Good Romance With My Bad Mafia

Good Romance With My Bad Mafia
CHAPTER 18



Ceklek....


Yaya terkejut saat sosok Arlan muncul dibalik pintu yang baru saja terbuka. Gadis itu dengan cepat mengelap noda makanan di sudut bibir nya, ia bahkan melempar asal serbet yang ia pakai ke dalam mangkok bakso nya yang sudah kosong melompong.



Arlan tersenyum tipis menatap wajah yaya yang sangat memerah, terutama di bagian bibir gadis itu. "Sudah kenyang?" tanya nya berpura-pura santai.


Yaya mengangguk, ia menepuk tempat kosong di sebelah nya, Arlan menurut, ia duduk di sana.


"Kau dari mana?" tanya yaya menatap setelan Arlan yang sejak pagi selalu sama. Kemeja yang dibaluti jas hijau juga celana bahan senada.


"Ruang kerja ku" jawab Arlan.


Yaya mengangguk "sudah selesai kerjaan mu?" tanya gadis itu lagi.


Arlan mengangguk "hm"


"Apa kau lelah?" tanya yaya dengan menatap dalam wajah kusut Arlan.


Arlan menganggukkan kepalanya lagi "begitu lah"


"Kalau lelah, kenapa kemari? Kenapa tidak istirahat saja di kamarmu?"


"Aku ingin melihat mu dulu" ucap Arlan seraya mencari wajah jelita yaya, mulai dari mata, hidung, hingga bibir. Sangat menawan.


"Apa boleh aku keluar? Aku ing—"


"Tidak bisa"


Yaya mencebik kesal saat ucapan nya di potong oleh pria itu "menyebalkan" gumam nya pelan


"Aku mendengarnya" sahut Arlan


Yaya mendengus, ia bersedekap menatap tajam pria itu "yasudah sana, pergilah beristirahat. Jangan mengganggu ku terus!"


Arlan mengangguk "tapi peluk dulu" ia merentangkan tangan nya membuat yaya berdecih dalam hati "baiklah... Karna mood ku sedang bagus, aku mau melakukan ini" yaya langsung masuk memeluk tubuh kekar itu.


Arlan tersenyum, ia menggoyahkan tubuh hingga ikut bergerak ke kanan-kiri "senang karna melawan larangan ku? hm?"


Sontak yaya membeku, terkejut, namun sebisa mungkin ia menetralkan diri agar tak dicurigai lebih lagi oleh Arlan "t-tidak! Yaya tidak nakal" cicitnya dengan gugup.


Yaya mengangguk, gadis itu melepas pelukan nya "pergilah, kau harus beristirahat, jangan terlalu memaksa diri, nanti kau sakit"


Arlan mengulum senyumnya, jujur ia sangat berdebar saat ini "kau perduli?" tanya Arlan berbasa basi


Yaya mengangguk "t-tentu. Kalau kau sakit... Kau..." yaya menunduk bingung dengan kalimat apa yang harus ia katakan


Arlan mengangkat dagu yaya hingga kini pandangan keduanya bertemu "aku?" tanya Arlan memperjelas


Yaya berdehem, ide cemerlang hadir dalam kepala nya. "Kalau kau sakit... Ak-aku akan sedih" ucapnya dengan wajah nelangsa, membuat hati Arlan sedikit tersentuh.


"Kau sedih kalau aku sakit? begitu?" tanya Arlan memastikan. Sungguh ia sangat bahagia mendengar kalimat dari bibir yaya tadi.


Yaya menampol wajah Arlan yang sangat lekat menatap nya "j-jangan tatap aku begitu!" decak nya menatap garang wajah Arlan.


Arlan terkekeh-kekeh, ia mengangguk "baiklah... Tapi kau belum menjawab ku"


Yaya mengembungkan pipinya, kenapa pria ini suka sekali yaya memperhatikan nya!? Dasar pria haus belaian!


"Y-ya, aku akan sedih jika pria menyebalkan ini jatuh sakit" ucapnya sembari menekan hidung Arlan dengan kencang membuat sang empu terkikik geli.


Arlan menggigit telunjuk yaya dengan gemas, hanya sebentar namun efeknya mampu membuat yaya mematung di tempat menatap jari mungil nya.


"Wajahmu memerah, apa kau sakit?" tanya Arlan menggoda gadis itu.


Yaya yang semula shock kini kembali menatap Arlan "ew! Kenapa digigit!" sungutnya mengelap jari telunjuk itu di badan Arlan "tanganku pasti bau terkena liur mu!" omelnya menatap tajam wajah Arlan.


Bukan nya takut Arlan justru terkekeh gemas, ia mengusak rambut gadis nya hingga berantakan "kau menggemaskan sekali"


Yaya berdecak "ARLAN! kau!.... hiiihhh!" yaya memukul Arlan kemudian menendang paha pria itu hingga bergeser menjauh


Arlan tertawa, ia baru tahu kalau gadis nya sangat kasar ternyata. "Kau menyiksa ku, sayang" Arlan mengusap bahu nya yang masih dipukuli yaya.


"Kau yang mencari masalah dengan ku!" yaya menghentikan aksi nya, ia kemudian bersedekap dada menatap arah lain "huh!"


Arlan tersenyum "jangan terlalu sering merajuk, sayang. Aku tak pandai membujuk wanita" Arlan mengelus sayang rambut gadis itu.


"Kau kan, pemaksa! Mana bisa membujuk dengan baik?" dumel yaya menatap lurus ke arah pintu kamar.