Good Romance With My Bad Mafia

Good Romance With My Bad Mafia
CHAPTER 16



Yaya menggeliat, ia merenggang kan otot nya. Perlahan mata indah itu terbuka, ia mengerjap beberapa kali mengumpulkan kesadaran nya


ceklek....


Tiba-tiba saja pintu terbuka, bersamaan dengan yaya yang duduk diatas kasur nya. Sungguh penampilan yaya sangat berantakan, wajah bantal, mata bengkak, dan rambut berantakan seperti singa.



Arlan mengulum senyumnya saat melihat yaya menatap lugu ke arahnya. Pria itu masuk dengan sebuah handphone di genggaman tangan, ia mengambil duduk tepat di pinggir ranjang.


"Sudah bangun sayang"


Yaya tak menjawab, gadis itu menguap dengan tangan menutupi mulutnya sendiri "Hoam... Sudah jam berapa?" tanya nya


Arlan terkekeh, ia merapihkan rambut gadis nya dengan lembut, "kau seperti singa" ucapnya


Yaya menepis tangan itu dari kepalanya "sana, aku bisa sendiri" iya kemudian merapihkan rambut nya sendiri dengan cepat.


"Kau lapar?" tanya Arlan ia sempat melirik nampan diatas nakas, makanan yaya masih banyak juga susu nya tak tersentuh hingga saat ini.


Yaya diam, ia akan melanjutkan aksi ngambek nya sampai Arlan benar-benar mau menuruti permintaan nya.


Arlan mengernyit saat yaya bangkit dari kasur, pria itu mencekal lengan yaya "mau kemana?"


Yaya berdecak, ia menghempas tangan pria itu "toilet" jawabnya ketus.


Arlan berdecak kesal, yaya tidak lagi menunjukkan sisi menggemaskan nya, dan Arlan benci disaat yaya dingin pada nya!


"Jangan lama"


Yaya tak memperdulikan ucapan Arlan, ia berjalan menuju bilik kecil di pojok kamar ini, dan benar dugaan nya kalau itu adalah toilet


Yaya membasuh wajah nya dengan air mengalir, ia melakukan nya berkali-kali untuk melepas amarah nya saat ini.


Tok! tok!


"Yaya"


Gadis itu terkekeh hampa, lihat lah sekarang Arlan sudah berdiri di depan pintu kamar mandi sambil mengetuk nya, padahal yaya baru sebentar meninggalkan pria itu.


"Yaya! Kau tak apa? Jawab aku sayang"


Yaya mematikan kran air, lalu gadis itu beranjak keluar. Baru saja ia membuka pintu, yaya langsung direngkuh Arlan dalam pelukan "Maaf... maafkan aku, yaya" Gumam Arlan


Yaya berdecak dalam hati, sampai kapan ia harus terjebak bersama pria ini "jangan meminta maaf kalau kau masih mengulangi kesalahan mu!"


Arlan mematung sejenak mendengar ucapan yaya barusan, perlahan ia melepas pelukan sepihak nya dari gadis itu. Dengan ekspresi datar nya Arlan menatap lamat wajah yaya, gadis itu bahkan enggan menatap balik dirinya.


"Pulang" kini yaya menatap wajah menyebalkan pria itu.


Arlan dengan tegas menggeleng "No. Aku akan mengabulkan apapun, asal tidak dengan menjauh dari mu" ucapnya mencoba lembut "lagi pula kita sudah sepakat, seminggu kau harus tinggal bersama ku. di sini"


Yaya berpikir keras, agaknya ia harus bisa lebih ekstra menyamar menjadi gadis lucu agar Arlan bisa luluh. Tapi untuk yang satu ini, biarlah yaya menjalankan aksinya di rumah mewah ini selama seminggu ke depan. Lalu setelah nya, ia akan kabur, pergi selama nya.


"Yaya, jadilah penurut dan aku akan bersikap baik, jangan membantah jika tidak, aku akan marah besar Padamu"


Yaya mengangguk, ia mendekatkan diri memeluk Arlan, ia sembunyi kan wajahnya di dada pria itu. Kepalanya sakit memikirkan cara ampuh agar bisa terbebas dari pria gila ini.


Sedangkan Arlan yang dipeluk merasa sangat bahagia, ia ikut memeluk erat tubuh mungil yaya dengan sesekali mengecup puncak kepala gadis itu.


"Arlan.." Yaya mendongak menatap wajah pria itu


"Kenapa, sayang?" tanya Arlan seraya tersenyum.


"Yaya ingin makan bakso.. Apa boleh?" tanya nya dengan suara menggemaskan membuat Arlan gemas setengah mati.


"Tentu.. Tunggu disini, biar kususruh—"


"Yaya mau makan di warung nya langsung" pinta gadis itu dengan mata berkilap


Arlan berdehem sejenak, kemudian ia menggeleng "tidak, seminggu ini kau harus di dalam rumah. Biar aku susurh anak buah ku membeli bakso untuk mu"


Yaya mengerut sebal, sial! Rencana nya gagal. Tadinya ia berencana akan kabur dengan embel-embel makan diluar. "Ya sudah, tapi... Yaya mau makan di luar..." Yaya merengek saat Arlan tiba-tiba menatapnya tajam "aaa dengarkan dulu... Yaya mau makan di, di meja makan?"


Arlan menaikkan sebelah alis nya "Yaya bosan di dalam kamar terus.." cicitnya melepas pelukan keduanya.


Arlan menggeram tak suka saat gadis itu melepas pelukan nya, ia tak rela. "Boleh, tapi.." Arlan sengaja menggantungkan ucapan nya.


"Tapi? Tapi apa?" desak yaya penasaran.


Arlan menunduk, ia menyerahkan pipi nya pada yaya, gadis itu sontak mengerut kan kening. Sialan, Arlan mengambil kesempatan lagi darinya.


Dengan senyum yang dipaksakan yaya menggeleng "No, yaya tidak mau.." cicitnya memilih jari-jari mungilnya yang saling bertautan.


Arlan serasa ditampar oleh tolakan halus itu, ia semakin yakin kalau yaya tidak memiliki rasa padanya. "Tak masalah, kau memilih begitu" Arlan kembali menegakkan tubuh nya, pria itu berjalan keluar dari kamar yaya dengan padangan datar seperti biasanya.


"Ar, bagaimana denganku? Apa tak boleh?" tanya yaya dengan suara keras agar Arlan mendengar nya.


Arlan mengangguk tanpa berbalik, tangan nya meraih knop pintu kemudian membuka nya "tunggu, sebentar lagi pelayan datang mengantar pesanan mu" ucapnya sebelum menutup pintu tersebut.


Yaya menghela napas panjang, ia benar-benar muak menjalani peran ini! Ia tak suka terus berpura-pura. Namun bagaimana lagi? Ini satu-satunya jalan agar ia bisa terbebas dari Arlan.


"Tenang, yaya. Kau pasti bisa!" gumam nya menatap pintu kamar yang sudah terkunci dari luar itu.