Good Romance With My Bad Mafia

Good Romance With My Bad Mafia
CHAPTER 80



Lan berlari menuju ruang kerja tuan bos nya, lengkap dengan flashdisk berisi segala bukti pelaku pengiriman teror. Pria bermata sipit itu mengetuk pintu beberapa kali, namun tak ada jawaban. Merasa waktu semakin menghimpit, akhirnya ia nekat masuk ke dalam ruang kerja itu. Kosong!


"Astaga! Dimana.." Lan keluar dari sana, ia kembali berlari menuju kamar Nona nya, barangkali pria yang notabene nya adalah bos mafia nya itu ada di sana.


"Tuan! Ini saya, Lan!" pekik nya tidak sabaran, mata itu sedari tadi mengawasi detik demi detik yang berlalu lewat arloji mahal yang dipakai nya.


Lan menghela napas lega saat pintu terbuka, menampilkan sang bos yang tampak memasang wajah datar seperti biasanya. Lan meneguk ludah nya susah payah, ia memberikan flashdisk mini yang sedari tadi ia genggam "ini segala bukti nya tuan," Lan mendekat selangkah "dan pelaku sudah berada di bawah tanah" lapor nya sedikit menekankan suara agar sang Nona yang sedang menata kutek di meja rias tidak mendengar.


"Kau tunggu aku di sana, sebentar lagi aku menyusul"


"Baik, tuan!"


...****************...


Yaya melirik dua pria yang berbincang di ambang pintu kamar nya itu. Sedari tadi mereka tampak berbisik, apa sebenarnya yang mereka bicara kan? Apakah soal pekerjaan?


Gadis cantik bermata indah bak boneka itu tersenyum saat Arlan menutup pintu dan berjalan kembali mendekati nya, "hubby, kalian bicarakan apa?" tanya nya.


Arlan tersenyum tipis, maaf yaya kali ini pria itu harus berbohong padamu "Lan melaporkan keadaan kantor, itu saja Baby"


"Oh. ku kira apa"


Arlan mengecup pipi gadis itu berulang kali hingga sang empunya menggeliat geli "aku ada urusan sebentar, jangan keluar kamar sampai aku kembali, paham baby?"


Yaya mengangguk patuh, toh ia juga tak masalah, saat ini ia ingin bersantai dengan menonton film sambil rebahan di kasur empuk nya.


"kalau bosan, panggil saja dua pembantu mu itu"


"Iya, baiklah. Sana, kau ada urusan bukan?"


Arlan mengangguk, ia menggighit gemas pipi gadis itu "i love you!" kemudian ia pergi dari sana.


"Huft.. Akhirnya aku bisa me time!!" ucap gadis itu kegirangan. Ia segera berlari menuju kasur, tak lupa dengan ipad miliknya yang dibelikan oleh Arlan beberapa hari lalu. Gadis itu tersenyum menatap semua genre film drama asia terbaru. Bukan hanya korea, yaya juga menaruh minat pada drama china, dan thailand. Sangat seru menurutnya.


"Haahhh, siang yang indah, ditemani dengan film juga suasana yang nyaman. I love it!"


...****************...


Sedangkan di lain tempat, Arlan mengeratkan rahang nya mendapati sosok yang begitu ia kenali berada di ruang bawah tanah, seorang gadis cantik berpakaian medis yang tak lain dan tak bukan adalah Roma.


"Haruskah aku mengirim mu berjumpa dengan kakak mu?" batin Arlan menatap tajam wajah lesu gadis itu, entah apa yang telah terjadi, namun yabg pasti keadaan gadis itu jauh dari kata baik, ada beberapa goresan luka di tangan nya, dan wajah itu sangat kotor, rambut panjang Roma juga berantakan.


"Lepaskan aku bajjingan!!!" maki nya menatap Arlan yang berdiri dengan gagah di hadapan gadis itu.


"Kenapa kau berulah?! Bukankah aku sudah mencoba memperbaiki semuanya?! Apa semua itu kurang Roma!!!" Akhirnya Arlan bersuara.


Roma sedikit tersentak mendengar suara keras pria itu, ini kali pertama ia mendengar suara Arlan yang begitu "kau pembunuh!!! Kau dan yaya pantas untuk mati!"


PLAK!!


