Good Romance With My Bad Mafia

Good Romance With My Bad Mafia
CHAPTER 41



"Apa Nona sungguh baik-baik saja?"


"Nona, jika memang ada sesuatu, dan jika nona berkenan, cerita lah pada kami, barang kali ada hal yang bisa kami bantu, pasti kami melakukan nya"


Sudah dua hari lamanya yaya merenung sendirian, semenjak perdebatan beberapa hari lalu tentang ajakan menikah Arlan, gadis itu sungguh dijauhi oleh tunangan nya.


Sempat beberapa kali yaya berpapasan dengan pria itu di pagi hari, namun Arlan bersikap acuh seolah dirinya tak ada, bahkan saat yaya menyapa nya, Arlan tidak membalas apapun.


Dua hari itu pula Arlan pulang larut malam, selalu dengan keadaan mabuk dan berhiasi lebam di beberapa bagian tubuh nya. Sungguh yaya sangat khawatir, namun ia tak bisa mendekati Arlan sebab pria itu selalu saja menghindari diri.


"Aku..." yaya menghela napas panjang "aku telah membuat kesalahan" ucapnya lirih.


Nila mengangguk, ia mengelus sayang pundak yaya "Apa nona mau bercerita?"


Yaya menggeleng lemah.


"Tidak apa non, Akan tetapi, jika nona butuh sesuatu, nona bisa mengandalkan kami" Ujar Ani menguatkan yaya.


Gadis cantik itu mengangguk, seketika air mata nya menetes "bisa biarkan aku sendiri?" ucapnya lalu berbaring kembali di kasur.


Ani dan Nila mengangguk, lekas pergi meninggalkan nona mereka yang saat ini ingin sendirian. Entah apa yang telah terjadi, kedua pembantu itu tak tau, namun yang pasti mereka bisa menebak jika Nona mereka sedang ada problem dengan Tuan bos mengerikan mereka itu.


***


Yaya berlari menuju halaman depan, ia menatap gugup pada Arlan yang baru saja turun dari mobil, sekarang pukul sembilan malam, dan Arlan sudah pulang dari kantor nya. Yaya sangat senang, karena hari ini pria itu tak terlambat pulang seperti dua hari sebelum nya.


"Arlan, aku ingin berbicara dengan mu" Ujar yaya saat ia berada persis di hadapan pria itu.


Arlan hanya diam menatap gadisnya yang berani mencegat langkah nya, tampak wajah yaya sangat berbeda, mata membengkak dengan lingkar hitam yang mulai terlihat jelas, pipi gembul nya memerah entah karena apa, dan jangan lupakan tatapan sayu gadis itu.


"Aku sibuk" Tolak nya mentah-mentah. Ia kembali berjalan meninggalkan gadis itu.


"Semarah itu?" gumam yaya menatap lirih punggung tunangan nya.


"Nona" sapa Lan yang baru saja selesai memarkir kan mobil.


Yaya menoleh kaget menatap sosok pria tampan dengan mata sipit tengah berdiri di belakang nya "S-siapa kau?" yaya mundur beberapa langkah menjauhi Lan.


Lan terkekeh dalam hati, Nona nya sangat cantik juga menggemaskan "Perkenalkan, saya Lan, asisten pribadi tuan Roverald, Nona"


Yaya mengangguk paham "Namaku Ayashya, panggil saja ya-"


"Maaf nona, saya tidak bisa. Karena yang berhak memanggil anda dengan sebutan tersebut bos, saya hanya boleh memanggil Nona dengan sebutan Nona"


Yaya mendelik, ia merasa pusing mendengar ucapan belibet Lan barusan "tak apa, Lan? Apa aku bisa bertanya?"


Lan mengangguk cepat "Tentu saja, Nona" jawabnya ramah.


Yaya tersenyum tipis "Selama dua hari ini, apa Arlan makan tepat waktu?" tanya nya


Lan tersenyum "Tuan selalu makan, nona.. Meskipun terkadang Tuan bos melupakan jam makan nya, saya akan selalu mengingatkan"


Yaya mengangguk "terimakasih, Lan. Kalau begitu, sampai jumpa" yaya berlalu meninggalkan pria itu.


