
**SEPERTI BIASA... JANGAN LUPA LIKE👍 DAN KOMEN 💬 PADA BAGIAN YANG KAMU SUKAI YA~ **
...** HAPPY READING**!...
...****************...
Yaya terkejut, ia menatap horor wajah Arlan yang entah sejak kapan sudah kembali. "Melihat apa?" tanya Arlan, pria itu memberikan plastik berisi bakso bakar juga sate ayam pesanan gadisnya.
"Mantan kekasih mu?" yaya menunjukkan layar handphone Arlan pada sang empu. Sebelah tangan nya lagi mengambil plastik berisi makanan pesanan nya yang disodorkan sang pria.
Arlan mengambil benda pipih itu, ia berdecak "kenapa foto wanita ini masih ada?!" dengan kesal ia menghapus foto tersebut. Ia menatap gadis nya kembali, bahkan Arlan melempar asal handphone nya ke jok belakang "kau cemburu?" tanya Arlan memastikan. Bukan apa-apa, ia tak mau sampai gadis nya merajuk.
Yaya menggeleng, ia menarik satu tusuk bakso bakar itu, kemudian menyuap nya pada Arlan, pria itu menurut, ia tidak akan menolak apapun yang disuapkan yaya untuk nya "sungguh?" tanya Arlan lagi dengan raut khawatir.
Yaya menatap mata Arlan, ia tersenyum "tidak, untuk apa aku cemburu?" tanya yaya balik membuat Arlan merasa lega.
"Hum! Ini sungguh enak!" puji yaya menatap bakso bakar nya, lalu beralih melirik sang tunangan yang sudah mau membelikan makanan itu untuk nya "terimakasih, Arlan"
Arlan mengangguk, ia mengusap sisa noda saus yang menempel di sudut bibir yaya, lalu ia memasukkan jempol bersaos nya itu kedalam mulutnya sendiri, membuat yaya jadi salah tingkah. Ada-ada saja perlakuan aneh Arlan yang mampu membuat jantung yaya berdebar.
"Arlan, aku mau lebih banyak lagi, boleh?" ucap yaya menunjuk bakso bakar nya yang tersisa delapan tusuk, dua tusuk sudah ia makan bersama Arlan tadi.
Arlan mengangguk "besok, okay? Itu semua milikmu"
Yaya menggeleng ribut "mau sekarang! Aku ingin memakan nya di rumah"
"No, jangan terlalu banyak, sayang... Itu tidak sehat"
Yaya mendengus sebal "selalu saja begitu!" dumel nya "lihat saja, jangan salahkan aku kalau suatu hari aku berpacaran dengan tukang bakso bakar" ujarnya asal sambil mengunyah bakso bakar nya.
Arlan terkekeh gemas, ia menjawil hidung bangir gadis nya "kau ingin berselingkuh dengan penjual bakso? Yang benar saja sayang" akhirnya tawa Arlan pecah
Yaya jadi ikut tertawa "habisnya kau pelit sekali, padahal kan... Aku ingin makan bakso bakar yang banyak"
Arlan tersenyum, "besok saja, itu sate mu masih ada sayang"
yaya akhirnya mengangguk, gadis itu diam dengan tenang melahap makanan nya, sesekali ia juga menyuapi Arlan yang tentu saja tidak menolak.
"Arlan.."
"Hm?"
Yaya menatap ke jok belakang sekilas, tempat dimana handphone pria itu tergeletak naas "tadi aku melihat fotomu saat masih kecil"
Arlan mengangguk, ia tahu foto mana yang gadisnya maksud, karena memang hanya ada satu foto nya saat masih kecil, foto Arlan yang imut sedang di gendong mommy nya "kenapa?" tanya nya
Yaya tersenyum "kau sangat menggemaskan!" pekik yaya kegirangan mengingat senyum anak kecil dalam foto tersebut.
"Mau yang lebih menggemaskan, sayang?" tanya Arlan "kita bisa membuat nya, anak kita pasti lebih lucu, karena Daddy nya itu aku, dan mommy nya adalah kamu"
Cup!