Roma tertawa lirih, ia memejamkan mata menikmati sensasi luar biasa sakit di pipi nya saat salah satu algojo menampar kepala nya dengan amat keras, bahkan rasa sakitnya menjalar sampai ke leher, begitu menyiksa.


"Kalian diam saja!" pekik Arlan gemas menatap kelancangan sang algojo. Ia juga sebenarnya geram mendengar ucapan gadis itu, tapi jangan menampar nya seperti tadi, sangat pengecut. Jika memang ingin menyakiti, sakiti saja sampai mati, itu prinsip Arlan.


"Bunuh aku... Cepat! BUNUH AKU BANGSATT"


Arlan berjongkok, ia mensejajarkan diri nya dengan posisi gadis itu yang duduk di lantai dengan sekujur tubuhnya yang dibelit menggunakan rantai besi.


"Aku tak menyalahkan kemarahan mu. Tapi apa kau sadar tindakan mu salah?! Yang menghabisi nyawa kakak mu itu aku! Bukan yaya, kenapa kau malah meneror dia, bukan nya aku?!"


Gadis itu menggelengkan kepalanya "kalian sama saja! Penghianat! Dia lebih mementingkan mu, SAMA SEPERTI KAU YANG SELALU MEMENTINGKAN DIRI SENDIRI! KALIAN EGOIS!" dada gadis itu sampai naik turun, napasnya tercekat. Sangat sakit hatinya saat mengetahui sang kakak yang paling dia sayangi telah tiada "tahu begini, aku tidak akan mau menolong mu malam itu, seharusnya kubiarkan kau mati, brengsek!"


Arlan memejamkan mata sejenak guna meredamkan emosi nya yang sudah diujung tanduk "sekarang apa mau mu!"


"Kau mati!" jawab gadis itu cepat, dan lantang. Membuat semua algojo, juga asisten Lan mengeratkan rahang.


"Ku beri kau waktu satu hari untuk berpikir. Kau mau melupakan semuanya dan kembali seperti dulu, atau mau mengakhiri semuanya. Dengan senang hati mereka akan mengubur mu hidup-hidup"


"AAAAAARRRGGH!" Roma berteriak kencang seperti orang gila. Ia bergerak rusuh mencoba melepaskan diri dari rantai besi yang meliliti nya, namun gagal, dia tidak sekuat seperti yang ia inginkan. Gadis itu menangis, berteriak dan memaki Arlan yang sudah keluar dari ruangan eksekusi itu.


"Kau pembunuh! Darah harus dibalas darah! BANGSATT!"


Lan berjongkok di hadapan gadis menyedihkan itu, sebenarnya ia juga kasihan melihat keadaan Roma saat ini, bisa dibilang ia tak tega sebenarnya. Tapi mau bagaimana lagi? Ia sama sekali tak bisa menolong gadis itu, "Roma, kau gadis yang baik. Aku tahu itu, jadi... Pikirkanlah dulu, aku sangat menyayangkan jika gadis baik, cerdas dan berbakat seperti mu akan mati sia-sia"


Roma kembali bereaksi, gadis itu berteriak sangat kencang hingga akhirnya ia terbatuk hebat "pergi kau sialan! Kau tak tahu rasanya menjadi aku!! Kalian semua pembunuh! Kau brengsek! Kau juga brengsek!!" Racau gadis itu kemudian kembali menangis sesenggukan.


Lan menghembuskan napas panjang, sepertinya berbicara saat ini bukanlah jalan terbaik, sebab gadis itu terus saja memaki dan berteriak seperti orang gila. Lan kembali berdiri tegap, ia melirik dua algojo yang penuh dengan tatto di pojok ruangan "kalian jaga dia! Berikan kebutuhan nya. Jangan sakiti dia jika tidak ada perintah dari bos, sampai kalian ketahuan melanggar... Aku habisi kalian!"


Lan berbalik, ia pun memutuskan untuk pergi dari tempat itu. Kedua algojo langsung mengangkat tubuh Roma dan mengikat nya di sebuah brankar khusus. mereka perlahan melepas lilitan rantai besar utu dari tubuh Roma, menggantinya dengan mengikat kedua tangan dan kaki gadis itu pada sudut brankar, membuat roma hanya bisa berbaring pasrah dengan mata yang tak berhenti memuntahkan air.


"Kak Luis... Maaf kak, maaf belum bisa membela mu"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


HEY GUYS! JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, DAN HADIAH NYA JUGA SABI KALI :) PENGEN GUE