
Arlan mendesis marah, ia kesal sekali setelah mendengarkan suara rekaman yang diberikan kedua anak buah nya barusan. Lagi-lagi yaya tak menuruti permintaan nya!
Melihat bos mereka yang tampak tak baik, kedua pria itu langsung berpamitan pergi meninggalkan Arlan sendirian di ruangan nya. Arlan tak menjawab, ia membiarkan kedua bawahan nya itu pergi, ia berdiri menyambar handphone nya dari atas meja, setelah beberapa detik menekan tombol disana, Arlan kemudian berbicara lewat sambungan telepon pada seseorang.
"Besok tutup restoran itu! Aku tak mau tau"
"..."
"Biarkan saja, aku bisa menghancurkan mu kalau kau tak patuh"
"...."
Arlan membanting benda pipih itu diatas sofa. Ia turut menjatuhkan badan nya disana, mencari posisi ternyaman tuk beristirahat sejenak. Sungguh hari ini sangat melelahkan.
tok! tok!
Arlan tak menoleh, ia masih setia pada posisi nya sembari menutup mata "Masuk!" ujarnya sedikit keras.
Tak lama seorang pria pun masuk, ia menunduk hormat sebelum akhirnya berbicara "Saya Lan, tuan. Izin memberi tahu, semua yang tuan perintahkan sudah selesai, jasad mereka sudah dibuang ke laut"
Sudut bibir Arlan tertarik mengulas seringai jahat "apa ikan memakan daging mereka?" tanya nya santai
Pria bernama Lan itu mengangguk "Sepertinya begitu tuan, sebab darah mereka tersebar di air. Pasti banyak ikan yang terpancing ke arah jasad Segar itu"
"Bagus" Arlan bangkit dari tiduran, ia memposisikan dirinya duduk dengan santai menyender pada bahu sofa. "Kau tau Lan, mereka itu siapa?"
Lan menggeleng.
"Mereka tangan kanan ku, " beritahu Arlan sedikit terkekeh, sedangkan Lan sendiri sudah melotot kaget mengetahui fakta itu "Kau akan bernasib sama seperti mereka jika kau berani mengkhianati ku"
Lan diam, ia dengan setia mendengar segala ucapan bos baru nya itu "aku mempekerjakan mu, memfasilitasi kau, itu tidaklah murah... Dan gaji mu, itu sangat besar ketimbang jika kau bekerja pada orang lain"
"Jadi, tahu diri lah. Jangan sesekali berniat mengelabui ku, atau kau akan lenyap"
Lan mengangguk paham saat Arlan menatap dirinya "siap tuan. Saya akan bekerja sepenuh jiwa pada anda" ujarnya dengan tegas menarik anggukan tipis dari Arlan "pergilah"
Lan menunduk memberi hormat "saya permisi bos"
...****************...
Yaya mengernyit bingung melihat para pekerja duduk lesehan di depan restoran yang masih tertutup. Ia mendekati salah satu rekan kerja nya yang bertugas sebagai koki "kenapa masih tutup?" tanya yaya
Koki itu menggeleng "entahlah kami sudah menunggu beberapa menit, bos tak datang juga"
"Hei semua! Lihat group Whatsapp resto! Bos mengirim pesan"
Yaya membuka tas, mengambil handphone nya dan membaca pesan yang baru dua menit yang lalu dikirimkan oleh bos mereka.
"Kenapa mendadak sekali! Astaga, buang-buang waktu ku saja!" cerca Yona dengan kesal memakai helm nya, dan beranjak pergi menaiki motor matic miliknya.
"Ck, si tua itu sangat berisik" komentar salah satu pekerja itu dengan tatapan datar nya.
Yang lain ikut mengangguk setuju, mereka juga tertawa mendengar komentar barusan.
"Kau mau pulang denganku yaya?" Tawar seorang pria yang biasanya bertugas di meja kasir, namanya Rangga.
"Tak perlu, terimakasih tawaran mu Rangga" yaya menolak dengan sopan.
Rangga mengangguk, niat nya baik, hanya ingin membantu yaya agar tak kelelahan bolak-balik berjalan kaki. "Yasudah aku duluan" pamitnya
Yaya tersenyum ramah menatap Rangga yang baru saja pergi meninggalkan nya, kini yaya berdiri sendirian di depan restoran itu, semua rekan nya sudah hilang dari sana.
"kaki, semangat" ucap yaya lirih, gadis itu sungguh lelah berjalan setiap harinya, dan kali ini yaya harus kembali pulang dengan berjalan Sungguh ia merasa pegal disekujur kaki nya saat ini, namun apa boleh buat?
