
POV Arlan
Darah ini berdesir hebat, kalimat itu kembali terucap... DADY?! Ah, rasanya badan ini tiba-tiba lemas, entah mengapa tiap gadis menggemaskan ini memanggilku daddy rasanya aku ingin langsung menjadikan nya milikku seutuhnya!
Aku tersenyum diam-diam, akhirnya aku tahu sebesar apa rasa cinta nya padaku. Akhirnya... Aku tidak cinta sendirian lagi, sekarang semuanya sudah jelas terbukti kalau yaya juga mencintai ku, dan takut ku tinggalkan. Lihatlah sekarang, ia bahkan minta dinikahi oleh ku.
Ah, entah mengapa dunia terasa sedikit lebih indah dari biasanya. Haruskah aku bersorak girang? Ah... Jangan! Nanti gadisku mengira aku tidak waras
"Huuu... Hiks, Daddy... Huaaa" yaya menangis lagi, membuat aku tersadar.
"Kamu sepertinya kelelahan, tidurlah dulu... Istirahat kan pikiran mu" Aku memegang pinggul ramping gadis itu lalu mengangkat nya tuk berbaring di kasur.
Yaya menggeliat, ia melepaskan tangan besar ku dari pinggulnya, ia menarik Aku masuk dalam pelukan nya "HUAAAAA!!!! ayo menikah saja! Jangan begini... yaya gak mau, yaya tak akan mencari pria lain, yaya hanya mau Arlan, yaya cinta nya sama Arlan..."
Aku tersenyum bangga, akhirnya dia dengan terus terang memohon padaku "Apa kamu yakin?" tanyaku berpura-pura ragu.
kulihat ia mengangguk mantap "Sungguh... Yaya hiks, yaya cuma mau sama Daddy Arlan.... Tidak mau cari pria lain, jangan menjauhi ku"
Aku merasa seperti ingin terbang, apa ku terkam saja gadis menggemaskan ini? Kenapa dia tak berhenti memanggilku dengan sebutan Daddy nya itu?! Hei aku tak tahan!
Sial! Sekarang adikku malah meronta karena mendengar suara indah nya yang sedang merengek begitu.
"Berhenti sayang, kau membuat ku nyaris hilang kendali" ucapku seraya mencengkram rahang gadis itu hingga bibirnya membulat seperti ikan "Dan sekarang adikku rewel, bagaimana ini?" bisik ku tepat di depan wajah nya, membuat gadis itu memejam takut.
Aku tahu yaya pasti paham maksud ku, dia bukan anak kecil lagi yang tak tahu akan hasrat, yaya gadis dewasa seperti pada umum nya.
"Menikah dulu..." cicitnya lirih, wajah nya sekarang sudah sangat memerah.
Aku mengangguk saja, ku tatap wajah merah nya itu dalam dan cukup lama, membuatnya jadi salah tingkah dan merengek minta aku berhenti menatap nya.
"Arlan... Sudah sana!" ia mendorong-dorong dadaku menjauh.
Aku menggelengkan kepalaku "minta yang baik, dengan imut seperti tadi"
ku lihat wajahnya semakin memerah, bahkan kini matanya sudah kembali berkaca-kaca. Aku semakin gencar mengungkung nya, kini ia berada dalam kurungan ku "Memohon lah, baby..." ucapku serak.
Yaya menggeliat, ku tatap ia semakin lekat, jujur saja aku menginginkan nya, tapi... Tidak! Aku tak akan menghancurkan nya. Akan ku tunggu hingga malam pertama kami tiba.
Dengan sedikit keberanian yang ia punya, gadis itu menatap ku, sungguh lucu dirinya "Daddy... Lepaskan" pinta nya, namun tidak semanja yang aku inginkan. Aku menggelengkan kepalaku "ulangi" titahku.
Yaya merengek, namun tak ayal ia menurutiku "Daddy...." suara manja itu mendayu indah di telinga ku, tangan nya naik mengelus rahang kokoh milik ku "Lepaskan ya? Daddy... Please..." mohon nya dengan amat Arrrgghhh! Aku merinding jadinya!
Baiklah, aku kalah, aku hanyut. Ku lepaskan dia, aku segera berlari menuju toilet tuk melemaskan adikku yang sedari tadi rewel minta kepuasan.