
Pintu kamar kembali terbuka, tampak Arlan masuk dengan penampilan yang lebih segar bugar, pria itu sudah tak menangis lagi, hanya saja... Mata dan hidungnya masih memerah.
SANGAT MENGGEMASKAN! rasanya yaya ingin memeluk pria itu sampai mati.
"Aku sudah mandi, baby" lapor pria itu sebelum akhirnya ia naik dan ikut berbaring di sebelah gadisnya.
Arlan diam memeluk pinggang langsing itu, ia mendengus lemas karena yaya sama sekali tidak bersuara. Biasanya gadis itu akan sangat perhatian, mengusap kepalanya, mengucapkan selamat malam dengan romantis, dan terakhir... Gadis itu akan memeluknya hingga mereka sama-sama terlelap.
Detik berganti menit, namun gadis itu tak kunjung memanjakan nya seperti biasa. Arlan mendengus sebal, ia bangkit untuk duduk. Ia melirik yaya yang sama sekali tidak memperdulikan dirinya. Gadis itu malah asyik bermain ponsel, bahkan kini yaya memunggungi nya!
Arlan memejamkan mata rapat-rapat. Emosi nya telah mencuat, tapi entah mengapa ia tak berani protes atau memarahi gadis itu. Tampaknya Arlan sudah takhluk pada gadis nya.
"Baby..."
Tak ada sahutan, yaya masih saja sibuk dengan dunia nya sendiri. Arlan berdecak, pria berotot itu memukul kepala nya sendiri "bodoh! Bodoh! Bodoh!" makin nya pada diri sendiri. Ia meracau tak jelas sambil memukuli kepalanya.
Yaya sontak berbalik, gadis itu terkejut setengah mati. Ia bahkan sampai menjatuhkan handphone nya ke lantai. Yaya langsung duduk, "Arlan!" tegur nya marah, ia lekas menahan tangan kekar itu agar tidak menyakiti diri sendiri lagi. Ia memeluk Arlan dengan erat saat mendapat celah, "kenapa sih!?" yaya bertanya dengan kesal, ia memper erat pelukan nya pada pria itu.
"Mommy..." Arlan berucap dengan suara serak nya, nyaris seperti rengekan "mommy... Aku bodoh, udah bohong sama mommy yaya. Mommy jadi cuekin aku" ucapnya dengan derai air mata yang tak bisa di cegah lagi.
Yaya memejamkan mata nya, gadis itu menggeleng dengan segala rutukan dalam hati. Kenapa waktu lama sekali berputar?! Kapan pergantian hari nya?! Ia tak sanggup terus-terusan menjahili Arlan seperti ini. Lihat lah sekarang, pria itu bahkan tak ragu tuk menyiksa diri sendiri hanya karena rasa sesal.
"Ommy... Maaf, kumohon..." Arlan meraung keras melepaskan segala sedih nya di pelukan gadis tercinta "maaf..."
Yaya menepuk punggung lebar itu "Sudah... Jangan menangis, jangan sakiti dirimu"
Bukan nya mereda, tangis pria itu malah semakin kencang "By... Hubby, please" pintanya memohon agar gadis itu kembali memanggilnya dengan sebutan sayang seperti biasanya.
Yaya menggeleng "diam, atau aku tidak akan memaafkan mu?" ancam gadis itu dengan santai nya. Membuat jantung Arlan menggila tak tertahankan.
"Maaf..." ia kemudian menyeruk kan wajah nya di leher jenjang gadis itu, Arlan sebisa mungkin menghentikan tangis nya. Segala ancaman gadis itu terasa benar-benar horor baginya.
Yaya menggigit bibir menatap badan kekar yang bergetar sesenggukan itu, Arlan menutup rapat mulutnya, tapi isakan isakan kecil dengan bandelnya masih saja lolos tanpa bisa di tahan. Sangat sedih sebenarnya yaya juga tak tega, gadis itu jadi ikut ingin menangis melihat orang tersayang nya begini.
"Ommy..." cicit pria itu pelan sekali, namun masih bisa di dengar dengan jelas oleh sang gadis. "Apa?" tanya nya.
