Good Romance With My Bad Mafia

Good Romance With My Bad Mafia
CHAPTER 71



Arlan terbangun dari tidurnya, ia meraba bagian sebelahnya yang kosong, kening pria itu mengerut kasar. "Baby...?"


Tak ada sahutan, Arlan membuka lebar matanya yang masih terasa berat, pria itu lantas terduduk di ranjang tersebut, kepalanya bergerak menoleh kesana kemari mencari sang pujaan hati yang hilang entah kemana.


"Yaya?!" Arlan beranjak turun, pria itu berlari menuju toilet mencari gadisnya.


"yaya?! Sayang?! Dimana kamu, YAYA!!" Arlan berlari keluar dari kamar, ia mengabaikan penampilan nya yang hanya memakai boxer selutut saat ini, pria itu membuka dengan kasar pintu kamar ayashya di sebelahnya, namun nihil. Gadis itu tak berada di sana juga "Yaya!!?" Arlan memekik kuat sembari berlari menuruni tangga.


Tercium aroma masakan, Arlan semakin melebarkan langkah nya menuju dapur "dimana gadisku?" tanya nya pada pelayan yang tak sengaja berpapasan dengan nya.


"Nona, ada di dapur tuan"


Arlan bergegas menuju dapur, jantungnya berdebar kencang saat mendengar suara letupan minyak, semua pelayan juga koki langsung memberi hormat pada tuan bos mereka yang sangat jarang masuk ke dapur.


"AAAAA!!!"


"Yaya!"


Arlan berlari memeluk gadis itu, ia mengecek keadaan nya "ada apa?!" tanya pria itu. Matanya menajam saat melihat tangan yaya yang sudah memerah.


Yaya mendongak menatap pria jangkung itu,


"Kena cipratan minyak, hubby..." adu nya menyodorkan tangan nya ke hadapan Arlan.


Arlan berdecak marah, pria itu langsung menggendong yaya, membawa gadis itu keluar dari dapur. Arlan mendudukkan gadisnya di meja makan "tunggu di sini!" tekan pria itu, setelahnya ia berlari entah kemana.


Yaya meringis menahan perih pada lengan nya yang terkena cipratan minyak panas, ia meniup-niup bagian itu agar rasa nya membaik, tak lama Arlan datang dengan kotak obat di tangan nya. Yaya tersenyum tipis, pria itu sangat manis di pagi buta seperti ini.


"Kenapa ke dapur?!" tanya Arlan ketus, pria itu dengan telaten mengolesi salep pada tangan gadisnya.


"aku Memasak" jelas gadis itu sedikit dongkol. kenapa harus bertanya? Semua orang tau apa gunanya dapur.


Arlan mengemasi peralatan ke dalam kotak, ia menatap wajah gadis nya itu dalam, ekspresi nya datar namun menusuk pandangan mata "Siapa menyuruh mu memasak?"


Yaya menggeleng "tidak ada, itu keinginanku sendiri" jawabnya dengan kepala tertunduk.


"Tatap aku saat kita sedang bicara!"


gadis itu mengangkat pandangan nya, dapat dilihatnya wajah Arlan saat ini menjelma jadi menyeramkan "kenapa kamu mau memasak? Sudah banyak koki di rumah ini, jangan merepotkan dirimu" ucap pria itu.


gadis itu mengangguk "maaf... Aku, hanya ingin membuat kan kamu sarapan spesial"


Arlan diam beberapa saat, ia menatap gadisnya itu. Ia tahu betul kalau saat ini yaya pasti sedang takut padanya, dengan lembut pria itu mengapit dagu gadisnya, menarik nya hingga pandangan keduanya kembali bertemu "terimakasih sudah berniat baik, tapi... Jangan lagi masuk ke dapur, aku tidak mau kamu terluka, baby" kemudian pria itu memeluk gadisnya


yaya mengangguk, ia mengusap rambut berantakan pria itu, yaya baru tersadar jika penampilan Arlan saat ini tak karuan "Hubby, kamu tidak bekerja?" tanya gadis itu tiba-tiba.


