
"Nona, apa nona baik-baik saja?" tanya Ani yang baru saja tiba membawa nampan berisi makanan yang diperintahkan oleh Arlan.
Yaya menggeleng "aku tak apa, Ani. Apa itu?"
Ani tersenyum, ia meletakkan nampan berisi daging ayam bakar juga sedikit sambal terasi di atas nakas. "Makanan anda, nona. Tuan bos, yang menyuruh saya. Katanya nona harus menghabiskan ini semua"
Yaya mengangguk, ia mulai melahap makanan lezat itu "tak masalah, aku bisa menghabiskan nya" ujar yaya sedikit tersenyum dengan mulut gembung berisi makanan.
"Baiklah, nona perlu sesuatu?" tanya Ani
Yaya menggeleng "sekarang belum, tapi tidak tahu kalau nanti"
Ani tertawa kecil, yaya sungguh menggemaskan dimata nya "Baiklah, kalau begitu, saya pamit ke bawah, sebentar lagi Nila akan datang membawa minuman juga vitamin untuk anda, Nona"
"Baiklah, terimakasih Ani"
"Tidak masalah, Nona, saya permisi"
Yaya kembali fokus menyantap makanan nya hingga habis, tak berselang lama, pintu kamarnya kembali terbuka, menampilkan sosok Nila yang datang membawa minuman juga vitamin untuk nya "Nona, selamat pagi" Sapa pembantu itu ramah
Yaya tersenyum cerah "pagi, Nila. Apa ini sungguhan vitamin?" yaya mengangkat botol kecil berwarna cokelat dengan tulisan resep di luarnya
"Benar, nona. Itu vitamin daya tahan tubuh, agar nona tidak kelelahan, dan penambah zat besi"
Yaya mengangguk saja, gadis itu mulai meminum air mineral nya, kemudian ia menelan pil vitamin sebutir "hah..." yaya menyeka sudut bibirnya yang basah, Nila yang melihat kepolosan Nona nya hanya bisa tersenyum.
"Nila, kemana Ani?"
"di dapur, Nona"
"Untuk apa dia ke dapur?"
Nina tersenyum "tuan bos menyuruh kami menyediakan cemilan, pie blueberry, dan masih banyak lagi untuk anda, Nona"
Gadis itu mengernyit tak suka, entah mengapa ia selalu kesal pada segala hal yang bersangkutan dengan Arlan.
"Ah, bos kalian itu ternyata" yaya mengangguk paham, pantas saja Nila dan Ani tidak se santai biasanya.
Nila menggenggam erat nampan di tangan nya "sepertinya... Tuan sangat menyayangi Nona, tidak pernah sekalipun saya melihat tuan semanis ini pada wanita"
Yaya mendelik "apa ada wanita lain selain aku, yang pernah ia bawa ke rumah ini?" tanya yaya
Nila menggeleng, "seingat saya tidak, nona. Namun, beberapa rekan kerja tuan, pernah bermain kemari... Banyak, ada wanita juga pria. Dan tuan tak sepengertian ini jika dengan mereka" adu Nila dengan wajah penuh minat.
"Ahaha" yaya tertawa sumbang, ia mengibaskan tangan "sudahlah biarkan saja"
"Apa nona tahu? Tuan pernah berpacaran sebelumnya?" bisik Nila
Yaya yang dibisiki seperti itu tentu saja jadi penasaran "benarkah?" Tanya nya ikut berbisik.
Nila mengangguk "Benar, nona" ia menatap pintu kamar yang masih tertutup rapat "Mereka gadis-gadis sexy yang sangat... Ah, kaya. Baju, sepatu, perhiasan, semuanya mewah"
Yaya mengangguk "sexy? Jadi Arlan itu suka gadis seperti itu?"
"Saya kurang tahu, Non. Tapi yang jelas, semua mantan kekasih tuan, itu semuanya sexy dan hot. Saya saja sampai merinding melihat belahan baju mereka"
Yaya tertawa, ia sampai menggeplak bahu Nila yang gemetaran geli "benar, nona. Sungguh! Belum lagi rok mini yang ketat, uh... Sudahlah, saya jadi takut" timpal pembantu itu.
"Ahaha, kau ini... Tapi, apa mereka pernah menginap?" tanya yaya.
Akhirnya yaya hanya bisa mengangguk "sudahlah, ayo temani aku ke dapur.. Aku ingin makan cokelat!"
"Mari nona, dengan senang hati"
...****************...
Yaya tersenyum menatap para koki yang semangat menjejerkan makanan buatan mereka diatas pantry. Ada berbagai jenis cookies, dessert box, macaron, Sate, jus buah, dan berbagai nya.
"Cookies cokelat! Aku mau itu pak"
"Itu jus buah naga? Aku juga mau itu!"
"Apa ada cake keju? Aku ingin memakan nya"
Ani tersenyum lebar menatap kegirangan Yaya memilih makanan dan memerintah para koki di rumah ini, sejak kehadiran yaya, suasana rumah ini menjadi lebih ceria, dan ramai.
"Aku ingin cokelat leleh, yang banyak! Dengan buah strawberry segar!"
"Baik nona!"
Nila menyenggol lengan Ani "Nona kita sangat menggemaskan, aku jadi merasa memiliki seorang adik"
Ani mengangguk "Aku senang dia berada di rumah ini"
Kedua pembantu itu menatapi yaya dari kejauhan, tampak yaya dengan riang memakan segala jenis hidangan yang ia mau, dengan sesekali berseru riang memuji koki, dan sesekali pula gadis itu mengomentari kekurangan dari cita rasa masakan itu.
"Bisa kalian buat kan aku pie cokelat? Yang extra! Aku mau saat di gigit, cokelat nya meleleh sampai tumpah"
"Baik nona!" jawab ketiga koki itu serentak.
"Dan nanti sore, tolong belikan aku susu strawberry"
...****************...
Tak terasa pagi telah berganti petang, ketiga koki itu tersenyum senang saat mereka diajak makan bersama oleh Nona mereka itu, semeja bersama dengan Ani dan Nila juga.
Awalnya mereka sudah menolak dengan sopan, namun yaya justru memaksa dengan embel-embel akan melaporkan mereka pada Arlan karena tak mau menuruti keinginan nya.
"Selamat makan!" ujar mereka semua kompak, setelahnya hanya dentingan alat makan yang terdengar di ruangan itu.
Yaya tersenyum ceria menatap makanan di piring nya, ada gulai kambing sambal matah yang sangat ia sukai. Bersyukur sekali ia bisa bebas memakan apapun di rumah ini, mungkin nanti dirinya akan membalas kebaikan Arlan suatu saat.
Suara deru mesin mobil yang sangat mereka kenali tiba-tiba terdengar, itu mobil Arlan. Seketika acara makan mereka mendadak ricuh. Mereka bangkit membawa makanan mereka lari meninggalkan meja makan beserta Nona bos mereka.
"Maaf nona! Kami harus pergi, terimakasih banyak telah mengajak kami makan bersama"
Setelahnya semua nya telah menghilang dari meja makan. Yaya sendirian lagi, bahu nya merosot menatap kanan kiri nya yang kembali kosong.
"Selamat malam, t-tuan"
"Dimana gadisku?"
"Nona sedang berada di meja makan, tuan"