Good Romance With My Bad Mafia

Good Romance With My Bad Mafia
CHAPTER 25



***jangan lupa tinggalkan jejak dengan like&komentar nya yaa


happy reading***!


"Lepaskan aku.. Sudah, lupakan tentang hari dimana aku menolong mu" yaya mengusap kasar air matanya yang tiba-tiba saja menetes, napasnya semakin terasa sesak saat Arlan tak bereaksi apapun, biasanya Arlan akan menolak dengan cepat, namun kini Arlan tampak diam "Aku, ingin kembali ke hidupku yang dulu, Arlan"


Arlan mengurut pangkal hidung nya sesaat "beri aku alasan, kenapa kau selalu menolak ku?" tanya pria itu mencoba meredam emosinya.


"Karena aku tidak mencintaimu, lupakan aku! Kau pantas bahagia bersama wanita lain yang juga memiliki rasa untuk mu, Arlan. Jangan jadikan aku boneka mu! Hidupku sudah terlalu pahit, ditambah kehadiran mu..." yaya meremat sprei nya "semuanya semakin kacau"


Arlan terkekeh hampa "kau yang selalu beranggapan bagitu, yaya! Selama ini aku sudah cukup baik padamu, apa itu kurang?"


Yaya menggeleng lemah "aku bahkan tidak meminta kau bersikap baik padaku. Apa kau sadari itu? Selama ini aku akui aku hanya berpura-pura, aku bersandiwara menjadi gadis manis agar kau bisa menuruti ku"


Arlan mengepalkan tangan nya "apa yang kurang? Katakan akan ku kabulkan untuk mu" ia berucap dengan wajah kian memucat, entah karena takut atau karena menahan emosi nya, entah lah, hanya Arlan yang tahu.


"Kau salah berpikiran Arlan" yaya menatap wajah pria itu, ia menggeleng lemah dengan air matanya yang tak berhenti menetes, yaya menepis tangan Arlan yang hendak menghapus jejak air mata nya. "Aku menolong mu saat itu karena rasa kemanusiaan ku. Bukan berarti aku ini malaikat penolong mu! Kau sangat gila Arlan, sangat gila! Aku kualahan menghadapi mu"


Arlan tertawa "aku gila?" tanya nya balik yang jelas tak di jawab oleh yaya "apa salah aku menaruh hati pada orang baik? Salah jika aku senang berada di dekatmu? Salah bila aku ingin memiliki mu?"


"SALAH! ITU JELAS SALAH BRENGSEK!" yaya kembali meraung menangisi dirinya sendiri "aku menyesal telah menjadi orang baik" ucapnya pelan seraya terisak hebat.


Arlan hanya diam mengulum bibir nya menatap sang gadis yang sangat suka menangis itu "Kau ingin aku menurut padamu? Begitu?" tanya nya meski dengan rasa tak rela.


Yaya meredakan tangis nya, ia menatap wajah itu lagi "sudah... Cukup, lupakan semuanya Arlan! Aku mau kita tak usah bertemu lagi, aku ingin pulang... Aku ingin kembali pada hidupku yang dulu"



Arlan terkekeh-kekeh, ia menunduk dalam, wajah nya memerah padam, urat di lehernya menimbul denga jelas "Segitu benci nya kau padaku? Apa salah ku? Aku hanya menyukai mu"


"Baik lah. Jika itu mau mu" Arlan menghela napas sejenak, ia menatap wajah gadis yang sangat ia cintai itu dalam diam "tapi, kumohon... Bertahan lah, sebulan saja, di rumah ini"


Yaya diam, ia memejamkan mata, tawaran tak masuk akal apa lagi itu?


"Aku berjanji padamu, setelah sebulan... Kau" Arlan kembali menunduk dalam, enggan melanjutkan perkataan nya, tenggorokan nya terasa sakit saat akan melanjutkan perkataan "terserah mu, setelah nya"


Gadis itu mengangguk, ia menatap Arlan yang menunduk dalam itu, agaknya Arlan masih tidak bisa merelakan yaya, jadi untuk kali ini biarlah gadis itu berbaik hati mau menghabiskan satu bulan nya bersama di rumah megah ini. Lalu setelah itu, yaya akan bebas tanpa belenggu apapun dari Arlan lagi


"Buat pernyataan resmi, aku mau ditanda tangani" ucap yaya


Arlan mendongak, ia menatap yaya dengan sendu, namun tak ayal ia mengangguk "besok akan dibawa"


Yaya mengangguk, gadis itu memunggungi Arlan ia malas menatap wajah menyedihkan pria arogan itu, tidak lagi! Ia tak mau terperangkap rasa apapun pada Arlan.


...****************...


Arlan mengangguk setelah membaca file yang di kirimkan oleh salah satu mata-mata nya "ternyata kau yang menyelamatkan gadisku?" gumam nya "Baiklah, karena kau telah membantu yaya bebas, kau masih bisa hidup"


"Apa yang akan tuan bos lakukan?" tanya Lan dengan sopan.


"Tak banyak, hanya sedikit melepaskan anggota tubuh mereka" Arlan menutup laptop nuansa abu nya, pria itu beralih menatap laptop hitam berisikan Segal jenis file pekerjaan nya "Kau kumpulkan semua anak buah Regar yang terlibat dalam penculikan gadisku"


"Baik tuan, ada lagi?"


Arlan mengetuk jari di meja nya "bawa mereka ke pulau pribadi ku, besok aku akan terbang ke sana tuk menghabisi mereka dengan tangan ku sendiri"


Lan mengangguk "baik, tuan. Akan saya siapkan. Saya permisi"