Yaya menoleh, seketika raut wajah nya murung menatap pemilik suara "Kau ingin pulang? Ayo aku antarkan"
Yaya menghindar saat tangan kekar Arlan hendak menggenggam nya. Arlan berdecak lelah, sungguh ia tak terbiasa terus bersabar seperti ini "Kau masih marah?"
Yaya diam, enggan menjawab pertanyaan konyol yang sudah pasti Arlan tahu jawaban nya!
"Jangan begini, atau aku akan kasar padamu" Ucap Arlan dengan ketus membuat nyali yaya sedikit menciut.
Arlan kembali mengulurkan tangan nya, menatap yaya seolah mengisyaratkan gadis itu untuk langsung menerima uluran itu.
Yaya diam tak bergeming, ia masih marah dan sangat muak dengan Arlan. Jika bisa memilih, yaya ingin mengulang kembali malam itu, dan ia akan pergi tanpa menolong Arlan, biar saja pria itu mati sekalian.
"ikut, atau kuculik kau dan ku ikat di gudang ku!"
Yaya seketika merinding, ia sangat benci kalimat 'culik' lebih tepatnya ia trauma dengan kalimat itu. Sebab dulu dirinya pernah nyaris dilecehkan dan dibunuh oleh orang jahat yang menculik nya beberapa bulan yang lalu.
. Dengan cepat yaya meraih menggenggam tangan Arlan, tanpa sadar gadis itu meremat kuat lengan kekar Arlan, menyalurkan segala rasa takut nya.
"Kau berencana meremuk kan lengan ku, angel?" Tanya Arlan dengan lembut, pria itu tak marah, justru ia merasa lucu akan sikap yaya saat ini.
Arlan mendengus saat yaya tak berbicara apa pun, tampaknya yaya masih merajuk dengan nya.
Brukh!
Keduanya menutup pintu mobil dengan serentak. Arlan memakai sabuk pengaman nya, ia turut melirik gadis disamping nya "Berbicaralah! Kenapa kau sangat suka membuatku marah?"
Yaya menoleh, mata itu menatap lekat wajah datar Arlan. Sejujurnya yaya sangat takut saat ini. ia tak suka di paksa, terutama pada orang asing seperti Arlan.
Arlan mengacak rambutnya frustasi, ia ingin sekali memarahi yaya, namun entah mengapa ia tak bisa, sebab saat melihat mata gadis itu, ia serasa menemukan sejuta teka-teki sendu dalam diri yaya.
"Baiklah! Baiklah! Aku salah telah mencium mu. dan aku minta maaf! Sungguh aku bisa gila jika kau begini yaya"
Yaya diam, ia menatap lelaki di sebelahnya yang tampak sangat kacau saat ini, dan itu karena dirinya "Aku tak bermaksud melecehkan, lancang, atau apapun itu. Aku hanya..." Arlan menunduk dalam dengan rambut berantakan nya, Ia menghela napas panjang, jantung nya berdegup kencang membuat dirinya tak nyaman.
Yaya menarik napas dalam, gadis itu mengulurkan tangan nya tuk mengelus rambut berantakan pria itu, dengan lembut yaya merapihkan nya kembali.
Arlan yang diperlakukan seperti itu sontak membeku di tempat. Apa ini tak salah? perlahan ia mengangkat pandangan pada sang pelaku, ia diam menatap yaya tanpa ekspresi. Namun yang dilihat yaya saat ini wajah Arlan sangat kacau, bahkan kuping lelaki itu memerah sekarang, entah apa penyebabnya. Yaya pun tak tahu.
Pandangan mereka bertemu sesaat sebelum akhirnya gadis itu memutus tatapan lebih dulu, yaya fokus merapihkan rambut Arlan hingga bagus kembali "Kau sudah tak marah lagi?" tanya Arlan perlan, pria itu bahkan rela menunduk agar yaya dapat leluasa melakukan aksi pada rambutnya.
Yaya menatap tatanan rambut Arlan yang sudah terlihat lebih baik, kemudian mata itu beralih menatap Arlan, ia menganggukkan kepalanya membuat Arlan bersorak riang dalam hati.
"Kenapa masih diam?" tanya Arlan lirih, entah kemana sifat arogan dan dingin nya. Kini ia tampak seperti anak kecil yang tengah berbicara dengan ibu nya.
Yaya tak menggubris nya, gadis itu hanya menghela napas kemudian kembali menggeleng. Entah kenapa gadis cantik itu tiba-tiba jadi malas bersuara.
Arlan kembali menunduk, ia membanting punggung nya menyender. Tangan nya kembali terangkat merusak tatanan rambut yang sudah di rapihkan yaya.
Yaya mengerutkan kening tak suka, ia menatap tajam pria itu yang sama sekali tak lagi menatapnya.
Bugh!
Yaya melotot kaget, Arlan baru saja memukul kasar stir di hadapan nya.