
Yaya menggeleng, mata nya mulai berair, ia menarik pirikng dari tangan Arlan, ia cukup deg degan sebenarnya sebab saat ia merampas piring itu, seketika tatapan Arlan menajam seperti silet.
Jantung Arlan berdegup kencang saat yaya duduk dempet sekali dengan nya, gadis itu bahkan mengelus elus lengan kekar nya membuat Arlan menegang menatap wanita menggemaskan itu.
"Yaya mau pulang, Arlaann..." yaya menggoyang-goyangkan lengan pria itu, sedangkan sang empunya masih diam enggan menjawab.
"Aaa!" yaya menendang angin dengan kesal ia merengek persis seperti anak kecil.
Arlan yang kelewat gemas pun langsung menaruh yaya duduk di pangkuan nya, ia mengelus sayang pipi gadis itu. Yaya yang rewel seketika diam saat dirinya sudah berpindah duduk di pangkuan pria itu. Bahaya!
"Kau ingin kembali ke kost mu itu?" tanya Arlan menatap lamat wajah yaya seolah sedang menelisik sesuatu.
Yaya jadi gugup sendiri saat mata Arlan menatapnya dalam, jangan sampai pria itu curiga dan tak mempercayai nya. Paling tidak yaya harus berhasil mengelabui Arlan agar ia bisa terbebas dari rumah besar milik pria itu.
"Iya! Yaya mau pulang" Jawab yaya menampilkan mata berbinar.
Rahang Arlan bergemelatuk "rumah mu disini! berhenti berkata pulang saat kau berada di rumah ini"
Yaya terpenjat. ia menatap Arlan dalam diam, matanya sudah berkaca-kaca. "Jangan bentak yaya" cicit nya pelan, ia menunduk lalu setelahnya ia menangis kembali.
Arlan seketika tersadar, ia langsung menarik dagu gadis itu agar pandangan mereka bertemu, yaya sesenggukan menatap kedua mata Arlan yang mulai sayu. Bagus! Arlan mulai larut dalam rencana nya.
"Jangan menangis lagi, my angel. Aku tak suka"
Yaya menggeleng, ia memukul dada pria itu "l-lepasin yaya! Arlan jahat, Arlan bentak yaya, hiks, lepas!" yaya bergerak rusuh di pangkuan Arlan.
"yaya.. Sudahlah, aku tak sengaja membentak mu tadi" Arlan mengeratkan pelukan nya pada yaya, agar gadis itu tak terjatuh.
Yaya diam, ia menatap Arlan, tangan mungil nya mengucek-ucek matanya yang basah "jangan di gitukan, nanti matamu sakit, angel" Arlan berucap sembari menggantikan tangan yaya dengan tangan nya, ia dengan lembut mengusap air mata gadis itu.
"Sana! Arlan jahat! Yaya benci Arlan!" pekik yaya memukul-mukul dada bidang Arlan yang terbalut kemeja putih.
Rahang Arlan mengetat, ia tak suka yaya berkata begitu. Tidak tahukah yaya kalau dirinya sakit hati?
"Ucapan mu, sayang...mau aku hukum?"
Yaya sontaj menggeleng ribut "No! Jangan dihukum!" Yaya merinding sendiri mendengar kalimat itu, ia tak tahu isi kepala pria itu.
Arlan menggeleng, "lalu kau akan kabur dari ku. Benar kan?"
Yaya sejenak mematung, lalu ia menatap lamat wajah datar Arlan "tidak, kenapa yaya harus kabur?" cicitnya memilih kerah kemeja Arlan.
Arlan mencubit pelan bibir mengerucut yaya "apa si gadis kecil ini maj belajar berbohong pada ku? Hm?" Tanya nya dengan alis naik turun
Yaya menggeleng, agaknya kali ini ia gagal, sebab Arlan sama sekali tak terperangkap dalam rencana nya. Sial
"Lepasin, yaya"
"No"
Yaya meraup rahang tegas pria itu "yaya mau bobo" ucapnya pelan, ia memasang wajah sendu dengan senyuman paksa.
Arlan mengangguk "tapi, habiskan dulu makanan mu"
"yaya sudah tak lapar, Arlan.." cicit yaya menunduk.
"Yaya!"
Yaya terkejut mendengar suara keras Arlan, jujur kali ini ia ingin nangis sungguhan. Yaya itu tipe gadis yang tak suka di bentak.
"Arlan bentak yaya hiks, lagi... Arlan gak say hiks yang, sama yaya" ucapnya seperti anak kecil. Yaya menatap wajah Arlan dengan padangan kecewa, kali ini ia kecewa sungguhan.
Arlan tertegun, ia jadi kelabakan sendiri sat yaya mulai menangis dalam diam. "Yaya..."
Yaya mendongak ia menatap lekat mata Arlan, sekejap ia hanyut dengan mata indah itu, namun saat mengingat pemilik mata itu adalah Arlan, ia jadi urung mengagumi iris legam itu.
"Sudah, berhenti menangis. Kau mengantuk, sayang? Ingin tidur?"
Yaya diam, ia enggan menjawab. Membuat Arlan kelabakan, ia tak mau didiami oleh gadis ini lagi!
Yaya menunjuk kasur "bobo, yaya mau sendirian" pintanya dengan mata melemah, ia sudah sangat lelah.
"No, aku akan tidur disamping mu"
Yaya menggeleng "yaya benar-benar kecewa sama Arlan..." cicitnya masih bisa terdengar oleh pria itu.
.
"Maaf sayang"