"Aku masih ingin bersantai dengan mu"


"Tapi, bagaimana pekerjaan mu?"


Arlan mendengus kesal saat gadisnya melepas pelukan keduanya "itu mudah, aku bisa mengerjakan nya di rumah, lagi pula ada sekretaris ku di kantor, dia tak pernah absen bekerja"


Yaya mengelus kening Arlan yang sedikit mengerut "kamu itu bos nya 'kan? Harus jadi panutan, sana mandi, kamu harus pergi kerja"


"Tak mau"


"Arlan..."


"What?" pria itu menukik kan alisnya garang "aku ingin di rumah, dengan gadisku yang introvert ini" jari besar itu menoel pipi kiri gadisnya.


Yaya mendengus kesal "baiklah... Kalau kamu tak mau, biar aku saja yang bekerja" ujar gadis itu sedikit mengancam


"ppfftt..." Arlan tertawa renyah "Kau bisa meng handle perusahaan ku?" tanya nya sedikit menantang.


Kening Arlan mengernyit mendapati gadisnya menggeleng "aku akan bekerja di tempat lama, bukan di perusahaan milik mu" jawabnya membuat Arlan kesal bukan main.


"Aku pemilik Pabrik tas juga restoran itu, baby"


Yaya mendelik tajam "sombong sekali, ya sudah aku akan pergi mencari perkejaan" yaya bangkit dari kursi, hendak pergi namun tak bisa sebab Arlan sudah lebih dulu menggendong nya seperti karung beras "Baiklah, aku akan pergi kerja. Kamu ikut denganku!"


"Hei! Turunkan aku!"


...****************...


Arlan mengecup pelipis gadis di samping nya yang sedari tadi hanya diam berjalan, kini keduanya benar-benar sudah tiba di salah satu perusahaan terbesar milik Arlan, ia sengaja membawa gadisnya ke tempat ini agar bisa lebih bersemangat saat bekerja, dia juga akan memperkenalkan yaya pada seluruh pekerja di tempat itu.


"Selamat pagi, bos" sapa seorang pria bertubuh kekar memakai jas warna abu cerah, ia tersenyum menatap Arlan yang baru saja tiba, juga seorang gadis fi sebelah pria itu.


Fino terkejut bukan main, pria itu lantas membungkuk hormat "selamat pagi juga, Nyonya" ujarnya memberi salam, hingga kini semua mata tertuju pada mereka.


"Wah, bos ini menakjubkan! Tidak pernah terlihat dekat dengan gadis, tiba-tiba sudah punya calon istri saja" ucap Fino bergurau, Arlan terkekeh saja menanggapi itu.


Ia kembali merangkul pinggang gadisnya mesra "ayo sayang" ajak nya.


Yaya mengangguk, ia menatap Fino dengan senyuman, pria itu ikut tersenyum dan menunduk sekali "sampai bertemu lagi, Bos, nyonya"


Arlan mengelusi pinggang ramping gadisnya "lain kali... Pakai jas saja, jika kesini" bisik Arlan.


"Memang nya kenapa?" Tanya gadis itu bingung.


"Badan mu sangat indah, sayang. Hanya menggunakan dress seperti ini pasti banyak mata belang yang mengincar mu" jelas pria itu dengan lembut.


Yaya mengangguk paham, memang semua dress yang dibelikan Arlan sangat cocok dan pas di tubuhnya yang indah, menarik perhatian banyak mata untuk mengagumi nya.


"Besok pakai gamis saja" bisik gadis itu dengan senyum mengembang, membuat tawa Arlan ikut terlepas "kamu menggemaskan, baby"


Cup!


Arlan mengecup pipi gembul gadis itu "besok kita menikah, aku tidak mau tahu!" tekan nya membuat yaya terkikik geli "terserah, tapi... Aku be—"


"Selamat pagi, tuan"


Percakapan mereka berhenti, tangan Arlan yang hendak membuka handle pintu kini menggantung di udara sebab pintu tersebut sudah terbuka lebih dulu dari dalam sana.


keduanya menatap wanita berkacama dengan setelan kemeja ketat juga rok senada diatas lutut itu "pagi, Yura" sahut Arlan formal, "sayang, itu Yura, dia sekretaris ku" ucap Arlan memperkenalkan gadis semok itu pada gadisnya agar yaya tidak berpikiran buruk padanya.


