Good Romance With My Bad Mafia

Good Romance With My Bad Mafia
CHAPTER 63



[konflik mulai muncul lagi nich]


HAPPY READING!!!


...****************...


Yaya tersenyum senang saat makanan telah tiba, baru saja Lan masuk memberikan dua kotak berisi makanan juga empat cup berlogo khusus, berisi dua cup es krim, dan dua cup es lemon tea.


"Terimakasih, daddy!" pekik yaya saat Arlan membukakan box makanan nya. Arlan sampai terbatuk karena ucapan gadis itu.


"Bilang apa tadi?" tanya Arlan serius, dengan mata berbinar juga pipi yang mulai memerah.


"Hm?" yaya mengunyah makanan nya dengan wajah tampak berpikir "terimakasih?" ulang nya seusai menelan isi dalam mulut nya.


"Bukan, tadi bukan hanya terimakasih" desak Arlan "cepat ulangi"


Yaya tersenyum geli, ia akhirnya sadar "aku lupa" jawabnya acuh.


"Sayang..."


Yaya berdecak kesal, "Daddy? Daddy..." yaya memiringkan wajah nya dengan senyum dipaksakan "Daddy... Oh, Daddy!" Seru gadis itu dengan suara lembut nan imut andalan nya.


"Cukup!" Arlan beranjak pergi, ia mengusak kasar wajah nya yang sudah dipastikan sangat merah sekarang ini.


Yaya hanya tersenyum menatap Arlan yang mondar-mandir dengan wajah memerah nya. Ah, pria itu salah tingkah hanya karena dipanggil daddy?


"Arlan.. Duduk dan makan, nanti punyamu dingin" ucap yaya akhirnya setelah sekian menit menunggu Arlan yang tak kunjung sembuh dari gelora di dada.


Arlan tersenyum amat lebar, ia memegang dada nya yang bergemuruh, tidak kah gadis itu sadar jika ia nyaris meleyot mendengar sebutan daddy yang keluar dari mulutnya.


"Kenapa begitu? Padahal hanya ucapan saja" dengus yaya menatap jenaka Arlan yang baru mulai menyantap makanan nya.


"Jangan bertanya karena rasanya tak bisa aku jelaskan"


***


"Sayang..."


"Hm?" yaya menekan ipad Arlan hingga video spongebob yang sedang ia tonton terhenti. Gadis itu membalikkan badan, ia melotot menatap Arlan yang baru saja selesai mandi, pria itu keluar hanya mengenakan handuk yang melilit di pinggang nya.


Astaga! Berani sekali pria itu menyuguhkan tubuh nya terbuka seperti itu!


"Arlan!" yaya segera beranjak menjauh, bahkan kini gadis itu sudah berdiri di depan pintu unit apartemen yang mereka huni. Matanya memicing tajam mengarah tepat pada netra si pria yang kebingungan di tempat.


Arlan menggaruk kepalanya "kenapa? aku hanya memanggil"


Gadis itu memejamkan matanya erat "Jangan mendekat! Kau tidak sopan! Kenapa bertelanjang begitu!? Kita belum sah, jangan seenak nya!"


Brak!


Arlan mengerjap menatap gadisnya yang sudah keluar dari kamar apartemen nya. "Yaya!" Arlan kesetanan, ia dengan segera memakai pakaian miliknya, tak ada waktu memilih, ia mengenakan kaos biasa dengan celana pendek selutut.


"Yaya!" pria itu bergegas pergi mencari keberadaan pujaan hati nya.


***


Lan menatap Nona nya yang baru saja menggedor-gedor pintu unit yang ditempati nya, tepat bersebelahan dengan unit Bos nya itu.


"Minggir!" yaya nyelonong masuk ke dalam sana tanpa sungkan. Gadis itu duduki sofa dengan wajah ditekuk masam, tangan nya memeluk erat ipad yang sedari tadi dia bawa.


"Nona... M-maaf sebelumnya, tapi... Apa terjadi sesuatu? Ada yang bisa saya bantu?"


Yaya melirik Lan sekilas, pria tampan bermata sipit itu tampak khawatir dengan nya "Antarkan aku kembali ke rumah nenek Ella!" titah gadis itu ketus, ia berdiri lalu keluar dari tempat itu.


"Bagaimana ini?" gumam Lan bertanya pada diri sendiri.


Memilih aman, Lan kembali masuk ke dalam unit nya, ia berdiri tepat di balik pintu yang telah ia tutup, siap siaga mana kala Yaya kembali menyuruh nya menjadi supir.


"Sayang? Kenapa keluar dari sana?" Arlan mencoba memeluk gadis itu namun yaya dengan sigap mengelak.


"Cukup! Kau terlalu berlebihan... Aku memanjakan mu selama ini, bukan berarti kau bisa semena-mena begitu!" Omelan itu akhirnya keluar juga.


