
Yaya termenung dalam kamar nya, ia mengangguk halus seperti orang kerasukan. Kini ia tahu, kalau dirinya mulai nyaman bersama pria pemaksa kaya raya itu, dan kini yaya sadar, kalau dirinya sayang pada Arlan.
Kali ini murni dari hati ke hati, bukan karena rasa kemanusiaan seperti sebelum-sebelumnya. Yaya sakit hati saat Arlan membentak nya, yaya benci saat Arlan menyakiti diri pria itu sendiri dengan memukul tembok seperti orang gila, dan yaya kesal saat mengetahui kalau Arlan melewatkan makan malam pria itu.
Ya, gadis itu sungguh menyayangi Arlan!
...****************...
Pagi telah tiba, yaya keluar dari kamar nya dengan wajah lebih segar. Ia telah mandi dan memakai dres santai menuju lantai paling bawah.
"Selamat pagi, nona cantik" sapa Nila
Yaya mengangguk "Selamat pagi juga, Nila cantik" sahut nya mengundang gelak tawa dari yang lain.
"Baru kali ini ada yang memuji mu, Nila" ucap salah satu koki wanita disana sambil menatap oven yang sedang memanggang itu.
"Sialan kau!"
"Heh!" tegur Ani menepuk lengan Nila "Ada nona, jaga bahasa mu!"
Nila tersenyum tak enak "maafkan saya, Nona"
Yaya hanya mengangguk, ia menatap sekeliling nya "Apa Arlan belum sarapan?" tanya nya tiba-tiba
Kepala koki tersenyum menggoda "Ah, perhatian sekali Nona ini"
Yaya terkekeh "ahaha, aku hanya bertanya" yaya menggaruk lehernya yang tak gatal.
"tuan sudah berangkat, Nona. Mungkin selama seminggu tuan pergi" Lapor Reno yang tiba-tiba saja muncul entah dari mana.
"Apa!"
Semuanya terkejut mendengar suara melengking yaya. Gadis itu langsung tersadar, ia mengatur ekspresi nya kembali santai "kenapa mendadak sekali?" tanya nya lebih tenang dari sebelumnya.
"Selalu begitu nona, tuan bos tidak bisa di tebak"
Semuanya terdiam, terutama Reno, pria itu menunduk, perlahan pergi dari sana.
"andai tuan bos, tahu" gumam Reno tersenyum tipis berjalan keluar dari rumah megah itu.
...****************...
Yaya termenung sedih di meja makan, sudah seminggu ini ia jadi lesu tak se ceria biasa nya. Seluruh asisten di rumah itu melakukan banyak cara agar nona mereka kembali tersenyum, namun tak berbuah. Yaya tetap saja murung.
"Apa, kita telepon tuan bos, saja?" tanya Nila pada Ani yang berdiri di sebelahnya. Kedua pembantu itu sedari tadi mengawasi Nona muda mereka dari kejauhan, enggan mendekat karena tak ingin mengganggu gadis itu.
Mereka paham jika saat ini yaya sedang bersedih hati, dua hari yang lalu yaya bercerita tentang pertengkaran nya dengan Arlan tanpa di tanya. Hingga kedua pembantu pribadi nya itu ikut merasa sedih.
Yaya beranjak menuju halaman belakang, beberapa kali ia main ke sini untuk sekedar menatapi bunga-bunga indah yang sudah bermekaran, riuh suara gonggongan anjing tak diperdjlikan nya. Ia hanya ingin tenang untuk saat ini, mencoba melepaskan segala pikiran buruk dan berharap jika Arlan akan kembali dengan keadaan baik-baik saja.
"Nona, selamat siang" sapa Reno yang kebetulan lewat menenteng cangkul di tangan kanan nya.
Yaya mengangguk, ia menatap bunga yang baru saja ia petik "Ini sudah lewat dari se minggu, Reno." ucapnya pelan "Kenapa Arlan belum pulang juga?"
Reno mengulum bibir nya "saya juga tidak tahu, nona" Reno jadi bingung sendiri, ia sudah beberapa kali menawarkan yaya untuk menelpon Arlan, tapi gadis itu selalu menolak dengan alasan takut mengganggu.
"Nona, rindu pada Tuan?"
Yaya diam, ia tak tahu harus menjawab bagaimana. Gengsi nya lumayan tinggi, ia enggan mengaku jika benar dirinya rindu pada Arlan.
"Ah, Sepertinya itu suara mobil tuan, Nona" seru Reno tersenyum lebar
Yaya mengangguk, gadis itu berlari menuju halaman depan, ia seperti angin melesat cepat demi menatap kedatangan pria yang sudah sembilan hari ini tidak pulang!
Bruk!
"AW!"
"Nona!" pekik Ani berlari cepat mendekati Yaya yang terjatuh, lutut gadis itu sampai luka memuntahkan darah.