
"Ada apa ini!?" Arlan bergegas keluar dari mobil nya, ia sempat mendengar suara hantuk yang lumayan kencang, saat berada di depan pintu rumah yang dibuka kan oleh asisten nya, Arlan melotot menatap yaya terduduk sambil meringis memegagi lutut nya yang berdarah.
Yaya mendongak menatap Arlan yang berjalan menghampiri nya "Arlan!" pekik nya riang, mengabaikan kaki nya yang berdarah, gadis itu merentangkan tangan nya minta di peluk, namun seketika senyum nya luntur saat Arlan justru berjalan masuk, melewati dirinya.
Yaya menunduk dalam, bahunya sampai ikut merosot "masih marah, ya?" yaya bergumam lirih menatap lututnya yang luka.
"Nona, Mari" Nila dan Ani memapah yaya berdiri, kemudian mereka berjalan pelan menuju sofa terdekat.
"Duduk dulu, Non"
Gadis itu duduk di sofa, masih menunduk menatap luka di lutut nya. Pikiran nya melayang mengingat kejadian tadi, dimana Arlan terlihat acuh padanya padahal yaya sedang terluka.
"Pergi kalian"
Yaya mendongak, menatap si pemilik suara yang baru saja datang mengusir Ani dan Nila.
Arlan duduk di lantai, ia mendongak menatap wajah sedih gadis yang sangat ia rindukan itu. Baru saja ia kembali, dan kini yaya telah kembali membuat nya kesal. Arlan tak suka gadisnya ini terluka!
"Arlan..."
Arlan tak merespon, pria itu membuka kotak p3k yang ia ambil tadi, ia mengobati luka yaya dengan telaten, penuh kelembutan.
"Shh! A-aw, sakit" adu yaya dengan tangan meremat sisi dress yang ia kenakan.
Arlan melirik yaya sekilas "kenapa berlari?! Hm?"
Yaya mengerut kan kening nya, pipi gadis itu mengembung, ia bersidekap dada enggan menjawab.
"Kau tuli?"
Yaya melotot garang menatap pria itu.
Arlan tersenyum saja, ia melihat kaki yaya yang sudah selesai ia obati "kau mendengar ku, tapi tidak menjawab. Apa kau bisu?"
"AKU BERLARI KARENA MU! AKU RINDU PADAMU BODOH!"
Arlan membelalak kaget, ia menatap garang gadis nya, ada rasa kesal namun rasa bahagia nya lebih ketara. Pria itu duduk di sebelah yaya, tanpa disuruh gadis itu berhambur memeluk tubuh kekar Arlan "merindukan ku? Hm?" tanya Arlan pelan, ia memeluk erat tubuh mungil gadis nya, ia senang sekali saat yaya mau mengakui rasa rindu nya terlebih dahulu.
Yaya menangis, gadis itu menggigit dada Arlan hingga sang empu tersentak kaget "hey, jangan begitu, kau menyakiti—"
Arlan tertawa "dasar cengeng!" ledeknya membuat tangis yaya semakin pecah.
"kau jahat! Aku membenci mu! Hiks, kenapa kau jahat sekali!" yaya meracau tak jelas memaki pria itu.
Arlan hanya diam, ia menikmati eratnya pelukan dari sang pujaan hati, selama seminggu lebih ini dia juga sangat merindukan yaya, setiap hari ia memantau kabar gadis itu lewat Reno, dirinya terkadang ikut sedih saat Reno menceritakan betapa suram nya yaya beberapa hari lalu.
Segala nya Arlan ketahui, meski ia tak berada di kota yang sama dengan gadis itu, dia tahu segala yang dikatakan yaya lewat earphone nya, setiap hari ia tersenyum saat yaya menanyakan kepulangan nya pada Reno.
Arlan bahagia, kini harapan nya yang sempat pupus telah kembali, Ia yakin lambat laun yaya pasti akan membalas cinta nya.
"Sudah puas, menangis nya?" tanya Arlan lembut ia mengusap lembut pipi gadis itu seraya tersenyum manis.
Yaya kembali menangis melihat wajah tampan itu, wajah yang ia rindukan, wajah yang terakhir sebelum pergi marah pada nya.
Arlan terkekeh "sudahlah, jangan menangis, nanti kepalamu sakit"
Yaya mengangguk, tangis nya berangsur mereda. Gadis itu naik ke pangkuan Arlan tanpa diminta, membuat Arlan terkejut setengah mati.
"Hiks, yaya mau bobo, hiks di gendong" pinta gadis itu
Yaya nya yang menggemaskan telah kembali!
Arlan tersenyum lebar, dengan senang hati ia menggendong gadis itu ala koala, yaya melingkarkan tangan nya pada leher Arlan, kaki nya turut membelit perut kekar pria itu.
Arlan bahagia sekali! Jantung nya berdebar kencang, kuping nya sekarang sudah memerah merasakan deru napas yaya yang terasa hangat menerpa leher jenjang nya.
"Kau membuatku gila, sayang" Seru Arlan dalam hati.
Pria itu menepuk-nepuk bokong yaya menenangkan gadis itu "kau mengantuk, sayang?" Tanya nya lembut
Yaya mengangguk "Hu'um, yaya hoaam... yaya sayang Arlan" ucap yaya pelan namun terdengar jelas di telinga Si pria. Perlahan matanya pun tertutup.
Arlan memeluk erat yaya dalam gendongan nya "i love you, baby" ucapnya berkali-kali, tak perduli jika yaya tak membalasnya initinya Arlan sangat bahagia kali ini. Penat di tubuhnya langsung lenyap menatap gadis menggemaskan di pelukan nya itu.
"I love you, Ayashya"