
HUJAN deras mengguyur kota, dingin nya malam berkali lipat menusuk raga siapapun yang berada diluar ruangan.
ARGH!
Tampak sosok pria bertubuh jangkung sedang berlari dengan darah yang merembes dari luka yang ada di kaki kiri, juga lengan kiri nya. Sekuat tenaga ia berupaya kabur, entah kesialan apa kali ini yang datang menimpa diri nya. Ini pertama kalinya pria itu lengah, hingga musuh bebuyutan pria itu dapat menyerang nya dengan leluasa.
Derasnya hujan yang turun bercampur dengan darah Arlan yang menetes menjejak di aspal. Arlan tak begitu perduli dengan rasa sakit nya, saat ini pria itu hanya ingin terbebas dari permainan licik para musuhnya itu.
Tak henti-hentinya pria itu menyumpah serapahi tangan kanan nya yang selama ini ia percaya, bahkan telah ia anggap seperti saudaranya telah terbukti berkhianat darinya.
Dia, Roverald Arlan Braham. Pria tampan dengan segudang misteri. ia kaya raya, bisnis nya merayap di mana-mana, bahkan hingga ke negeri terkecilpun usahanya bisa berkembang. Bagi sebagian orang, ia dipandang sebagai pengusaha sukses termuda di negeri itu, namun banyak hal lain yang tidak orang ketahui tentang nya.
Kejam?, Sadis?, Bringas? Tentu Arlan memiliki sifat keji tersebut. Ia manusia biasa layaknya orang diluaran sana, Namum beda nya... Khasta Arlan berada diatas awan, tak ada yang bisa menandingi nya.
Terlahir sebagai anak satu-satunya, tidak memiliki sepupu, tidak memiliki kerabat lain. Arlan terbiasa hidup sendirian, kedua orangtua nya ada, masih hidup, hanya saja mereka tak seperti orangtua pada umumnya yang akan selalu ada dan menyayangi sang anak. Keluarga kecil Arlan itu unik, tak ada yang namanya kata manis, semuanya kaku, egois, emosional, dan tidak ramah.
Arlan terbiasa hidup sendirian di rumah, tak ada teman, Arlan sedari kecil sudah terbiasa hidup dalam kesepian. Banyak pekerja di rumah besar nan mewah nya, namun tak ada satupun diantara mereka yang berani mendekati tuan muda di rumah itu.
Biasanya Arlan akan pergi saat ada yang berusaha mengajaknya bercengkrama, jangankan untuk saling bertukar sapa, melirik saja Arlan tak mau. Entah apa yang merasuki jiwa anak taman itu.
Kedua orangtua Arlan akan pulang setahun sekali, mereka memiliki rumah dimana-mana, wajar saja jika pulang nya tak sewajar itu.
Kembali pada Arlan, Pria itu mengernyit menatap bayang-bayang di ujung jalan, memang hujan sudah berhenti sejak dua menit yang lalu, pria itu mengernyit menatap objek di ujung sana, dari posturnya badan itu adalah badan seorang wanita, Arlan langsung dapat menebaknya saat melihat bentuk bayangan itu, pinggul ramping, dan jalan yang sedikit feminim.
"siapa lagi itu, sial" desis Arlan memegangi lengan kiri nya yang tak henti memuntahkan darah segar.
Mata pria itu menajam, kuping nya samar-samar masih bisa mendengar kericuhan para pembunuh bayaran yang sedang mencarinya jauh di belakang sana.
Sungguh, Arlan nyaris menyerah. Dikhianati, diserang habis-habisan, dan kini ia diburu oleh pembunuh bayaran. Siapa yang tidak akan menyerah bila menghadapi situasi mematikan seperti itu?
"terkutuklah kalian.." gumamnya menyumpah serapah semua musuhnya saat ini.
Arlan menggeram marah saat bayangan gadis itu tampak mendekat, ternyata gadis itu cukup berani mendekat, ia bahkan berlari guna mengikis jarak keduanya.
"Astaga, Hei apa kau baik-baik saja tuan?"
Baru saja Arlan ingin menggertak gadis itu, namun suara indah nya telah lebih dulu menyapa indra pendengaran Arlan. pria itu menghela napas pelan, ternyata itu bukan musuhnya.
"Tuan, maaf aku akan membantu anda, mari" Ucap gadis itu sebelum memegangi lengan kanan Arlan.
Arlan diam, ia tak menolak seperti biasanya. Pria itu menatap langkah mereka dalam hening, Baru kali ini ada sosok manusia yang ia anggap berguna, ditambah lagi gadis itu sangat jelita juga sopan.