Yaya memutar bola mata malas "mesum!" celetuknya malas.
Arlan terkekeh "kita langsung pulang saja, tidak apa?"
Yaya mengangguk "tapi... Kenapa? Bukan kah tadi, kau ingin mengajak—"
Arlan menggeleng "tidak jadi. Aku ingin bobo dengan mu" Arlan menjatuhkan kepala nya di pundak sang gadis.
Yaya terkikik geli, pasti mode manja Arlan kumat "tapi aku sedang tidak mau memanjakan mu, bagaimana?" tanya yaya dengan seringai jahil yang tidak dapat dilihat tunangan nya itu.
Arlan berdecak "kenapa?! Kau harus mau, tidak boleh menolak" Protes Arlan menjauh dari pundak itu, ia kembali menegakkan badan.
yaya hanya menggeleng "tidak mau..." goda yaya dengan raut wajah jutek menyebalkan di mata Arlan.
Arlan berdecih " apa harus ku bunuh dulu teman-teman mu baru kau mau menurut padaku?!" ancam nya mulai naik darah.
Yaya menatap tajam pria itu "cih, ancaman nya selalu begitu!" dumel nya "terserah! Kalau kau membunuh orang hanya demi ku turuti... Aku tak mau lagi berbicara padamu! Aku akan diam selama-lama nya, dan terakhir.. Jika kau masih sering mengancam, aku akan bunuh diri saja"
Yaya memberengut dengan bibir mengerucut menatap Arlan "apa?" cicit nya "aku kan juga ingin egois sesekali..."
Arlan menarik yaya duduk di atas pangkuan nya semudah mengangkat boneka, ia menatap yaya yang hanya menunduk dengan bibir mengerucut lucu "lihat aku" titah nya yang langsung dituruti sang gadis
Arlan menatap dalam mata jernih si gadis, ia mengusap sayang pipi gembil yaya "jangan pernah berpikiran begitu! Kau tidak boleh. Kalau mati, aku yang harus lebih dulu meninggalkan mu, tidak dengan kamu... Bunuh diri? Kamu tak boleh melakukan itu! Paham!?" tegur Arlan dengan tegas bak sang ayah yang sedang menasehati putri nya.
Yaya mengangguk pasrah, "habis nya.... Kamu menyebalkan Arlan! Segala yang kamu mau harus bisa kuturuti, aku tak boleh menolak, kalau menolak kau pasti membahayakan nyawa orang lain untuk mengancam ku" sungut yaya sebisa mungkin berucap seperti anak kecil, agar Arlan merasa gemas padanya dan tidak tersinggung.
Arlan mengandik acuh "maka dari itu, pilihan mu hanya menurut bukan?"
Yaya mendelik kesal "tidak ada bobo bareng lagi! Aku gak mau mene—"
"Bilang apa, barusan? Hm?" ucap Arlan dengan suara bariton dalam nya.
Yaya jadi merinding mendengar suara berat itu, sangat manly! Dan begitu cocok pada Arlan-nya.
Yaya merengek marah, "jangan tatap aku begitu! Wajahmu menyeramkan jika begitu!" sungut nya saat Arlan mulai mengeluarkan aura gelap di sekitar mereka.
Arlan hanya diam, matanya bahkan tidak berkedip sama sekali, tatapan tajam nya menusuk hingga membuat yaya ketakutan sekarang. "hng..." bibir yaya melengkung ke bawah, ia sungguh takut sekarang menatap pria menyeramkan itu "Arlan..." yaya mengelus dada bidang pria itu namun tidak juga digubris sang empu.
Mata gadis itu sudah berkilap merah, ia takut sekali ditatap tajam dalam keheningan oleh tunangan psikopat nya itu "iya, yaya mau... Jangan tatap yaya begitu" yaya mengusap rahang tegas Arlan dengan tangan nya yang bergetar kecil.
