
Arlan menatap ke arah meja makan dimana piring yaya isinya tampak masih penuh tak tersentuh. "Kamu belum makan, kita makan di luar saja, mau baby?"
Yaya menggeleng. Jujur saja yaya itu anak introvert! Ia tak begitu suka keramaian, ia lebih suka berdiam diri di rumah bersama orang-orang yang sudah lama dikenalnya. Makanya selama di kurung di rumah Arlan ia tak terlalu depresi, hanya sedikit kesal saja karena ia harus banyak berkenalan dengan orang yang baru ia temui di rumah megah itu.
"Lalu?" tanya Arlan berusaha tetap sabar.
Kryuukkk~
Baru saja ia hendak menjawab, namun perut gadis itu sudah lebih dulu bersuara. Ah, malu rasanya terpergok kelaparan oleh pria itu. Yaya menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Arlan.
Pria itu tertawa melihat gadisnya yang salah tingkah saat ini.
"Hahaha.... Lapar sekali sayang?" Arlan mencolek pipi gadisnya.
"Hng....!" yaya memberengut dalam pelukan itu. Dasar Arlan ini! Suka sekali menggodai yaya.
"Kau sangat lucu, baby... Aku jadi ingin memakan mu"
Kesal terus digodai, akhirnya gadis itu pun menggigit leher Arlan dengan kencang, membuat pria itu menggeram kesakitan. Sungguh kali ini rasanya yaya seperti menggigit paha ayam, kuat sekali gigitan nya!
Yaya menegang, ia melepaskan gigitan itu dan menatap Arlan juga leher pria itu bergantian... Darah! Leher Arlan terluka!
"L-luka! Arlan... Maaf" yaya berusaha turun hendak mengambil kotak obat agar bisa langsung mengobati leher Arlan, tapi pria itu malah enggan melepaskan nya.
"Biarkan saja" Ia malah membawa gadis itu menuju meja makan "Sekarang... Kamu makan" Ucap Arlan saat meletakkan tubuh gadis itu turun diatas kursi.
Yaya tak menjawab, gadis itu hendak pergi namun pergerakan nya kalah cepat dengan Arlan "Eits... Mau kemana?"
"Kotak obat! Aku mau ambil itu" ucap yaya berupaya melepaskan cekalan Arlan dari lengan nya.
Arlan menggeleng "Duduk, dan Makan!" ucapnya tegas "Nanti saja obati, aku tidak apa-apa"
"Tapi itu berdarah! Bagaimana kalau nanti infeksi?!"
Arlan mendelik "biarkan saja, toh kalau aku mati, itu semua karna ulah mu yang susah di atur!"
Yaya berdecak "Iya aku akan makan! Tapi luka mu dulu yang harus di obati. Lepas!"
Arlan mengambil ponselnya dari atas meja nakas, di kamar. Pria itu sempat melirik gadisnya yang sibuk membongkar seluruh laci di samping lemari, Arlan menggeleng jengah, biarlah gadisnya itu.
"Bawakan makanan baru segera! Yang masih panas!" Arlan memerintahkan Lan lewat telepon, setelahnya pria itu mematikan sambungan secara sepihak.
Ia menatap gadisnya yang masih rusuh mencari keberadaan kotak p3k yang ia butuhkan. Arlan diam sejenak, ia mulai berpikir dimana terakhir kali ia meletakkan benda tersebut, seingatnya ia pernah memakai benda itu saat beberapa hari tiba di desa ini.
"Coba lihat di balik pakaian ku, kurasa aku meletakkan nya disana"
Yaya yang sedang asik mencari sontak terhenti, ia mengernyit namun tak urung gadis itu melakukan nya. Dan benar saja, ada kotak yang ia cari sedari tadi di dalam lemari pakaian Arlan.
"Kenapa bisa di dalam lemari baju mu!?" kesal gadis itu meluap, ia berjalan mendekati Arlan yang duduk di tepian ranjang. Gadis itu membuka kotak tersebut dan mulai melakukan kegiatan nya dari membersihkan luka itu dengan alkohol, lalu mengoleskan salep di luka itu.
"Aku baru tahu, kalau kamu keturunan vampir" Arlan terkekeh melihat wajah muram gadisnya.
"Aku manusia tulen!" Sentak yaya membuat tawa Arlan seketika pecah.
Yaya ikut tersenyum melihat Arlan tertawa lepas seperti itu, sudah lama sekali dia tidak bisa melihat keindahan tersebut "apa tidak sakit?" tanya yaya kembali ke mode serius.
tawa Arlan mulai mereda, pria itu mengangguk "awalnya saat kau mengigit, tapi sekarang sudah tidak" ucapnya jujur.
Yaya mengangguk, ia yakin pria itu tidak berbohong "Maafkan aku"
"Tak masalah, kau bebas menghukum ku. Bukankah sudah ku bilang tadi?"
"Berhenti bicara begitu, kau membuatku merasa diriku yang jahat di sini" protes gadis itu merasa kesal.
"Hm... Baiklah" Arlan mengangguk saja "nanti Lan akan datang membawa makanan baru, kau harus makan. Tidak ada penolakan!"
Yaya mengangguk patuh, gadis itu kembali memeluk tubuh kekar Arlan "im so sorry, aku tak bermaksud melukai kamu" ucap gadis itu dengan tulus.
Arlan juga ikut mengangguk, ia mengangkat gadisnya tuk di pangku "Aku juga minta maaf... Aku berjanji, setelah kita kembali, aku akan membayar semua perbuatanku, aku akan bertanggung jawab atas segala nya"
(Visual yaya si cengeng mengemaskan hehe)