
Yaya menghela napas lega saat Arlan sudah menghilang dari kamar nya. Gadis itu melompat ke kasur entah mengapa ia merasa geli sendiri saat mengingat momen yang baru saja terjadi.
"Itu benar-benar menjijikkan... Yaya, astaga! Kau seperti wanita murahan" dumel nya menggigit bantal dengan ganas.
...****************...
Yaya menatap pintu kamar nya yang di buka dari luar, gadis itu tersenyum menatap Nila dan juga Ani yang datang membawa setelan mewah di tangan mereka masing-masing.
"Nona, lihat ini ada titipan dari tuan bos" ujar Nila memberi tahu.
"Benar nona, tuan bos memberikan ini untuk anda!" sahut Ani menimpali.
Yaya menatap dua gaun satin itu "benarkah?" tanya nya, kemudian dia menatap ke badan nya yang saat ini hanya mengenakan piyama.
Keduanya mengangguk membenarkan.
"Benar nona, kata tuan bos, mulai Sekaran nona bebas memilih pakaian" ucap Nila tersenyum lebar
"Jangan sungkan menyuruh kami, nona. Kami bertugas melayani anda"
Yaya mengangguk "aku mau yang Biru muda" ucap yaya menunjuk gaun yang dimaksud.
Ani mengangguk, ia memberikan gaun itu pada yaya "Silahkan Nona"
"Terimakasih"
Yaya bergegas ke toilet, ia mandi dengan bersih tak lupa mengganti pakaian dengan gaun santai yang ia inginkan.
(Pict)
Yaya tersenyum, tiba-tiba sekelebat memori terngiang kala dulu dirinya yang masih kecil selalu di puji sang ibu karena memiliki paras yang cantik, ia jadi rindu masa kecilnya dulu.
Yaya keluar dari bilik toilet, gadis itu menatap dua pembantu nya yang setia menanti dirinya dengan wajah bahagia mereka, entah itu asli atau bukan yaya tak perduli. Intinya ia memiliki teman di rumah ini, jadi ia tak perlu sedih merasa kesepian lagi.
"Wah! Nona sangat cantik! Seperti tuan putri" puji Nila bertepuk tangan dengan riang.
Yaya tertawa, gadis itu memutar berputar sekali "benarkah?" tanya nya pada kedua pembantu itu.
"Benar nona! Pantas saja tuan bos tergila-gila pada nona, itu semua karena nona sangat perfect! Bahkan tanpa polesan apapun wajah anda sangat jelita" Sahut Ani ikut berpendapat.
Gadis itu kembali tertawa "jangan terlalu berlebihan, kalian membuat ku ingin melayang" gurau nya
Kedua pembantu itu tertawa "jangan nona, nanti kami bisa dimarahi oleh tuan bos, karena telah menerbangkan kekasih nya"
Yaya seketika terdiam. Raut bahagia nya perlahan mulai luntur, ia tak suka disebut sebagai kekasih pria pemaksa itu. Meskipun sejauh ini Arlan tak bersikap kasar padanya, namun tetap saja pria itu bukan tipe idaman yaya sama sekali!
Perubahan itu tak luput dari pandangan Ani dan Nila, keduanya ikut terdiam menatap ekspresi datar sang majikan saat ini. Ani menyenggol Nila yang hanya mampu menggeleng pelan.
"N-nona! Mari, kami akan menemani Nona untuk berkeliling"
Yaya menatap Ani. ia mengangguk, seketika wajahnya kembali cerah berseri "Ayo!" ia bahkan sampai menggandeng tangan kedua pembantu itu membuat Ani dan Nila seketika gelagapan
"Aduh! Non, jangan begini" Ani dengan lembut melepaskan genggaman yaya dari lengan nya.
"Betul nona, jangan... Kami hanya pembantu, tak sepantasnya kita bergandengan, maaf nona" Sahut Nila merasa tidak enak saat yaya hendak protes.
Yaya akhirnya mengangguk. ia tak mau mempermasalah kan itu lagi, ia berjalan di depan, tangan nya perlahan meraih knop dan membuka nya. Berhasil! Akhirnya yaya bisa keluar dari kamar itu.