Lan hanya tersenyum, ia berjalan menuju kamar pribadi nya.


Sementara di sisi lain, yaya sedang berdiri menatap pintu nuansa coklat gelap yang kini tertutup rapat di hadapan nya


"Apa Arlan marah jika aku masuk?" yaya bertanya pada diri sendiri


Yaya menggelengkan kepala, mengusir segala prasangka buruk nya, ia mengetuk pintu itu tiga kali, merasa tak ada sahutan yaya langsung saja masuk ke dalam sana.


Yaya membelalak menatap Arlan yang tengah berbaring diatas sofa dengan tangan mengapit sepuntung rokok, di meja terdapat berbagai macam jenis alat tulis juga minuman beralkohol yang tinggal setengah isi nya.


Wajah Arlan tampak kacau, tak serapih tadi saat pria itu baru sampai "Arlan..."


Arlan membuka mata nya, pria itu langsung duduk menatap sang pujaan hati, dirinya menatap tajam yaya saat gadis itu berjalan mendekatinya "Diam di sana!" ucapnya


Yaya tersentak saat mendengar suara ketus pria itu, belum apa-apa sudah disentak saja. "Yaya, mau bicara" ucapnya memilih jari-jari menatap gugup sang tunangan.


Arlan mengangkat sebelah alis nya, seolah bertanya apa yang ingin dikatakan gadisnya itu, tangan nya menekan bara puntung ke asbak hingga rokok tersebut padam.


Yaya mendekati pria itu, ia duduk tepat di sebelah Arlan. Agak aneh rasanya, saat pria itu tak bergegas mengangkat badan mungil nya dalam pangkuan itu, yaya jadi sedih.


"Maaf.."


Arlan menyenderkan tubuhnya


pada sofa "Untuk?" tanya nya datar


Yaya menatap pria itu "Arlan marah, karena yaya menolak diajak menikah, maafkan yaya, jangan jauhi yaya seperti ini, Apa Arlan tidak rindukan yaya?"


Yaya yang melihat itu jadi geram sendiri, ia sudah beritikat baik namun pria itu justru mengacuhkan diri "Ya, hanya itu" yaya bangkit dari sofa "yaya pamit" gadis itu bergegas pergi meninggalkan Arlan diruang kerja nya.


***


Yaya menangis lagi di kamar nya, ia menatap cincin pertunangan itu dengan isak pilu, sakit sekali ia merasa di permainkan oleh pria itu.


Saat ia sudah mulai mencintai pria itu, mengapa Arlan melakukan semua ini pada nya?


"Apa aku pergi saja?" lirih nya, ia menggenggam erat handphone yang sedari tadi ia biarkan terletah di hadapan nya.


"No, bisa-bisa Roma terkena masalah"


Yaya mengurungkan niat nya yang ingin menghubungi Roma. Ia takut jika suatu saat Arlan akan berbuat hal gila yang membahayakan orang-orang di sekitar nya, terutama Roma.


"Apa aku kabur saja?" gumam yaya lagi


"Tapi, kemana?"


Yaya mendesah kesal, ia bahkan menjambak rambutnya sendiri, ia benar-benar frustasi berada di posisi saat ini, terkungkung oleh pria gila pemaksa dan kehilangan kendali atas hidup nya sendiri.


Ceklek....


Arlan melotot menatap gadis nya yang sedang menangis sembari menyiksa diri sendiri, ia berlari naik ke kasur itu, memeluk gadis nya dengan erat "Kau gila!?" ia menarik tangan yaya hingga jambakan itu terlepas "Jangan bertingkah konyol! Kau menyakiti dirimu sendiri, yaya! Apa guna nya itu?!"


Yaya menangis saja, ia menggelengkan kepalanya entah bermaksud apa, gadis itu memberontak ingin dilepas, namun Arlan tidak sebanding untuk ia lawan, pelukan pria itu sangat susah ia hindari


"Kau jahat! Kau jahat!" yaya memberontak dengan isak pilu "Jahat! Kau jahat! Pria brengsek! Aku membenci mu! pengecut! Aku membenci mu!!!"