Arlan mengangkat wajah nya, menatap yaya "mau hisap jari, boleh ya? Please..." pinta nya dengan amat memohon. Sumpah ini bukan Arlan sekali, andai Lan menyaksikan hal ini, pasti asisten itu akan menganga lebar hingga rahang nya lepas.
"Tak boleh"
Pandangan mata itu semakin sayu, bahkan bahu kokoh itu turut merosot lesu. Kepalanya tertunduk dengan mata yang kembali berair "ya udah, gapapa. Peluk aja" ucap Arlan berusaha tetap tabah.
"Hm. Sekarang tidur, dan jangan berbuat konyol lagi! Paham?!"
Arlan mengangguk pelan, pria itu langsung berbaring sambil mendekap hangat tubuh kekasih hati nya "I love you, Ommy yaya" Ucapnya berharap gadis itu membalas, namun nyatanya tidak, yaya hanya diam dengan mata terpejam.
"Ommy?... I said i love you, kamu gak dengar?" Arlan tak menyerah, ia bertanya dengan tenggorokan tercekat.
"Hm"
Arlan mengepalkan tangan nya dibalik pelukan itu, kesal sekali rasanya, sedih juga! Sungguh menyakiti hati dan jiwa.
"Tidur, jangan mikir aneh-aneh! Kalau kamu self harm lagi, aku lepas cincin tunangan kita"
"No! Iya ini tidur, Aku tidur"
****
Yaya menatap penuh iba wajah kekasih nya, Arlan sudah tertidur sejak berjam jam yang lalu, namun tidak dengan gadis itu. Sebab yaya akan memberikan sesuatu untuk Arlan, sebentar lagi...
Gadis itu terus menerus merapalkan kata maaf dalam hati nya, tertuju pada pria tampan itu. Berharap setelah surprise ini selesai, Arlan tidak akan sakit hati pada nya, atas segala sikap nya yang sangat jauh dari apa yang di sukai pria itu.
"Sudah waktunya"
Gadis itu beranjak turun dari kasur, sempat kewalahan karena Arlan nyaris terbangun beberapa kali. Namun pada akhirnya ia berhasil lolos dari tempat tidur itu. Yaya membuka pintu kamar sepelan mungkin, ia tersenyum saat mendapati Ani, Nila, Lan dan sudah berdiri menunggu nya.
"Ini kue nya, Nona" ucap Ani memberikan kue tart rasa vanila cokelat berhias lilin angka 24 untuk Arlan.
Yaya mengangguk "terimakasih, kalian jangan masuk ucapnya tak kalah berbisik. Takut terdengar oleh singa nya.
"Kami tunggu kalian di bawah, Nona" ucap Lan
Gadis itu kemudian menutup kembali pintu kamar nya, lilin sudah menyala, tinggal ditiup saja oleh sang empunya. Lampu kamar sudah mati, ruangan ini hanya di terangi oleh lilin di kue yang menyala. Jantung yaya berdegup lebih cepat, jujur saja ia gugup karena ini pengalaman pertama nya memberi kejutan untuk seorang pria.
Yaya duduk di tepian ranjang, ia terkikik menatap Arlan yang sedang terlelap seperti bayi. Gadis itu mengguncang lengan si pria hingga ia terusik.
"Mommy..., mommy!" Arlan mengucek matanya sambil meraba-raba bagian sebelah nya yang kososng. Yaya tertawa, gadis itu segera menggapai tangan Arlan "im, here Hubby" (aku disini, sayang)
Arlan langsung duduk, matanya membola, ia senang sekali mendengar julukan itu lagi, tidak sampai di situ, ia semakin terkejut saat melihat gadisnya memegang kue tart indah dengan lilin merah berbentuk angka yang sudah dinyalai oleh api.
"Happy birthday, to you...
Happy birthday to you.." yaya mulai bernyanyi dengan mata berkaca-kaca, ia ikut bahagia menatap binar di mata Arlan saat ini. Tampak pria itu sangat bahagia mendapat surprise seperti ini.
"Happy birthday to, Hubby... Happy birthday, my love..."
Arlan terkekeh bahagia, bahkan ia ikut menitikkan air mata nya. Ah, sialan! Kenapa Arlan jadi mudah menangis?!
