
Sepeninggal gadis itu Arlan kembali pada mode serius nya. "Lan!"
Dalam hitungan detik sang pemilik nama langsung muncul terbirit-birit keluar dari kamar nya "ada apa tuan"
Arlan berdecak kesal, ingin marah tapi ia takut gadisnya kembali datang, "kenapa bisa ada paket teror masuk ke sini!?" tanya nya penuh penekanan membuat Lan terdiam dengan nafas tercekat serasa di cekik oleh tatapan pria itu.
"Maaf tuan, saya juga tidak tahu"
Brak!
Arlan melempar kotak hitam itu hingga isinya berserakan di lantai. Mata Lan membelalak terkejut, bukankah ini paket milik nona nya? Berarti teror ya g dimaksud Arlan itu tertuju pada Nona nya?! Habislah mereka.
Bau anyir bercampur amis seketika menyeruak menodai ruangan itu, Ada boneka rusak yang sudah tertusuk-tusuk paku, juga bangkai tikus berukuran besar yang badan nya luka bersimbah darah. Ada pula beberapa foto sang Nona, juga surat di sana. Entah apa isi dalam surat itu, Arlan tak perduli, intinya sekarang dia akan berusaha mendapatkan pengganggu ini.
"Cari sampai dapat, bawa pelakunya hidup-hidup ke hadapan ku. Kuberi waktu satu jam, dimulai dari sekarang!"
...****************...
Lan berlari menuju gerbang depan, ia tak perduli soal penampilan, yang terpenting saat ini adalah misi dan waktu "siapa yang mengambil paket tadi pagi?!" Tanya nya dengan lantang membuat para penjaga di pos yang sedang mengecek CCTV berjengkit kaget.
"S-saya" jawab salah satu security berwajah keriput dengan sikap siap.
Melihat pemilik suara, Lan berdecak frustasi. Ingin marah dan memaki? Tidak mungkin, sebab pria itu jauh lebih tua dari nya, Lan tahu etika, dia tak mungkin tega memaki pria yang mungkin seusia dengan paman nya itu.
"Tuliskan ciri-ciri pengirim paket, semuanya secara rinci. Dan kalian," Lan menunjuk kedua penjaga yang sedang berdiri di samping komputer "Cek CCTV, dari tengah malam sampai tadi pagi! Segera!"
"Siap!!!"
Lan mengusak kasar rambutnya sendiri, ia melirik sekitarnya ada dua penjaga yang lewat "kalian! Sini" panggil nya.
"Ada apa?" tanya dua bodyguard itu menatap serius wajah frustasi Lan "kalian berjaga dimana sedari tadi?" Tanya Lan.
"Di belakang, kenapa?"
"Apa ada suara mencurigakan selama kalian berjaga? Atau suara kendaraan misalnya?"
Dua bodyguard itu diam, mencoba berpikir dan mengingat "setauku tak ada" jawab yang satunya.
Yang satu lagi ditatap oleh Lan, pria itu tampak menggaruk jenggot tipisnya dengan alis mengerut "kenapa kau? Apa kau mengingat sesuatu?" tanya rekan si bodyguard.
"Ya, aku juga sebenarnya ragu, cuma... Aku ingat, sekitar jam tiga atau jam dua pagi, ada suara motor. Dia sempat berhenti, lalu berjalan lagi dengan kencang, aku tak tahu jenis kendaraan itu, tapi yang jelas aku mendengar suara motornya"
Lan mengangguk paham "kau, ikut denganku" anaknya pada bodyguard yang memberi sedikit petunjuk itu.
"Cih, kalian berjaga berdua, tapi kenapa cuma kau yang bisa diandalkan?!" gerutu Lan melirik bodyguard di sebelah nya.
"Mungkin dia butuh korek kuping, Lan" jawab si bodyguard seadanya.
Lan berdecih, ingin tertawa sudah tidak berselera. Saat ini dia dikejar waktu, jika gagal bisa hilang nyawa nya di tangan si bos.
