
Hancur sekali hati Arlan di teriaki dengan penuh emosi oleh gadisnya barusan, ia menunduk lemah, tak bis berbuat gila, ia tak mau gadisnya semakin membenci keberadaan nya nanti. Ia pun memilih keluar dari rumah itu, ia duduk di halaman depan nya, menunggu yaya seperti anak kucing yang kehilangan sang induk.
...****************...
"Apa dia sudah pergi? Kau tak apa?" tanya Ella sembari mengecek keadaan yaya.
"Aku baik-baik saja, dia datang untuk membujuk ku pulang" ucapnya "mimpi! Mana mau aku"
Ella mengangguk "jangan memaksakan diri, ingat? Kalau memang bisa dengan cara baik, gunakan lah, selagi dia tak menyakiti fisikmu lagi, kurasa tak apa bila sekedar berbicara"
Yaya mengangguk.
...****************...
Yaya membawa kantung sampah di tangan nya, wanita itu ingin menaruhnya di tong depan rumah yang besar, gadis itu terkejut bukan main saat melihat Arlan tertidur pulas di halaman depan dengan posisi duduk.
"Keras kepala" gumam yaya, ia kembali melanjutkan kegiatan nya tanpa memperdulikan Arlan.
Keesokan harinya juga sama, di pagi yang cerah ini, sehabis diguyur hujan saat subuh yaya keluar dari rumah, hendak berlari pagi bersama Ella. Keduanya terdiam menatap Arlan yang masih tertidur dengan posisi duduk, pria itu memeluk dirinya sendiri, dapat dipastikan ia kedinginan.
"Sejak kapan dia disini?" tanya Ella terkejut
Arlan langsung terbangun mendengar suara itu, ia menatap gadisnya, lalu berdiri tegap. Dapat mereka lihat wajah tampan Arlan sekarang sangat pucat, ia tersenyum mencoba menutupi sesuatu "Mau kemana?" tanya Arlan menatap penampilan gadisnya dari atas sampai bawah.
"Bukan urusan mu, ayo Ella" yaya pergi meninggalkan pria itu.
"Yaya, kau lihat tadi? Dia pucat sekali kurasa ia sakit, tadi subuh hujan dan seperti nya dia terkena hujan"
Yaya menggeleng, enggan menatap lagi ke belakang "biarkan saja, aku tak perduli"
Keesokan harinya, yaya dikejutkan dengan kehadiran Lan beserta bodyguard lainnya di depan rumah itu, mereka tidak membuat keributan hanya saja yaya tetap kaget mendapati mereka semua.
Lan menyerahkan bucket bunga indah pada genggaman yaya "tuan bos, mengirimkan ini" ucapnya "tuan meminta maaf, ia sedang sakit jadi tidak bisa mampir ke mari"
Yaya sedikit terganggu dengan laporan itu, ia jadi khawatir, namun... "Aku tidak perduli. Bawa ini, aku tak suka bunga"
Lan tersenyum menatap bucket yang dikembalikan nona nya "mohon maaf nona, bila saya lancang... Tapi" ia mencondong ke depan "tuan setiap hari mengigau kan anda, ia sering berteriak memanggil nama nona"
Yaya terkekeh "kenapa namaku? dia punya kekasih, toh aku ini cuma mainan nya saja" elak yaya tak suka mendengar laporan itu.
Lan menggelengkan kepalanya "Andalah satu-satunya nona, tuan tak memiliki kekasih lain, tuan bos sudah bercerita banyak dengan saya, dan benar adanya... Tuan bos dijebak saat itu"
Yaya berdecak malas, lagi-lagi alasan itu "sudahlah, aku sibuk" yaya pergi menuju kamarnya, meninggalkan Lan beserta anak buah nya yang terdiam di ruang tamu.
"Apa kalian lapar?"
Lan menoleh ke arah barat, ia tersenyum menatap seorang nenek membawa pie blueberry besar ke hadapan mereka "cobalah, ini lezat"
Lan mengangguk "terimakasih, nek" ia mencomot sepotong dengan binar bahagia, ini pie yang sangat lezat!
"Pie buatanmu lezat sekali nek, terimakasih"
Si nenek menggelengkan kepala "ini buatan yaya, dia sangat pintar memasak"
"Benarkah itu nek? Boleh saya meminta satu untuk dibawa pulang?"
Si nenek mengangguk "tentu, di dapur masih banyak. Akan ku bungkus"