
yaya menunduk, ia semakin merasa bersedih "maafkan yaya... Mulut ini memang suka lancang kalau marah, maaf... Hiks" Gadis itu kemudian menangis.
Arlan mati-matian menahan diri untuk tidak memeluk gadis yang sedang menangis itu. Kali ini ia sudah bertekad akan bersikap sewajarnya saja, dan bila perlu... Arlan akan berusaha melupakan perasaan nya pada yaya.
"Huaaa.... Arlan, maaf... Maaf...." yaya naik ke pangkuan pria itu, memeluknya dengan erat, melupakan luka di bahu Arlan yang kini basah kembali terkena decuran air mata nya. "Yaya minta maaf.... yaya jahat udah ngungkit itu... yaya gak bermaksud, maaf....Hiks"
Arlan tak menjawab, ia pun tak membalas pelukan gadis itu. Jujur saja dirinya sangat kecewa saat kata-kata pedas itu mengungkit masa lalu, meski memang dia salah tapi tak sepantasnya yaya berucap seperti kemarin siang.
"Sudahlah, tak apa" Arlan mengangkat tubuh gadisnya turun hingga kini yaya kembali duduk di kasur.
"Arlan?... Jangan begini! Yaya salah, Arlan boleh marah, ayo marahi yaya, jangan begini... Yaya tak mau Arlan cuek begini"
"Sebentar lagi Lan datang, kita sarapan bersama. Aku ada urusan, kamu bisa kembali bersama Ella"
"No,no!" pekik gadis itu dengan mata memerah dan bibir mengerucut seperti anak kecil "Jangan pergi, yaya mau disini sama Arlan... Jangan balikin ke Ella" gadis itu kembali memeluk lengan Arlan dengan erat.
"Tidak apa, aku harus kembali ke indo, ada pekerjaan yang harus ku urus"
"Kalau begitu, yaya ikut! Kita sekalian pulang" Yaya kembali menangis saat Arlan tampak menggeleng "Huuu...." bibir gadis itu bergetar, air matanya deras membasahi pipi, ia menatap Arlan yang enggan menatap balik wajah nya.
Bukan nya tidak perduli, bukan! Arlan tak mau menatap yaya karena takut menatap wajah menggemaskan itu, Arlan takut kembali jatuh dalam pesona gadisnya.
"Yaya, ku rasa kamu bisa dapat yang lebih baik dari ku,"
Yaya mengernyit tak suka, ia masih bingung dengan maksud ucapan pria itu.
"Kamu bebas sekarang.. Aku tak akan lagi jadi pemaksa di hidup mu, kamu bisa pergi... Carilah pria lain yang lebih pantas untuk mu" Arlan mengatur napasnya yang tercekat, ia tak kuasa mengucapkan kalimat barusan. Matanya memanas, tapi ia tahan untuk tidak tampak lemah di depan gadisnya itu.
Biarlah, semua sampai di sini, bila yaya ingin pergi, Arlan tak akan lagi mencegah nya. Setelah semalaman berpikir sendirian di kamar, akhirnya Arlan memutuskan untuk mundur. Ia tak hati bersikukuh ingin memiliki gadis itu, ia tak mau egois, dan ia sadar diri... Wanita mana yang mau bekasan seperti nya?
Yaya menggeleng ribut, gadis itu kembali menangis kencang "tidak! Jangan begini... Cuma karena perkataan ku, kamu ingin berpisah? Semudah itu? Huuaaa.... Jangan... Hiks"
"Kau mau permainkan aku?! Kau memaksaku jatuh dalam dunia mu... Kau membawaku, kau buat aku jatuh hati... Dan sekarang, kau menyuruh aku pergi?! Kau gila" Amuk gadis itu sambil menangis kencang.
Arlan memejamkan mata, dalam hati ia merapalkan kata maaf sebanyak mungkin untuk gadis itu.
Yaya mengusap pipinya yang basah hingga memerah seperti jambu matang, gadis itu menggenggam jemari Arlan dengan erat.
"Bawa aku pulang, ayo nikahi aku, daddy..."
VISUAL TUAN BOS ARLAN YANG TERHORMAT kiww
*****
[Cuap-cuap author!!!]
Hayooo dipanggil daddy lagi sama baby yaya (〜^∇^)〜
Penasaran ga sie epribadeh?.... Gimana ya? Apa mereka udahan? Atau lanjut? Atau....
Hohoho emang susah ya kalau menyangkut masalah hati :')
Yok Vote dulu dong guys... Nuna usahain buat rajin up deh ;) yok buruan di kasih bintang lima supaya cerita ini semakin berkembang <3 jangan diem diem bae. Udah segitu ajahh
papayyy
Nuna sayang kaliaaaannn....