"Make a wish, sayang"
Arlan memejamkan mata, dengan tangan terlipat di depan dada, ia mulai membuat permohonan dan doa. Setelah puas, ia membuka kembali matanya, dan lekas meniup lilin tersebut hingga padam.
"Yeay!.." pekik yaya dengan lembut, Arlan menyalakan lampu hingga ruangan kembali terang, kemudian ia beralih memeluk gadisnya dengan erat "Kamu mengerjai ku?" tanya nya
Yaya terkekeh "yup! Karena kamu akan semakin tua, aku ingin mengerjai mu. Sekali lagi, selamat menua sayang... Semoga, kamu sehat selalu, panjang umur nya, bahagia selalu. I love you, hubby!"
Arlan mengangguk "love you to, Mommy yaya. Thank you untuk surprise nya, tapi jujur, aku tidak menyukai rencana mu. Kamu menyiksa ku"
"Hahaha, maaf hubby, tapi kamu sangat menggemaskan saat menangis"
"Mataku sampai kebas, hidungku juga perih"
Yaya tertawa, ia menyisir rambut pria itu dengan jemari nya "ululu, maaf ya sayang? Jadi sakit matanya? sini coba aku lihat"
Cup!
Cup!
Arlan tersenyum lebar, merasa sangat senang dicium oleh gadisnya. Itu tanda bahwa yaya sangat menyayangi nya, dan Arlan suka itu. "lagi" pinta nya dengan seenak hati.
Definisi dikasih hati minta jantung :)
Yaya tertawa, ia menangkuo kedua rahang tegas pria itu, menyatukan kening satu sama lain, "Maaf sudah membuat kamu sedih semalaman hubby. Mau 'kan memaafkan ku?" tuturnya dengan lembut, menghipnotis Arlan yang hanya mampu mengangguk kan kepala.
Gadis itu tersenyum manis, kemudian ia menyatukan bibir mereka, memberikan ciuman tercandu bagi pria itu. Arlan memejam mata, suara kecipak keduanya beradu memenuhi ruangan, tangan Arlan mengangkat gadisnya naik ke atas pangkuan nya, ia mengelus pinggang itu sensual. Sedangkan yaya juga menyelinapkan jari-jarinya di tengkuk pria itu, sesekali ia mengelus nya begitu lembut, membuat sekujur tubuh Arlan terbakar gairah.
Arlan melepaskan ciuman itu. ia sudah tak tahan, dibawah sana sudah keras, begitu menyiksa dirinya "Baby... Aku ke toilet dulu"
Yaya menahan pria itu "kenapa? kamu baik-baik saja?" Tanya nya bingung, sebab biasanya Arlan tak mau melepas ciuman begitu saja, pria itu selalu memaksa bahkan sering kali membuatnya kehabisan napas.
"Sesak baby, awas!"
Yaya mendelik kesal "apa yang sesak? ayo kita ke dokter saja!" Ucapnya yang masih belum mengerti arti 'sesak' yang dimaksud kekasih nya.
Arlan berdecak frustasi, ia menekan pinggul gadis itu hingga milik mereka bersentuhan secara tak langsung "itu yang sesak, sayang"
Yaya melongo, gadis itu langsung melepaskan diri dari pria nya "sana cepatlah, aku tunggu kamu di bawah. Bye hubby!" ucapnya kemudian berlari menghilang dari kamar itu.
Arlan hanya bisa terkekeh-kekeh melihat tingkah gadis itu "Dasar, kamu"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
NUNA UPDATE!!!! Yeayy!
1415 kata, semoga kalian senang dengan part ini 😀
Nuna berterimakasih buat kalian yang masih mau nangkring di lapak ini, maaf nuna gak bisa ngasih kalian give away atau apapun kayak yg author lain lakuin :) Sebisa mungkin Nuna bakal ngasih yang terbaik lewat ketikan ku ya 😊😉
OH IYAAAA yang belum follow, ayo dong follow Nuna, supaya kalian gak ketinggalan update terbaru dari semua karya Nuna.... FYI, bentar lagi bakalan ada karya baru ku yang akan netas... STAY TUNE YA SAYANG-SAYANGNYA NUNA 😘 dijamin kalian bakal senyum-senyum sendiri deh bacanya hehehe
udah segitu aja cuap-cuap nya... PAPAY👋 stay healthy guys. Nuna Love y'll