Good Romance With My Bad Mafia

Good Romance With My Bad Mafia
CHAPTER 23



Arlan turun dadi mobil nya, ini masih subuh, namun dirinya memaksakan untuk pulang karena tak tenang jika harus berlama lama membiarkan yaya kesal seperti ini.


"Malam tuan" sapa Ani dan Nila berbarengan, mata keduanya dihiasi garis gelap, mereka seharian menjaga nona nya sampai tak tidur seperti sekarang.


"Dia didalam?" tanya Arlan


Kedua pembantu itu mengangguk "Nona menangis, nona juga menolak makan malam, tuan"


Arlan mengangguk "pergilah" usirnya pada dua pembantu itu.


Ia membuka pintu, wajah datar nya seketika menjadi sendu kala menatap yaya tertidur sembari memeluk erat selimut. Arlan mendekat, ia dapat melihat mata yaya membengkak, ingus yang sedikit meleleh, dan sisa air mata di pipi gadis itu.


Arlan masuk ke dalam selimut itu, ia ikut berbaring di samping yaya, memeluk erat tubuh gadis nya. Yaya yang masih dikuasai alam bawah sadar entah mengapa malah ikut memeluk Arlan, ia mendusel di dada pria itu, sesekali ia mengigau membuat Arlan ikut sedih.


"Yaya tak mau... J-jangan!"


"Arlan... Yaya takut"


Sudut bibir Arlan sontak tertarik saat gadis itu mengigau menyebut namanya. Ah, ternyata gadis nga itu meski tak sadar masih bisa mengingat dirinya. Apa yaya sudah mulai mencintainya?


"Yaya mau itu... No! No!"


Arlan mengelus sayang punggung bergetar yaya, kali ini apa lagi yang diigaukan gadis itu? Kenapa ia tampak sangat ketakutan?


"Shh..." Arlan berdesis lembut sembari mengecupi puncak kepala gadisnya berharap yaya bisa tenang, namun yaya justru kadi terbangun karena itu.


Yaya mengerjap, kepalanya pusing sekali matanya juga berat, ia memaksa tuk mendongak, mendapati Arlan yang kini Tenga tersenyum menatap nya.


Yaya melepaskan pelukan nya dari tubuh kekar itu, ia mendorong Arlan menjauh darinya, Arlan yang diperlakukan begitu tentu saja marah "kenapa kau sangat nakal, baby?"


Yaya mendelik, setelah angel dan sayang, sekarang ia punya julukan baru lagi dari pria itu? Ah menyebalkan!


Yaya menegang, ia menatap mata Arlan lalu menggeleng "Arlan jahat... Huaaa" ia meledakkan tangis nya, menumpahkan segala emosinya di depan pria itu!


Yaya tak suka di paksa, yaya tak suka di kekang, dan yaya tak suka diancam!


Arlan terkekeh, ia menatapi saja gadis nya yang menangis seperti anak kecil, ia pikir yaya hanya berpura agar dirinya luluh kembali.


"Huaaa! Huhu... jahat! Jahat!" yaya memukuli dada Arlan yang sedari tadi diam memperhatikan nya.


"Yaya benci Arlan! Yaya tak akan mau bersama Arlan! Huaaa!"


Alis Arlan menukik tajam. namun yaya mengabaikan itu, ia benar-benar muak "yaya benci pria pemaksa seperti Arlan! Huaaa! Yaya ingin mati saja"


Grep


Seketika yaya sudah masuk dalam dekapan erat pria itu, Arlan menggeleng "kau tak akan bisa meninggalkan ku"


Yaya menangis semakin kencang "Arlan jahat!"


"DIAM LAH"


Seketika gadis itu terdiam, ia bergetar dalam pelukan Arlan, ia sakit hati sekaligus takut saat bersama pria arogan ini, tak lama pandangan yaya memburam, ia pingsan tak sadarkan diri dalam pelukan Arlan


Arlan yang tak merasakan pergerakan lagi dari yaya langsung mengecek keadaan gadis itu, dan benar saja, yaya pingsan.


Arlan langsung menghubungi dokter andalan nya guna memeriksa kondisi yaya saat ini. Sedari tadi pandangan pria itu tak luput dari pergerakan dokter wanita yang sedang menangani gadis nya, sesekali Arlan menatap yaya yang tak sadarkan diri sudah hampir setengah jam lamanya.


Dokter itu mengangguk, ia melepas stetoskop dari lehernya, ia mulai mengemasi perlengkapan nya kembali "Nona, maksud saya kekasih anda mengalami stress tuan, apa akhir-akhir ini Nona sering marah atau merasa kesal?"