambil memggiggiti badan pria itu dengan kuat, ia kesal bukan main, ia geram! Ia marah! Jadilah ia menggigit pria itu.


***


Yaya menunduk dalam, tadi Arlan baru saja membaringkan nya di kasur, setelah mereka berdua berbicara empat mata dan saling meminta maaf. Yaya sempat melihat tubuh atletis Arlan saat pria itu membuka kaos nya, lalu ikut berbaring di kasur.


Yaya menatap Arlan sendu, gadis itu merasa bersalah setelah melihat luka gigitan nya di tubuh pria itu.


"Hey, kenapa?" tanya Arlan bingung saat yaya menyingkap selimut hingga tubuh pria itu kini terpampang jelas.


Yaya menatap Arlan dengan mata berkaca-kaca "apakah kau tak merasa sakit?" ia menyentuh luka-luka di dada Arlan itu "Tidak" jawab Arlan menangkap tangan mungil yaya yang mengelusi dada nya


"Tunggu disini" yaya pergi keluar dari kamar itu dengan berlari, Arlan mengernyit bingung, ia hendak mengejar namun urung karena yaya sudah kembali dengan sebuah kotak di tangan nya.


gadis itu merangkak naik ke kasur dengan mata yang sudah bercucuran air mata "yaya obati" ucapnya pelan.


Arlan tersenyum haru, ia menatap pergerakan sang gadis yang sibuk mengoleskan salep pada dada nya yang luka "Apa ini tidak sakit?" tanya yaya sesenggukan.


Arlan tersenyum, ia mengangguk "Tapi tak apa-apa, sudah... Jangan menangis terus" Arlan mengusap air mata di pipi gadisnya "Kau cengeng sekali, sayang"


Yaya menutup kotak itu, ia sudah selesai mengobati Arlan, ia letakkan kotak tersebut diatas meja nakas, lalu ia berbaring di samping Arlan, dengan menyelimuti tubuh kedua nya "Maafkan aku" cicit gadis itu, ia menciumi wajah Arlan mulai dari rahang, naik hingga ke mata Arlan "yaya rindu, Arlan..." yaya memeluk pria itu "yaya rindu di peluk kamu, yaya rindu ngobrol sama kamu, yaya rindu duduk dipangku" Aku yaya dengan jujur


Arlan tersenyum bahagia "sungguh? Kamu tidak berbohong kan?"


Yaya melepas pelukan nya, ia menatap dalam wajah itu "Hum! Yaya jujur, yaya rindu Arlan, dan... Yaya sudah memikirkan ajakanmu..."


Arlan mengangkat sebelah alis nya, ia bingung saat ini "apa?"


Yaya tersenyum malu "Yes i will"


Arlan menganga, ia tak bodoh untuk mengartikan ucapan itu "Sungguh!? Kamu mau menikah dengan ku?" Tanya nya


Yaya mengangguk "tapi, jangan dalam waktu dekat, yaya mau... Kita menikah di tahun depan saja, bagaimana?"


"It's okay, intinya kamu nerima lamaran ku, kan?"


Yaya mengangguk "hm"


Setelahnya Arlan langsung memeluk erat tubuh gadis nya, ia menciumi leher jenjang yaya, juga menjilati nya seperti biasanya "Arlan...hentikan" yaya menjambak pria itu saat Arlan menghisap leher nya "kau membuat tanda!?"


"Kau menyebalkan!" dengus yaya merabai leher bekas hisapan Arlan "kenapa berbuat begitu?! Aku tidak mau"


Arlan tersenyum lebar, "No, no, yaya harus mau, sekarang kamu sudah menjadi milik ku, hanya milik ku" Arlan menatap lekat mata gadisnya, ia mengelus sensual bibir bawah gadis itu, lalu membuka nya "bolehkah?" tanya Arlan menatap yaya dengan puppy eyes


Yaya menggeleng "No, kiss hanya boleh dilakukan, saat sudah menikah, okay?"


Arlan mengangguk lesu, ia menjatuhkan wajah nya di ceruk leher gadis itu "padahal aku ingin sekali" adu nya lirih "bukankah nanti kita juga sudah pasti akan menikah? Kenapa masih tidak boleh, sayang?"


Yaya terkekeh geli menatap Arlan jika sudah mode manja begini "Aku tidak mau kamu meminta hal lebih terus menerus, Semua ada batas nya, paham Arlan?"