"Bawa aku ke rumah mu"
yaya tertegun sejenak mendengar permintaan mutlak itu, bolehkah ia membawa seorang pria ke kost-an tempat ia tinggal? Bukan nya tak mau, atau tak sudi, masalahnya kost itu khusus putri, bisa bahaya jika ada yang melaporkan ke ibu kost, ia bisa diusir!
"maaf, aku hanya tinggal di kamar kost, dan... itu khusus area wanita"
Arlan terdiam sejenak "ayo ke kost mu, biar aku yang urus nanti"
meski ragu, akhirnya yaya mengangguk, ia menatap luka di kaki pria itu "Tuhan, tolong kuatkan dia" Gumam gadis itu terdengar amat lirih, tanpa dia sadari air matanya sudah menetes.
Arlan sadari itu, namun ia memilih abai, selama perjalanan menuju kost nya, hanya yaya yang bersuara, meskipun pelan, Arlan masih dapat mendengar doa yang keluar dari bibir gadis itu. Agak aneh sebenarnya, ini pertama kalinya Arlan merasakan yang namanya keperdulian murni dari orang asing, biasanya orang akan memilih acuh, atau mungkin datang hanya untuk menjadi penjilat meminta sedikit imbalan atas apa yang mereka buat pada Arlan.
Tapi gadis ini lain. Dia bahkan menangisi kondisi Arlan, pria yang bahkan tidak dikenali nya!
"Ayo, kau pasti bisa, sedikit lagi kita sampai"
Arlan hanya diam, tak menggubris gadis itu yang sedari tadi menyemangati nya. Dapat ia rasakan tangan gadis yang memapah nya itu mencengkram semakin kuat, dengan sedikit bergetar, membantu Arlan agar bisa melangkah lebih bebas.
kriet....
yaya dengan secepat kilat mendorong pagar agar terbuka, setelahnya ia kembali membopong tubuh kekar itu masuk lebih dalam lagi.
Di depan sana, ada dua wanita sedang duduk di undakan tangga sembari bermain handphone masing-masing. Merasa ada yang datang. mereka sontak menatap ke arah Yaya yang sedang membopong pria masuk kedalam.
"eh? kak kenapa bawak co—astaga! dia terluka"
yaya mengangguk "ambilkan kursi, tolong cepat!" pinta yaya menyuruh gadis berambut pendek itu.
"biar ku panggil kan Roma" ujar gadis berkacamata sambil berlari melesat melewati tiap anak tangga.
"Tekan luka nya, jangan sampai darahmu habis" ucap yaya menatap penuh iba pada Pria yang ia bawa itu.
Arlan tak menanggapi, ia hanya diam menatap sekeliling nya. ini ruangan kecil yang menjadi tempat utama kost-kost an kecil itu. Meski terbilang sempit dan sedikit kumuh, namun kebersihan nya patut diacungi jempol. Memang kawasan Wanita selalu dirawat dengan baik.
"ini kursi" ucap gadis berambut pendek itu dengan napas tersenggal-senggal.
Riuh suara kotak P3K memenuhi tempat ini, gadis berpakaian serba putih itu membuka peralatan medis nya dengan tak santai, tangan nya juga gemetaran saat menyadari ada luka tembakan di kaki pria itu.
"tolong jangan berisik, ini kain untuk menutup mulutnya" ucap gadis itu memberikan kain bersih pada yaya "sumpal mulutnya dengan itu, aku tak punya obat bius, pasti sakit nanti" terang nya dengan sigap
yaya mengangguk, gadis itu kembali mendekat, ia menunduk guna mensejajarkan wajah nya dengan wajah Arlan "buka mulut mu, ayo" pinta nya
Arlan menatap bola mata gadis itu, ia terdiam sejenak "tak mau"
"kau pasti kesakitan nanti, bro! makan saja kain itu, bias suara bass mu teredam" ucap Roma merasa sedikit kesal, tangan gadis itu terulur membasuh luka di kaki Arlan, hebat nya pria itu tak meringis seperti manusia lain yang biasa ia obati.
"ayo, hik!.. ini bersih, lagi pun kalau suaramu terdengar, bisa bahaya. kami bisa diusir" desak gadis berkacamata sambil terceguk-ceguk. ia selalu cegukan disaat panik, matanya menatap pergerakan Roma yang sedang mengikatkan kain pada kaki Arlan.
Arlan mendengus, sial! bisa-bisanya wanita wanita ini menyuruh dirinya! hei dia itu seorang Arlan! apa mereka tak tahu akan hal itu? menyebalkan.
