Good Romance With My Bad Mafia

Good Romance With My Bad Mafia
CHAPTER 38



Selama di perjalanan yaya tersenyum kemenangan, ia menyembunyikan wajah nya di dada bidang pria itu, yaya berpura-pura galau dengan mata berair. Dan berhasil! Arlan jadi tidak mendiami nya lagi.


Pria itu bahkan rela memangku yaya saat sedang menyetir, sebelah tangan nya ia gunakan mengemudi dan sebelah nya lagi mengelus sayang punggung gadis nya.


Arlan mengeratkan rahang kesal saat merasakan kemeja yang ia kenakan basah di bagian dada, sudah pasti gadisnya itu menangis dalam diam disana.


"Jangan menangis, kau tak usah berpikir yang bukan-bukan. Kau satu-satunya gadisku, yaya"


Yaya diam, gadis itu tersenyum licik, kali ini dirinya yang menang! Dan yaya akan selalu begini agar pria gila psikopat kejam itu bisa ia kendalikan. "Hiks... Y-yaya tidak menangis" elaknya berpura-pura polos, padahal tadi ia meloloskan isakan nya agar terdengar oleh pria itu.


Arlan menggeram rendah, ia mengecup berkali-kali rambut gadis nya "Aku hanya mencintai mu, sungguh! Dan aku suka saat—"


"Menyetir yang fokus Arlan, nanti saja bicara nya" potong yaya pelan, gadis itu semakin mengeratkan pelukan nya pada dada tunangan nya, nyaman sekali.


Arlan mengemudi kan mobil nya dengan cepat, agar bisa segera berbicara meluruskan kesalah pahaman gadis nya. Ia mematikan mesin mobil saat mereka sudah tiba di rumah megah pria itu.


Ia keluar masih dengan menggendong yaya ala koala, ia tak mau melepaskan gadis itu meski telah beberapa kali yaya memberontak minta diturunkan. "Kita harus bicara sayang" bisik Arlan tepat di telinga gadis nya


Arlan duduk disofa ruang keluarga nya, ia tetap mengurung yaya dalam pangkuan, ia menatap wajah si gadis yang tampak lesu, tidak ceria seperti biasanya. Andai Arlan tahu itu hanyalah akal-akalan yaya agar pria itu gagal marah pada nya.


"Mau Bicarakan apa?" tanya yaya


Arlan menatap dalam siluet indah sang gadis "Aku tidak pernah memikirkan gadis lain, kamu tahu yaya? Kamu satu-satunya di hati ku"


Yaya berdecih dalam hati, Arlan memangnya punya hati?!


"Dan kamu, tak perlu lagi berpikiran negatif, aku senang saat kamu memanggilku dengan sebutan sayang, aku suka!" Arlan memeluk gadis nya erat, yaya mengangguk dalam dekapan itu.


"Lalu.. Kenapa diam saja saat aku memanggilmu tadi? kenapa tidak menjawab ku?" tanya yaya ikut memeluk pria itu.


Arlan mendongak menatap wajah cantik gadis nya yang kini sedikit lebih tinggi dari dirinya "aku.. Terkejut mendengar nya tadi"


Yaya tersenyum, gadis itu mengelus sayang rambut Arlan "kau tahu Arlan? Sepertinya aku benar telah menyukai mu"


Arlan tersenyum lebar "sungguh!?" tanya nya antusias, yaya mengangguk "sudah mulai, aku baru mulai mencintai mu, masih sedikit rasanya tapi.."


Arlan mengangguk "tak apa, aku akan sabar hingga kamu benar-benar ikut mencintai ku sepenuh hati, lalu kita akan menikah"


Yaya terkekeh "indah sekali khayalan mu"


"Itu bukan khayalan kosong, karena aku akan mewujudkan nya, nanti. Percayalah"


Yaya mengangguk "Sebentar lagi, aku tepat berada sebulan lamanya dalam kurungan mu, apa setelah ini... Aku boleh kembali bekerja?" tanya yaya sedikit berhati-hati.


"tidak! Kau tak usah bekerja, ada aku yang bekerja untuk mu"


Yaya menabok bahu pria itu gemas "kau ini, atas dasar apa kau membiayai ku?"


Arlan terkekeh "atas, dasar... Cinta?" ucapnya diakhiri tawa kedua nya.


"tapi Arlan, aku tetap ingin bekerja"


Senyum Arlan lantas menghilang, ia menggeleng menatapi gadis nya "tidak sayang, kamu hanya perlu diam di rumah, bersama ku, memeluk ku, menyayangi ku, dan memperhatikan ku. Paham?"


Ah mungkin ini lah akhir dari dunia berat yaya? "Baiklah, sayang" goda yaya dengan senyum menukik indah


Arlan merona, ia merasa seluruh wajahnya saat ini berdesir panas "bilang apa, tadi?"


Yaya terkikik geli menatap pipi Arlan yang memerah seperti tomat "Sayang" Ulang nya.


Arlan langsung memeluk erat tubuh gadis di pangkuan nya itu, ia mengeram dengan debaran jantung yang menggila, bibirnya tak henti tersenyum lebar, ia menyembunyikan wajah nya di dada sekal gadis nya. Arlan salting!


Yaya tertawa, ia mencoba meraih wajah Arlan namun sang empu menolak, Arlan justru semakin menyeruk pada dada nya sembari menggeleng kecil "Sayang..." ucap gadis itu mendayu, kembali memggodai Arlan yang sedang baper parah saat i ini.


"Sayang? Coba lihat sini, mana wajahmu, hm? Sayang nya yaya... Sini sayang" Yaya terus saja menggodai pria itu.


Arlan semakin erat memeluk pinggang yaya ia mengeram, sekarang seluruh wajah nya sudah merah padam, bahkan sampai ke telinga nya "Kamu ingin ku makan, baby?" ucap Arlan berbisik di telinga sang gadis.


Yaya terkekeh "jangan Om , yaya masih kecil.." ucapnya seperti bocah "yaya masih perawan, jangan Om"


Arlan tertawa terbahak, ia melepas pelukan nya guna menatap wajah pujaan hati nya "kenapa kau lucu sekali!!!" Arlan mengecupi pipi gadis itu sebanyak-banyak nya, membuat yaya terkikik Merasa geli akibat gesekan cepat bibir pria itu.


"Ahahahaha! Sudah om! Jangan cium aku, nanti tunangan ku, marah kalau tahu"


Arlan kembali tertawa, hingga menampakkan seluruh gigi nya "apa tunangan mu itu tampan?" tanya nya berpura-pura menyelidik.


Yaya mengangguk mantap "dia sangaaaat tampan, seperti pangeran yang dulu selalu ku bayangkan sebelum tidur bersama anak-anak lain di panti" jawabnya jujur.


Degh


Arlan terdiam sejenak, apa ada hal lain yang tak ia ketahui tentang gadis nya ini? Ah, biarlah itu dia urus nanti, untuk sekarang Arlan hanya ingin menghabiskan banyak waktunya bersama gadis ini.


"Apa ia lebih tampan dari pada aku?" tanya Arlan melanjutkan guyonan mereka.


Yaya mengangguk "Om tidak ada apa-apa nya, jika dibanding kan dengan kekasih ku"


"Aaarrggh!" Arlan membabi buta mengecupi leher yaya hingga gadis itu tertawa lepas.


Hari ini, Arlan lagi-lagi bahagia, sebab gadisnya sudah berani mengakui nya sebagai kekasih hati.