Good Romance With My Bad Mafia

Good Romance With My Bad Mafia
CHAPTER 13



Yaya perlahan mengerjabkan mata nya, ia melirik langit-langit kamar yang ia tempati saat ini.


"Huh... Dimana aku?" gumam nya mencoba untuk duduk menyender di kepala ranjang besar yang ia tempati saat ini.


"Arlan..." Lirih nya menatap kedua lengan nya yang bebas, tidak ada borgol seperti dugaan nya. Ditambah lagi baju nya sudah tergantikan dengan piyama satin berwarna biru tua.


Memang saat Arlan hendak memasang kan borgol itu ke tangan nya, yaya langsung pingsan akibat ketakutan. Rasa trauma dalam dirinya begitu dalam, begitu menyiksa diri, entah apa yang terjadi saat ia pingsan. Namun kini satu hal yang ia tahu, ia di dalam sebuah kamar mewah, tanpa Arlan di sisi nya.


Yaya melepas selimut tebal nan halus yang sedari tadi ia pakai, gadis itu berjalan menuju pintu, hendak lari pergi dari tempat ini. Entah dimana Arlan sekarang, namun yang pasti yaya sangat ketakutan dan kebingungan



"Apa Arlan, menjual ku?" yaya menggeleng tak habis pikir, tega sekali pria itu!


ceklek...ceklek,ceklek!!


"Terkunci?!" yaya kesetanan mencoba membuka pintu tersebut.


Brak!


"BUKA! SIAPAPUN DISANA TOLONG BUKA PINTU NYA!"


Yaya menangis, tak ada harapan, sedari tadi ia telah berteriak keras meminta pertolongan, namun tak ada sahutan apapun dari luar. Yaya menangis sesenggukan, hati nya sakit karena Arlan dengan tega meninggalkan dia di tempat asing, tenggorokan nya lun terasa perih karena terus berteriak. Badan nya lemas karena sedari pagi ia tak mengonsumsi apapun.


"Tolong..." Yaya memeluk lutut nya, perut, hati, dan tenggorokan nya sangat sakit. Ia tak sanggup menghadapi ini semua.


Dalam hati ia bertanya, apakah umurnya hanya sampai disini? Apakah kesucian nya akan hilang? Yaya menggeleng lemah, ia tak kuasa menahan air mata yang terus menerus menerobos keluar membasahi pipi.


Tak berselang lama pintu pun dibuka, tampak Arlan dengan setelan kantor nya masuk ke dalam membawa nampan berisikan makanan juga minuman untuk yaya.


Arlan kaget mendapati yaya duduk menekuk lutut di lantai dengan badan gemetaran, sedangkan yaya sendiri tak mau menatap siapa yang masuk, sebab tiba-tiba ia takut kalau orang yang masuk bukanlah seperti yayang ia harapkan.


Arlan dengan cepat menaruh nampan itu di atas nakas "yaya.." iya beralih mendekati yaya.


Yaya yang mendengar suara khas itu langsung mendongak, ia pun berhambur memeluk erat tubuh kekar Arlan sambil menangis pilu "k-kau jahat! Hiks, kenapa kau meninggalkan ku sendirian! Hiks..."


Arlan hanya diam, ia memejamkan mata menikmati tangisan yaya. Hatinya berdenyut nyeri melihat yaya serspuh dan se takut ini, ada apa sebenarnya ini? Kenapa yaya seperti memiliki trauma mendalam?


"Arlaan.... hik" yaya memukul-mukul punggung lebar itu, ia menumpahkan segala tangis nya di dada Arlan.


"Tenanglah, aku disini" Arlan terus menenangkan yaya dengan bisikan serupa sembari mengecup sayang pucuk kepala gadis itu.


"Kau jahat! hiks, jahat!"


Arlan mengangguk, ia akui ia sedikit kejam dan pemaksa dengan gadis ini, namun itu semua ia lakukan agar yaya tak menjauh darinya. Sungguh Arlan sudah terobsesi dengan gadis ini.


"sudah lelah, menangis nya? Hm?"


Yaya tak menjawab, gadis itu membiarkan Arlan menghapus jejak air mata nya "kenapa diam? Marah padaku, angel?"


"Aku bukan angel! namaku yaya... hik"


Arlan tersenyum gemas menatap wajah merah yaya, ia menangis memang sekuat itu hingga seluruh wajah nya memerah.


"Ayo, makan" Arlan dengan cepat menggendong yaya ala koala di depan, yaya yang mendapati perlakuan itu langsung shock, ia berupaya berontak namun tak berguna, Arlan jauh lebih kuat dan badan nya pun sangat lemas saat ini. Jadi yaya memilih diam, mengalah untuk kali ini.


Arlan tersenyum cerah saat yaya menyenderkan kepalanya di dada bidang pria itu, ah ini momen yang sangat ia sukai, ketika yaya nurut dan bersikap manis seperti sekarang.


"Arlan.." yaya berucap saat pria itu sudah meletakkan nya diatas ranjang king size nuansa pink itu.


Arlan meraih nampan, ia mengaduk susu hangat di sana, lalu memberikan nya pada yaya "minumlah"


"Tidak, aku mau makan itu saja" ucap yaya menggeleng saat Arlan menyodorkan gelas berisi susu itu


"Baiklah" Arlan mengambil piring itu membuat yaya bingung sendiri.


"Buka mulutnya sayang" pinta Arlan dengan lembut, membuat yaya tanpa sadar menuruti nya.


Yaya mengunyah dalam diam, ia menatap Arlan yang sedang mengisi sendok dengan makanan itu


"Arlan.."


"hm?"


"Aku mau pulang" cicit yaya berharap Arlan luluh. Kali ini ia harus bersandiwara menjadi gadis penurut yang manis, agar Arlan puas dan mau menuruti perkataan nya.


"Pulang? Ini rumah mu sayang"


Yaya mencebik menarik perhatian Arlan, terbukti pria itu mulai masuk dalam tipuan yaya. "Kenapa begitu?" Arlan mati-matian menahan gemas menatap bibir yaya yang mengerucut ke depan.


"Arlan... yaya mau pulang, yaya bobo nya di kost yaya aja ya?" bujuk yaya sedikit merengek, membuat Arlan tertegun menatap perubahan drastis gadis itu.


"Arlan?" yaya maju mendekat, ia menepuk pelan pipi Arlan hingga pria itu tersadar dari lamunan nya.


"Tidak sayang, mulai sekarang ini rumah mu. PPulang mu hanya ke sini" ujar Arlan dengan tegas mengabaikan tatapan memohon yang terpancar dari mata gadis itu.


Oh Tuhan, kenapa yaya berubah menjadi menggemaskan begitu!?