Arlan memejamkan mata, ia merasa sesak saat gadisnya yang biasa lembut kini memaki-maki kasar dirinya "Kenapa!?" bentak pria itu ikut emosi


Yaya menegang, ia tersentak mendengar bentakan kasar pria itu "Kau gila Arlan! Kau gila" ucapnya lirih.


"Sekali lagi kau berucap kasar, akan ku borgol dirimu!"


Yaya tertawa "Ancam saja! Ancam terus aku! MANA BORGOL MU? HAH! SINI BIAR KUPAKAI SENDIRI! Sekalian kau bawa semua senjata mu itu. Bunuh saja aku! brengsek! Bunuh aku!"


"AYASHYA!"


Yaya terdiam, gadis itu menatap tunangan nya dengan bengis "Apa?" tanya nya pelan "Aku lelah Arlan. Terserah mu, aku lelah!" yaya mencoba mengatur napas nya yang sesak, ia memberontak lagi "Lepaskan!"


Arlan mengeratkan rahang nya "Jangan memancing amarah ku, yaya"


Yaya tersenyum getir "baiklah, sesuka mu saja" yaya kemudian diam. Ia benar-benar diam seperti boneka yang tengah di peluk oleh majikan nya.


"I miss you so bad" bisik Arlan tiba-tiba, pria itu menjatuhkan dagu nya di pucuk kepala yaya "aku nyaris gila, karena mu"


Yaya diam, dala hati nya sudah berisi berbagai umpatan kasar yang ditujukan untuk pria itu


"I want you! Coz i love you, really love you"


Yaya tertawa dalam diam "Fu*k you!" seru nya datar


Arlan menggeram marah "ulangi"


Yaya mendorong tubuh pria itu hingga pelukan mereka terlepas "FU*K YOU! I REALLY HATE YOU JERK!"


Usai sudah, yaya sangat kesal dengan semua nya, amarah yang selama ini ia pendam kini telah terlupakan hingga pecah tak terkendali, Arlan yang diperlakukan seperti itu hanya tersenyum, ia menatap gadis nya dalam diam "Satu umpatan, satu nyawa"


"BRENGSEK! Kalau memang begitu! Sini, cekik aku hingga mati" Yaya menarik tangan Arlan ke leher nya "Lakukan! Puaskan diri mu, bunuh aku!"


Arlan menggelengkan kepalanya tak percaya, gadis itu sangat membuat nya kesal "Kau, benar-benar..." Arlan merogoh saku nya, mengambil handphone miliknya lalu menghubungi Lan.


"Bawa dua pembantu gadisku kemari!" titah Arlan dengan tegas, setelahnya pria itu mematikan panggilan secara sepihak


Yaya tertegun, apa barusan? Arlan meminta Lan menghadapkan dua pembantu nya? Apa yang akan Arlan lakukan pada Nila juga Ani?!


"Jangan sentuh mereka! Mereka tak tau apa-apa!" tekan yaya menatap tajam pria itu.


Arlan terkekeh-kekeh "coba lihat dirimu, sayang... Kau bahkan lebih menghawatirkan mereka ketimbang aku? Oh, yang benar saja!" Arlan mengasak kasar rambutnya ke belakang.


Tak berselang lama Lan pun tiba beserta dua pembantu itu, Arlan tersenyum pada gadis nya, ia mengelus pipi yaya sejenak lalu berdiri dari duduknya "Kemari!" Ucap Arlan


Lan mendekat, pria itu menunduk hormat, ia terkejut bukan main saat Arlan tiba-tiba merebut pistol dari celana nya "Tuan?"


Arlan menyeringai "pergilah, kunci ruangan ini" Arlan melempar setumpuk kunci dari saku celana nya pada Lan, yang langsung ditangkap oleh asisten nya itu.


"Saya permisi, Tuan, dan Nona"


"LAN! NO!" Yaya berlari mencoba mencegah, namun gagal