Good Romance With My Bad Mafia

Good Romance With My Bad Mafia
CHAPTER 73



Yaya meremat ujung dress yang ia kenakan, senang rasanya saat Arlan menolak dengan tegas ajakan makan siang dari sekretaris genit itu, namun... Jujur saja hati yaya masih tak tenang, apakah Arlan akan selalu begini terhadapnya? Apakah suatu saat pria itu akan tergoda? Hei, dia itu pria tampan nan kaya raya, siapapun pasti rela menjual harga dirinya demi mengejar cinta dari Arlan.


"Apa suatu saat kamu akan pergi, hubby?" batin gadis itu menatap nanar jemarinya yang saling memelintir.


Tap!


Arlan baru saja menutup laptop nya, ia turut merenggangkan otot tubuh nya, ia tersenyum menatap ke arah sang gadis "ayo kita makan siang, baby" ajak nya.


Yaya mengangguk saja, gadis itu berdiri dari sofa. ia menyambut uluran tangan pria itu "mau makan apa?" tanya Arlan dengan lembut, pria itu menyempatkan diri tuk mencuri sebuah kecupan kecil di bibir gadis nya yang hanya diam dengan senyuman tipis.


"Terserah, apa saja yang menurutmu enak" jawab gadis itu berusaha menutupi kegusaran nya. Ia tersenyum menatap balik pria itu, tak mau membuat Arlan curiga ataupun khawatir padanya.


"Jangan bilang begitu, aku bukan cenayang yang tahu apa saja yang kamu mau dan tidak, baby" ucap Arlan menasehati, tangan nya yang menganggur ia gunakan tuk membuka pintu "semua wanita terkadang aneh, aku bingung dengan kaum kalian" celetuk Arlan seraya terkekeh geli melirik gadis itu.


Arlan itu memang tak se romantis pria diluaran sana, tapi kadar kepekaan nya terkadang diatas ambang normal, garis bawahi, terkadang!


Ia memang melihat gadis itu tersenyum, tapi Arlan tau jika senyuman itu bukan senyum yang ia kenal, apa ada sesuatu yang mengusik pikiran gadisnya?


Arlan menggeleng samar, ia akan berbicara di dalam mobil saja. Langkah mereka berhenti tepat di depan pintu mobil, Arlan membuka kan pintu itu untuk gadisnya "Silahkan tuan putri...."


"terimakasih"


*****


Arlan menghentikan mobilnya di parkiran restoran mewah langganan pria itu, ia mengunci mobil secara otomatis, yaya mengernyit bingung saat ia tak bisa membuka pintu mobil itu "kenapa dikunci? tak jadi makan siang?" tanya gadis itu kebingungan.


"Kita makan setelah kamu jujur padaku," ucapnya tenang, pria itu melepas seat belt nya, ia memiringkan tubuh menghadap yaya yang hanya diam "aku tak yakin bisa menelan dengan baik jika cintaku sedang seperti ini" ia mengelus surai gadis itu dengan penuh kelembutan, membuat sang empu menatap ke arah nya.


"Aku baik-baik saja" ucap yaya pelan, ia memegangi perutnya "aku lapar" rengek nya agar pria itu teralihkan dari topik awal. dapat ia dengar helaan napas panjang dari pria itu, Dan berhasil, Arlan mengangguk dan membuka kan pintu mobil yang semula terkunci.


"Baiklah, tapi setelah makan... Kita bicarakan semua nya"


"Semuanya apa?" tanya gadis itu berpura-pura tak mengerti.


"Semua yang ada dalam pikiran mu, baby. Jangan mencoba menutupi diri dari calon suami mu, ini"


Susah payah gadis itu menegak Saliva nya, entah mengapa Arlan bisa sadar, padahal sudah sebisa mungkin ia menyembunyikan kegusaran nya dari pria itu.


"Let's go, baby..."


Yaya menggenggam arat tangan pria itu, mereka masuk ke dalam restoran tersebut. Untuk sejenak Arlan akan mengalah demi perut gadis nya yang sudah kelaparan sedari tadi.


"Selamat datang, Tuan dan Nyonya..." sapa para pelayang yang lewat dengan nampan di tangan mereka.


Arlan mengangguk saja, sedangkan yaya tersenyum membalas sapaan hangat dari para pekerja di restoran ini "kita duduk dimana?" tanya gadis itu sebab dari tadi Arlan tidak memilih tempat, ia menggiring gadisnya jalan entah ke mana.


"Hm?" gadis itu menaikkan alisnya bingung "tempat khusus maksudmu?"


Arlan mengangguk "meja VVIP"


Yaya berdecih "sombong sekali, bapak ini" celetuknya membuat Arlan melongo tak percaya.


"Aku bukan bapak mu"


Yaya tertawa "hanya perumpamaan, hubby... Astaga" gadis itu mengelus rahang pria nya dengan sebelah tangan, ia menggeleng kepala menatap wajah garang Arlan saat ini.


Sensitif sekali singa nya itu.


Arlan sendiri hanya bisa menghela napas nya, hei jarak umurnya dengan gadis ini hanya berjarak tiga tahun, apa ia pantas dipanggil bapak seperti tadi? Jelas Arlan tak suka.


"Aku tanya sekali lagi, mau makan apa?" tanya Arlan saat keduanya telah tiba di lantai dua, dimana jejeran meja VVIP berada, ruangan mewah dengan kepadatan pengunjung yang jelas minim, tak banyak orang bisa merasakan duduk di tempat eksklusif seperti ini.


"Tempat nya indah, terimakasih hubby, aku.. Hm" gadis itu meraih secarik kertas di atas meja, hari ini ternyata adalah hari jadi yang ke lima belas tahun berdirinya restoran mewah yang mereka datangi. Yaya tersenyum menatap kertas berpita lucu di tangan nya, ada gambar dessert disana, beserta ucapan selamat datang, tertuju pada semua pengunjung yang membuka kertas itu.


"cake ini tampak lezat, aku mau yang ini" gadis itu menujuk kan gambar cake cokelat itu pada Arlan yang hanya diam menatap kertas itu "itu bukan menu utama, baby"


Yaya mengangguk "i know, ayolah berhenti bertanya dan pesankan apa saja, aku yakin selera lidah hubby cocok dengan ku"


Seketika senyum Arlan tersungging, ia mengangguk kecil "baiklah..." ia menjentikkan jari dan sedetik kemudian sudah ada waiters yang datang menghampiri meja mereka.


"Selama siang, Tuan dan Nyonya. Ingin pesan sesuatu?"


Yaya hanya diam memperhatikan interaksi antara sang tunangan bersama waiters tersebut "Sediakan juga air mineral dua, itu saja"


"Baik tuan, mohon menunggu, pesanan akan kami siapkan"


Arlan mengangguk, waiters tersebut pun pergi menjalankan tugasnya, Arlan beralih menatap gadisnya yang sudah tersenyum menatap dirinya dengan tangan yang berlipat di atas meja "kenapa?" tanya Arlan


Yaya menggeleng, "hubby sangat keren, entah mengapa aku jadi semakin terpesona dengan wajah mu" ucap gadis itu apa adanya, membuat Arlan tersipu dalam diam.


Astaga gadis ini, ada saja omongan nya yang bisa membuat Arlan meleleh di tempat!


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


ciak neng yaya bisa aja nih 😋🙄


jan lupa vote cerita ini ya bro and sist, thankyou buat yg setia nungguin up cerita ini, Nuna sayang kamoeh... mwah🌷🎈