Pria itu mengangguk "Kamu pelit" celetuknya tiba-tiba.


Yaya tertawa merasa gemas akan tingkah singa jantan ini "coba lihat sini"


Arlan menggeleng lemah, ia tetap menyerukan wajah nya pada ceruk leher yaya "Kenapa? Hum? Coba sini yaya ingin lihat wajah kamu"


Lagi Arlan menolak, yaya tersenyum saja, sudah bisa dipastikan Arlan sedang jengkel padanya saat ini, namun tak berani merajuk ataupun marah langsung padanya.


cup!


Yaya mencium kepala Arlan "sayang, sini coba, tatap aku" pinta yaya dengan lembut.


"Untuk apa?" tanya Arlan serak


Yaya mengelus sayang tengkuk pria itu "Coba dulu, lihat kemari"


Arlan menurut, ia mengangkat wajah nya, dapat yaya lihat mata pria itu berkaca-kaca "Menangis? Kenapa menangis?" tanya yaya pelan, ia mengusap mata pria itu hingga genangan nya pun merembes.


Arlan menggeleng "Aku senang, kamu mau menerima lamaran ku, tapi kenapa menolak dicium? Aku ingin mencium mu! Aku rindu padamu, aku ingin merasakan ciuman bibir dengan mu, dan tak tahu kenapa... Sekarang aku merindukan mommy" Adu Arlan mengeluarkan segala keluh kesah nya hari ini.


Yaya tersenyum, tangan nya menyisir rambut Arlan ke belakang "menggemaskan!" yaya mencubit pipi Arlan gemas "ututu... Baby nya yaya rindu pada almarhum mommy? Hu'um sayang?" tanya gadis itu lembut


Dengan cepat Arlan mengangguk "but i can't see her" ujarnya


Yaya jadi merasa kasihan pada Arlan, sudahlah ditinggal mati, untuk sekedar melihat kuburan nya pun tak bisa "jangan bersedih lagi, kalau kamu rindu sama mommy... Come to me, okay?"


Arlan mengangguk.


Yaya tersenyum lalu mengecup kilat bibir pria itu, membuat sang empu mematung sejenak. Arlan. meraba bibirnya yang baru saja di kecup oleh sang gadis pujaan hati "kamu?..." Ucapnya tak percaya menatap yaya dengan pandangan lebar.


Gadis itu tertawa menatap pipi Arlan yang mulai memerah "sudah kan?"


Arlan menggeleng "Itu hanya kecupan, yang ku mau itu sebuah ciuman"


Yaya terkekeh "baiklah, tapi aku tak tahu cara nya"


Arlan tersenyum lebar "biar ku ajarkan" Arlan berucap sembari mendekatkan wajah nya


Lalu setelahnya pasangan itu saling ******* satu dengan yang lain, ciuman bibir yang sangat lembut, membuat yaya serasa dibawa terbang ke awan-awan oleh pria itu.


Arlan melepas tautan bibir keduanya, ia tersenyum lebar menampilkan jejeran gigi putih nya "Sweet, i like it"


Cup!


Yaya hanya tersenyum, jujur saja wajahnya sudah memerah kali ini, ia juga merasa hal serupa, bibir Arlan juga terasa manis untuk nya.


"Setiap hari" Arlan mengusap bibir yaya lembut "aku ingin merasakan ini setiap hari, sayang... Apa boleh?"


Yaya mengangguk saja "tentu calon suamiku" jawab gadis itu menggoda Arlan.


Arlan memeluk gadisnya erat, ia salting saat gadis itu mengatakan hal-hal manis juga ketika menggoda nya seperti tadi, Arlan sangat lemah bila di dekat gadisnya itu.


"Arlan..."


Arlan mendongak "kenapa sayang?"


"Apa aku bisa mempercayai mu?"


Arlan mengernyit tak suka mendengar pertanyaan itu "kenapa berkata begitu"


Yaya menggeleng "entahlah... Aku hanya ingin jadi satu-satu nya untukmu, aku tidak akan mau memiliki saingan, rival atau apapun itu"


Arlan mengerti, ia mengangguk mantap "tentu saja kamu satu-satunya. My angel"


...****************...


**nyuruh up elit ngevote sulit **


cuak


** hehehe yok di vote kakak" biar semangat ni author nya**