
Yaya menatap pintu kamar nya yang terbuka. Gadis itu menatap dua orang pembantu yang masuk dengan mendorong troli berisi makanan pesanan gadis itu.
"Permisi, nona. Ini makanan anda.."
Yaya mengangguk saat troli itu berhenti tepat di samping ranjang nya. Kening yaya mengernyit saat tak menemukan sambal di mangkuk bakso nya "mana sambal nya?" tanya yaya
Kedua pembantu itu menunduk "maaf nona, tuan melarang kami membawa sambal, saos, atau apapun yang berhubungan dengan cabai ke sini" Jelas salah satunya membuat yaya menganga kesal.
"Benar nona, kata tuan bos, nona tidak boleh memakan cabe sembarangan"
Yaya berdecak, peraturan macam apa itu!? Apa Arlan kira ini pertama kalinya yaya memakan cabai!? Tak tahukah ia kalau yaya ini si ratu pemakan cabai?! Astaga pria itu sangat bertolak belakang dengan kriteria Yaya.
"Tolong ambilkan aku sambal, siapa nama kalian?" tanya yaya menatap dua pembantu berseragam abu-abu itu.
"Saya nila, dan.."
"Saya Ani, mulai sekarang, kami akan menjadi asisten yang mengurus anda. Nona"
Yaya mengangguk saja agar cepat. ia kembali pada topik sambal, butuh perjuangan keras karena dua pembantu itu sangat takut menuruti permintaan nya. Namun setelah beberapa kali membujuk, akhirnya yaya bisa mendapat yang ia mau.
"Ini, nona... Dua puluh cabai rawit setan, sesuai permintaan anda"
Para pembantu itu bergidik ngeri menghirup aroma cabai yang sangat menyeruak lepas di udara. Yaya tersenyum bahagia, gadis itu mulai menuangkan sambal nya dengan banyak hingga kuah baksonya merah menyala seperti lahar.
"Non, apa tidak masalah? Itu.. Itu merah sekali"
"Benar, kami takut anda sakit perut nona"
Yaya menatap kedua pembantu nya yang sangat risau menatap mangkok bakso nya "tak masalah" yaya mengibaskan tangan "pergilah, kalian sudah banyak membantu. Terimakasih"
Dua pembantu itu dengan tak rela pamit pergi, mereka sangat takut kalau nanti majikan baru mereka kenapa-napa. Bisa bahaya, bukan hanya gaji mereka yang terancam, namun nyawa keduanya juga. Mengingat Arlan bukanlah sosok pria biasa, ia bak malaikat maut yang bisa menjemput ajal kapanpun ia ingin.
"Apa kita laporkan saja pada tuan bos?"
Nila mengangguk juga "aku saja sampai takut melihat kuah makanan nona, itu tidak wajar, bisa sakit perut nona bila dibiarkan"
***
Arlan menatap Lan yang baru saja masuk ke dalam ruang kerja nya setelah mengetuk pintu "permisi tuan, dua maid ini ingin menghadap. Ada yang penting kata mereka" Lan masuk diikuti Nila dan Ani di belakang nya.
Arlan menatap dua wanita berseragam khusus yang dibuat Arlan untuk dapat menandai bahwa dua wanita itu di tugas kan khusus mengurus yaya "kenapa? Gadisku berulah?"
Ani dan Nila gugup setengah mati saat pertanyaan Arlan masuk di telinga mereka. Lan menunduk kemudian pergi meninggalkan ruangan itu, membuat kadar ketakutan Nila dan Ani semakin bertambah.
"Jawab! Kenapa kalian diam!" Arlan menggebrak meja kerja nya hingga pena yang awalnya terletak diatas meja kini melompat jatuh dari meja nya.
"Izin melapor t-tuan. Maafkan kami..." ujar keduanya kompak sembari menunduk takut "nona, nona meminta sambal"
Arlan berdecak "jangan turuti!"
Ani gemetaran menatap tuan nya "maaf tuan. tadi nona sampai memohon, kami bisa apa? Kami takut nona marah tuan, j-jadi kami memberikan non—"
Prang!
"Bodoh! Kenapa kalian beri! Kalau gadisku kenapa-napa, nyawa kalian jadi taruhan nya"
Nila bersujud di lantai dengan badan gemataran "maaf t-tuan! Jangan hukum kami. Nona meminta kami untuk tidak memberi tahu ini pada anda, kami, kami khawatir nona sakit, jadi kami diam-diam melapor pada anda"
"Benar tuan. Kasihani kami"
Arlan memijat pelipis nya "pergi kalian!" usirnya yang langsung dituruti dua pembantu itu.
Arlan menggeram, ia mengusak kasar wajah hingga rambut nya. Pria itu menatap berkas yang sempat ia teliti, kemudian beralih menutup semuanya dalam satu map. Arlan keluar dari sana.
***