"Mana hasil nya?!" tanya Lan dengan lantang dan tak sabaran. Dua petugas yang mengecek rekaman CCTV lantas menyerahkan flashdisk berisi rekaman yang diminta Lan "disini rekaman nya, ada dua orang aneh dan seorang kurir yabg terekam jelas disitu"
"Bagus. Lain kali," Lan berdiri tegak, ia menatap semua petugas sekeliling nya "kalau ada sesuatu yang mencurigakan kalian pantau! Jangan diam saja! Paket tadi pagi adalah teror, jika saja itu sampai di tangan Nona, kurasa nyawa kalian sudah tiada saat ini. Kau, ikut aku!"
"Apa suara motor yang kau dengar seperti ini?" Lan bertanya sembari memutar sebuah rekaman berisi suara deru mesin salah satu merk motor ternama.
"Bukan Lan, yang saya dengar suaranya seperti knalpot biasa, seperti... Halus. hm bagaimana saya jelaskan nya"
Lan mengernyit, ia kemudian mengetik kan sesuatu di handphone nya, dan memutar video salah satu iklan penjualan motor matic "begini?"
Si bodyguard mengangguk "ya begitu. Itu suara nya"
Lan mengangguk "bagus, kau boleh pergi"
Si bodyguard mengangguk patuh, sedangkan Lan sibuk kembali menghubungi seseorang lewat handphone miliknya. "Ya, secepatnya"
...****************...
Yaya melirik Arlan yang baru saja bergabung dengan nya di meja makan, pria itu duduk tepat di sebelah nya "Sarapan ku, tidak diambilkan Baby?" tanya pria itu menatap piring nya yang masih telungkup di meja makan.
"punya tangan 'kan? Ambil sendiri! Jangan seenaknya menyuruh anak kecil!"
Arlan cengo mendengar ucapan gadis itu, ingin tertawa lepas tapi takut memperkeruh suasana hati yaya. "Baby, astaga tadi hanya bercanda" ujarnya membujuk gadis itu.
Yaya melengos tak perduli, ia lanjut makan tanpa memperdulikan segala ucapan tunangan nya itu.
"Baiklah, aku diam. Aku tunggu kamu menyiapkan makanan ku" Ucap Arlan bersungguh-sungguh.
Hingga beberapa menit kemudian yaya selesai dengan aktivitas sarapan nya. Gadis itu meraih tissue dan melap bibir nya agar terasa lebih bersih dan nyaman, lalu setelahnya ia mengambil gelas berisi air mineral yang ia minum hingga tandas tak bersisa.
Segala pergerakan gadis itu tak luput dari pengawasan mata Arlan. Pria itu dengan sabar menunggu yaya selesai makan, ia rela menahan lapar hanya untuk mendapatkan perhatian gadis itu.
"Ck. Kenapa masih diam sih?! Ambil makanan mu, jangan selalu bergantung pada ku" omel gadis itu, namun tak ayal tangan nya bergerak mengambil piring Arlan dan mengisinya dengan hidangan sarapan ala western food kali ini, entah apa namanya, yaya tak tahu, yang jelas rasanya enak.
Arlan tersenyum, "thank you, Baby"
Cup!
Yaya mendelik saat satu kecupan dari pria itu mendarat di pipi nya "jangan cium anak kecil sembarangan, om!" celetuk gadis itu membuat tawa Arlan meledak seketika.
OM?
entah mengapa setiap kata itu keluar dari mulut gadisnya Arlan selalu merasa tergelitik. Astaga gadis ini memang mood terbaik bagi Arlan.
Arlan menarik gadis itu mendekat, tanpa di duga pria itu langsung menempelkan bibir keduanya, cukup lama mereka beradu bibir, saling menyesap dan bertukar Saliva. Awalnya yaya menolak, namun tak bisa di pungkiri, ia juga senang saat Arlan bersikap romantis seperti saat-saat ini, meskipun lebih ke berbau mesuum tetap saja yaya tak bisa menampik jika ia juga menikmati nya.
"Mh.." lenguh gadis itu terdengar sangat manja di telinga Arlan.
Merasakan tepukan di dada dari sang gadis, Arlan pun menyudahi aksi nya. "Mcpk..." suara kecipak tanda perpisahan itu terdengar nyaring, selalu begitu setiap kali mereka melakukan nya.
"jangan galak-galak, kamu semakin cantik. Aku tidak tahan sayang"
Yaya mendelik sinis "dasar mesuum!"