"Jangan diam saja, kalau marah... Ayo omeli saja yaya, jangan diam begini" yaya melepaskan tangis nya saat Arlan tetap diam, gadis itu memeluk leher Arlan "berbicara! Hiks, jangan diami yaya, maaf yaya... Arlan?" yaya kesal sendiri pria itu tak mau menenangkan nya seperti biasanya saat yaya menangis.
Yaya lepas pelukan nya, ia menangkup kedua pipi Arlan, menatapnya takut-takut "sungguh marah?" tanya nya pelan. Lagi, Arlan tak menjawab apapun, andai saja yaya tahu kalau saat ini pria nya itu sedang berusaha menahan gejolak emosi nya di hadapan sang gadis.
"Baby nya yaya, marah sama yaya?" gadis itu mengelus lembut dada Arlan bermaksud menenangkan pria itu, yaya yakin saat ini Arlan pasti sedang emosi berat dan ingin melenyapkan nyawa seseorang seperti biasanya.
Gila! Ini pertama kalinya yaya diabaikan oleh Arlan! Pria itu bahkan tak luluh pada ucapan manis yaya, apa yang harus ia lakukan?!
"Mau bobo sama yaya? Iya?" yaya menatap dalam mata tajam itu "ayo pulang, nanti boleh isap jari yaya, cuddle, nanti yaya cium pipi nya, mau kan?" tanya yaya dengan binar polos andalan gadis itu.
Arlan diam.
Yaya mau menangis darah rasanya, padahal hanya karena menolak menemani Arlan bobo, lihatlah sekarang, semua jadi runyam begini. Menyesal sekali yaya telah menolak permintaan Arlan tadi.
"Sayang..."
Dapat yaya rasakan tubuh Arlan menegang, pandangan pria itu sedikit meredup, tidak se mengerikan sebelumnya. Arlan menatap yaya datar, masih mempertahankan keterdiaman nya.
Padahal dalam gati pria itu menjerit kegirangan, sebab ini pertama kalinya sang gadis memanggilnya dengan sebutan sayang.
"Sayang?" yaya menepuk pelan pipi Arlan "tidak suka dipanggil begitu oleh ku, ya?" ucap yaya berpura-pura bersedih.
Yaya kepikiran ide bagus, pasti kali ini Arlan yang akan berbalik membujuk nya.
Yaya menatap Arlan dengan senyum tipis, gadis itu mengangguk pelan "aku paham, pasti... Hanya gadis yang kau cintai yang boleh memanggil mu begitu" yaya bergerak di pangkuan Arlan hendak kembali ke jok sebelah kemudi yang tadi ia duduki.
Arlan sontak menahan pinggang gadis itu, ia bahkan memeluk pinggang itu dengan erat agar gadisnya tidak bisa beranjak ke mana pun.
"Bicara apa kamu?!" ucapnya tak suka "Kamu satu-satunya gadis yang aku cintai, ingat itu yaya"
Yaya mengangguk saja, pandangan nya masih sayu, ia lesu seperti orang patah hati "Hu'um" jawab gadis itu pelan. Arlan mengerutkan kening tak suka karena gadisnya jadi loyo begitu "Tidak percaya? Kau cemburu?" tanya nya kesal.
Yaya tersenyum tipis "aku percaya" ucapnya pelan dengan suara serak, entahlah mungkin hanya kebetulan kerongkongan yaya kering jadi terdengar serak begitu. Namun suara serak itu justru diartikan lain oleh Arlan, pria itu jadi gelisah menatap yaya yang terus bergerak minta di lepas.
"Turunin, yaya" punya gadis itu pelan.
Arlan menggeleng, ia menatap lekat kedua mata gadis nya "kau marah" tebak nya mutlak.
"aku tidak marah. lepaskan, aku mau duduk di tempat itu" yaya menunjuk jok yang biasa ia duduki.
Arlan menggeleng tegas "tidak! Duduk di pangkuan ku saja. Kita pulang!"
***