Arlan hanya diam, ia mendengarkan segala ungkapan dari mulut gadis cantik di hadapan nya ini "Aku akan pulang! Kau akan semakin meraja lela jika aku tetap di sini"


"Pulang kemana?! Jangan bertindak gila, sayang... Aku tak akan mengijinkan kamu pergi ke sana lagi!"


"Terserah apa katamu! Aku tetap akan pergi, kita harus menjaga jarak Arlan! Kau harus sadar batasan. Kita belum men—"


"Kita bicara di dalam!" putus Arlan, pria itu dengan paksa membawa gadisnya masuk kembali ke dalam unit miliknya, tak ingin percakapan mereka terdengar oleh telinga kepo di luaran sana.


"Ch... Selalu saja begini! Lepas" gadis itu menepis kasar genggaman Arlan dari lengan nya.


Arlan membiarkan gadis itu duduk di sofa, ia tetap berdiri menatap gadisnya dari jarak yang lumayan jauh.


"Kenapa marah? Apa aku berbuat salah? Aku tadi baru selesai mandi, aku ingin meminta tolong ambilkan baju... Apa yang salah?!"


Yaya terkekeh jengah, gadis itu menatap tajam wajah Arlan "Jelas salah! Kau muncul dalam keadaan bertelanjang! Apa kau gila?! Aku ini bukan istri mu! Kenapa dengan santai nya kau menghampiri aku dalam keadaan polos seperti itu?!"


Arlan berdecak "aku masih mengenakan handuk, aku tidak bertelanjang" koreksi nya.


"Sama saja!" teriak gadis itu "apa pergaulan mu se bebas itu?!"


Arlan mengandik acuh, ia jadi ikut emosi di teriaki begitu "Intinya aku tidak telanjang!" Tekan nya menatap datar wajah gadis itu.


Yaya berdecak, tangan nya terangkat menunjuk wajah pria itu "kau... Tetap salah! Mungkin dalam kebiasaan bebasmu itu wajar, tapi tidak dengan ku! Sangat pantang menampakkan diri dalam keadaan seperti tadi, meskipun ada handuk... Itu tetap tidak sopan!"


Arlan mengusak wajahnya "kau merepotkan! Kita sudah tunangan! apa salah nya?"


"ARLAN!" yaya berdiri, gadis itu menatap nyalang pria itu "kau...Ck, aku tak tahu bagaimana budaya mu, tapi dalam kamus hidupku, tidak ada kebebasan bagi lawan jenis, apa lagi kita belum menikah! Jaga sikap mu!" gadis itu bahkan melempar ipad yang sedari tadi bersamanya hingga kini tergeletak naas di lantai.


Arlan menatap gadis itu dalam, ia sungguh terkejut melihat ke brutalan gadis tercinta nya untuk kali pertama "kenapa marah sekali? Okay aku salah... Aku minta maaf, aku—"


"Berhenti meminta maaf, aku muak mendengar itu!. percuma ku maafkan jika nanti kau akan berbuat kesalahan baru" desisnya tajam


"Baby..." tegur Arlan jujur saja emosi nya sudah di ujung tanduk saat ini.


"Pantas saja kau bisa sampai di perk*sa, pergaulan mu terlalu bebas dengan gadis-gadis sexy di luaran sana"


"YAYA" Arlan mengepalkan tangan sekuat tenaga mengontrol emosi nya, ia tak mau gadis itu terluka oleh nya.


Tahu rasanya? Saat kalian marah besar pada seseorang yang kalian sayang tapi tak berani meluapkan emosi, takut mereka terluka? Ya itulah yang dirasakan Arlan saat ini.


"Apa? Maaf jika aku lancang, tapi itu nyata nya! Jika aku berucap lembut kau tak akan mau mendengar, kurasa dengan ucapan itu kau pasti bisa berpikir tent—"


"Ya! Aku kotor! Aku memang hidup dalam budaya bebas! Kau benci itu? Silahkan..." Suara Arlan melemah di akhir ucapan nya.


Sejenak terjadi keheningan, yaya menatap Arlan yang mulai menunduk dalam. Ah, gadis itu jadi melunak, ia merasa bersalah telah mengungkit masalah itu.


Arlan kemudian beranjak pergi mengurung diri dalam kamar nya, ia bahkan menguncinya dari dalam agar gadis itu tak bisa masuk.


"Antarkan gadisku!" ucap Arlan lewat sambungan telepon, setelahnya pria itu menghempaskan tubuhnya di kasur dalam keadaan hati yang sakit sekali.


Ia jadi mengingat saat itu, malam dimana dirinya sangat lemah tak bisa melawan hasrat dalam diri. Arlan seketika sesak, ia merasa sakit karena telah gagal menjadi yang pertama bagi gadisnya.


Tanpa bisa di cegah, air matanya pun menetes. Arlan kembali menangis tanpa suara.