"Sekretaris?" tanya yaya pelan, Arlan mengangguk "ya, dia hanya sekretaris ku di kantor ini" jawab nya dengan gamblang, membuat Yura menunduk hormat.


"Salam kenal, Nona, saya Yura. sekretaris pribadi tuan Roverald"


"Oh, baiklah Yura, salam kenal, aku Ayashya" Sahut gadis itu memperkenalkan diri.


"Calon istri ku" timpal Arlan membuat Yura seketika mematung.


"Lanjutkan pekerjaan mu" titah Arlan kemudian, membuat yura mengangguk patuh dan langsung pergi ke meja kerja nya yang berada di luar ruangan.


"Dia sangat sexy, selera mu bagus, sayang" puji yaya menatap tunangan nya itu dengan tatapan jumawa.


"Hei..." Arlan protes, ia membuka menarik gadis itu masuk ke dalam ruang kerja nya "aku mencari pekerja yang ulet, dan dia lumayan bagus untuk pekerjaan rumit di sini, aku memilih nya bukan karena penampilan, baby"


Yaya mengangguk saja, ia duduk di sofa panjang yang tersedia, tangan gadis itu mengambil sebuah penghapus berbentuk apel di atas meja, ia tersenyum menatap itu.


"Milik mu?" tanya yaya menunjukkan penghapus merah di tangan nya.


Arlan menggeleng "kamu tidak marah padaku 'kan?" tanya pria itu balik.


"kenapa harus marah?"


Arlan menghela napas sejanak, ia mengangkat gadis itu duduk di pangkuan nya seperti biasa, mereka saling berhadapan, dres itu sedikit tersingkap menampilkan paha mulus gadisnya "Jujur padaku, marah atau tidak?" tanya Arlan kali ini dengan sangat serius, ia menatap dalam wajah sang gadis dengan ekspresi yang sulit diartikan.


Yaya menelan Saliva nya susah payah, entah kenapa tiba-tiba ia jadi kelimpungan sendiri ditatap bgegitu oleh calon suami nya "tidak marah, sudah turunkan aku" yaya bergerak minta dilepas, namun Arlan justru menahan nya "jawab yang jujur, baby..."


"Aku sudah jujur, Arlan" dengusnya kesal.


"Kamu mau aku, memecat nya?" tanya Arlan


Yaya melongo seketika, ia menabok dada kekar itu "heh! Jangan, kau butuh dia"


"Aku bisa mencari yang lain, yang ulet fan cekatan bukan hanya dia di dunia ini"


"Jangan, kasihan dia. Lagi pula aku memang tak marah, untuk apa aku marah? Kau aneh!"


Arlan menggeram marah "kamu bilang tidak marah, tapi sedari tadi bibir mu ini enggan memanggilku hubby... kau marah sayang, mengaku saja"


Yaya diam, ia menunduk dalam. Terjadi keheningan beberapa saat, yaya memainkan jemari besar pria itu "yaya hanya kesal sedikit, tadi..." gadis itu mengatur napasnya yang memburu, entah mengapa dadanya tiba-tiba sesak, ingin menangis tapi gengsi, yaya akui dia memang cemburu buta. Tapi, dia ini tunangan Arlan, wajar bukan?


"Lihat sini" pinta Arlan yang langsung dituruti gadis itu.


"Dia hanya sekretaris ku, baby..." jelasnya dengan lembut, yaya mengangguk "aku tahu" jawabnya parau.


Rasa sakit di dada yaya semakin terasa, ia ingin memecahkan tangisnya sekarang juga "Can i kiss you?" ucapnya meminta ijin pada pria itu, Arlan tersenyum cerah "sure baby!" jawabnya semangat.