"cepatlah, darahmu sudah banyak terbuang" desak Roma memakai sarung tangan putih nya dengan gesit, gadis utu kemudian mengambil benda panjang, runcing seperti capitan mungil.
yaya mengangguk meyakinkan Arlan yang sedang menatap nya "ayo, aaa"
Seakan terhipnotis, Arlan dengan suka rela membuka mulutnya lebar. yaya dengan cekatan menyumpal mulut pria itu dengan kain di tangan nya. bertepatan dengan itu Roma langsung bekerja, berupaya mengambil peluru yang tertinggal di dalam daging betis Arlan.
AARRRGGH!!!!
Semua gadis itu meringis menatap Arlan yang kesakitan, meski telah disumpal, suara bariton itu masih bisa terdengar jelas saat memekik. yaya memeluk leher pria itu, Arlan langsung menenggelamkan wajahnya di dada yaya "tahan, kau kuat, tahan... ya Tuhan, tolong..." gumam yaya sambil mengelus punggung lebar Arlan.
"sudah!" Roma meletakkan peluru berukuran sedang itu dalam gulungan tissue, ia meraih obat merah, alkohol dan kasa untuk mengobati luka di kaki pria itu "sedikit lagi"
Dua menit berlalu, Kaki juga tangan Arlan telah selesai diobati oleh Roma "huh... syukurlah ada kau Roma! memang dokter andalan kami!" pekik gadis berkacamata itu riang sambil memeluk tubuh Roma
"a, biasa saja" Roma mengibas-ngibaskan tangan nya merasa sedikit malu dipuji berlebihan seperti itu.
yaya menatap Arlan, pria itu juga menatapnya datar "Dimana rumah mu, tuan?" tanya gadis itu.
"Tak perlu, aku bisa pulang sendiri". Arlan beralih menatap Roma dan kedua gadis disamping nya "terimakasih" ucapnya seadanya
"tak masalah, smoga lekas sembuh" ucap ketiganya serempak.
Arlan hanya mengangguk, ia kembali melirik yaya yang sedang tersenyum menatap Roma sembari mengacung kan dua jempol nya.
"Namamu"
yaya menoleh, ia menunjuk dirinya sendiri "bicara denganku?" tanya nya memastikan.
mendapat anggukan dari pria itu, yaya langsung menjulurkan tangan nya "Ayashya, panggil aja yaya, itu nama panggilan ku"
Arlan mengangguk, ia menjabat tangan lentik yaya "Arlan"
yaya mengangguk, ia tersenyum "salam kenal Arlan, dan luka mu... semoga lekas sembuh"
Arlan mengangguk, tanpa ia sadari jantung nya berdegup dua kali lipat lebih kencang, entah mengapa ia bisa luluh dengan gadis di hadapan nya ini, sangat mempesona.
"permisi, tuan Roverald, mobil telah siap"
keempat gadis itu memekik kaget saat seorang pria berjas hitam lengkap dengan kacamata senada muncul di belakang Arlan.
"tunggu disana" perintah Arlan yang langsung dipatuhi anak buah nya itu.
"siapa nama kalian" tanya Arlan menatap Roma beserta dua gadis lain nya.
"Holla, namaku Gabriella Perez. kau bisa panggil aku Ela" ucap gadis berambut pendek dengan mata hijau itu.
Arlan mengangguk, ia menatap gadis berkacamata yang justru menyenggol lengan Roma "kau saja duluan" bisik nya pada Roma.
"aku Roma Silalahi, Mahasiswa farmasi. lagi magang di salah satu apotik dekat sini"
Arlan mengangguk sekali, kini ia paham mengapa gadis itu sangat piawai mengobati luka nya, dan baju serba putih yang gadis itu kenakan saat ini.
"hik.. Ak-aku Meisya Syahida, panggilan ku mei-mei" ucap gadis berkacamata memperkenalkan diri dengan gugup.
"sekali lagi, terimakasih banyak" Ujar Arlan sembari berdiri, yaya sontak menahan tubuh kekar itu yang sempat limbung sejenak, setelah mendapat pijakan yang pas, Arlan melepaskan rangkulan yaya dari perut nya "terimakasih yaya"
yaya mengangguk "sampai jumpa.. hm, pak Arlan"
Arlan berdecak samar, bisa-bisanya gadis itu menyebutnya bapak-bapak! "Arlan saja, umur kita tak jauh"
"umh? ah, i-iya, Arlan. hati-hati dijalan"
"akan ku pasti kan kita akan bertemu lain hari"
Yaya menatap kepergian Arlan dalam diam, ia sedikit risih mendengar penuturan pria itu, selalu saja terdengar memaksa.
"semoga Tuhan menjaga nya"